Membaca itu merdeka

Menyambut HUT RI yang ke 68. Saya ingin sharing mengenai kehidupan bangsa kita. Sudah sejauh mana saya atau anda mengenal Indonesia? Pertanyaan yang lucu ya? Tidak juga kok. Saya dan anda tinggal di Indonesia apa tahu bagaimana kondisi Indonesia saat ini?

Ada yang menjawab biasa-biasa saja tuh, atau ada yang berkata tidak sejahtera−rakyatnya masih banyak yang miskin, korupsi merajalela. Mungkin ada juga yang menyebut tidak aman karena teroris.
Lalu apa yang sudah anda atau saya lakukan demi bangsa ini?
Jawabannya?
Itu kan tugas pemerintah. Kami hanya rakyat biasa.
Duh, pikiran yang boneka sekali. Maunya hanya digerakkan, dituntun untuk hidup enak dan sejahtera.
Ingat kawan, kita manusia.. dibekali otak. Ada karya, cipta, dan karsa. Jangan jadi manusia malas. Mau disamkan dengan binatang? Nauzubillah.

Sebanyak apa yang saya ketahui dengan memperhatikan orang-orang yang sering mengeluh dan marah terhadap kondisi bangsa ini adalah orang-orang yang hanya pintar bicara dan sukanya bertindak anarkis.sementara, isi hati dan otaknya kosong. Bertindak tanpa tahu dsarnya, bertindak tanpa tahu ilmunya, bukanlah pemuda-pemudi sejati.

Coba berkaca, apa aksi seperti itu bisa merubah kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih baik? Mengancam dan mendemo orang-orang di pemerintahan. Hei, mereka penguasa, mereka punya andil di negera ini. Hanya buang-buang waktu saja jika kita berdebat dengan mereka, sementara kita kosong tak punya apa-apa.

Lalu, bagaimana? Apa kita harus diam saja? Tentu tidak, sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang cerdas, marilah melawan dengan cara sehat. Usia kita jauh lebih muda dari para pemimpin-pemimpin kita di pemerintahaan. cara sehat yang dilakuakn adalah belajar. Coba bayangkan jika kita hanya mampu berdemo dan mencaci di belakang, sementara masa jabatan pemerintah yang sudah tua-tua ini pada akhirnya akan tergeser dan digantikan generasi muda yang baru. Kalau bukan angkatan kita, siapa lagi? mau..yang meneruskannya anak-anak dan cucu-cucu mereka? Yang sudah jelas punya basic pendidikan lebih tinggi dan ilmu yang lebih banyak. Dibandingkan kita yang masih saja skak di tempat. Bagaimana? Sudah sadar apa masih belum?

Saya yakin, seburuk-buruknya orang jahat sekalipun, bodoh sekalipun, pasti ada saatnya berpikir sedikit benar. Maksudnya adalah setiaqp manusia punya hat nurani. Meskipun hanya setitik embun. Jika ada pada masanya seperti itu, berpikirlah, jangan ditinggalkan, ingat-ingat terus. Apa sih sekiranya yang bisa kita lakukan? Pasti ada kok hasrat atau passion jadi orang yang benar/sukses. Dari situlah, pupuk, tidak perlu mahal untuk bisa mewujudkannya, cukup dengan meluangkan waktu untuk membaca. Bacalah buku. Buku yang bermanfaat, bukan buku yang menimbulkan mudharat.
“Malas ah baca buku.”
“Gak suka.”
“Mata sepet.”
“Cepat bikin nagntuk.”
“Gak ngerti dengan isi tulisannya.”
“Buku-buku sekarang mahal.”
Oke Stop!
Saya juga pernah merasakannya dan mengalami hal semacam itu. Apa saya tetap bersikeras untuk membaca? Ya, tentu. Saya masih membaca sampai sekarang, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak baca satu hari saja rasanya aneh, seperti sudah kecanduan baca.
Efeknya membaca itu memang tidak langsung. Tapi, sangat bermanfaat untuk kemudian hari, kemudian hari itu bukan berarti harus bertahun-tahun, tidak kemudian itu bisa beberapa jam setelahnya atau keesokan harinya, pokoknya sangat bermanfaat.
“Oh, ini begini!”
“Saya pernah membaca buku mengenai…”
Ilmu membaca memang akan bermanfaat kelak, seperti saya yang sekarang sudah setahun lebih merasakan perubahannya dan sangat bermanfaat.

Lalu, bagaimana dengan harga buku yang mahal? Jangan jadikan itu alasan. Kalau saya atau anda niat ingin membaca, baca saja, tidak harus bersumber dari buku. Membaca bisa lewat internet dan koran. Bisa juga meminjam buku di perpustakaan atau pinjam ke saudara, tetangga, atau teman. (ingat jangan beli buku bajakan!)

Well, balik lagi ke topik awal bagaiman saya dulu juga tidak gemar membaca, tapi sekarang kacanduan membaca.

Ini berawal dari sebuah ketertarikan dan niat. Tidak usah buru-buru membaca buku-buku fiksi yang kandungan isinya berat. Mulai dengan bacaan sederhana saja. Buku cerita atau novel misalnya…

Biasanya orang-orang kita mudah terpengaruh atau lebih cepat menyerap ilmu kalau dari sebuah dongeng. Novel bisa menjadi alternatif bagus untuk memulai.

Waktu SD, saya sering membaca majalah BOBO. Menginjak SMP, saya baca noel, novelnya pun novel ringan, seperti Lupus kecil dan novel terjemahan anak-anak. Namun, setelah lulus SMp intensitas membaca saya semakin mengendur, di SMA, saya terbilang tidak membaca buku-buku seperti itu sama sekali. Minat membaca saya tumbuh baru setelah lulus SMA.

Saat itu, novel pertama yang saya baca lagi adalah novel bergenre K-iyagi alias Korea, karena saat itu memang sedang booming dan saya termasuk salah satu Kpopers. Dari sering membacanya, saya jadi banyak tahu istilah-istilah Korea, tahu bagaimana penggambaran tokoh, karakter, setting, dan lain sebagainya. Setiap habis dibaca, selalu terbayang-bayang dalam pikiran tentang jalan cerita novel tersebut, otak saya bermain, berimajinasi.
“Asyik ya, jadi si A dalam novel ini. penulis pintar sekali membuat tokoh A hidup. Latar Korea nya juga nyata, saya jadi pengin deh bisa kesana.”
Dari hal sederhana itu saya tergerak untuk berubah. Bangkit… bangkit.. sedikit… sedikit…

Dalam novel selanjutnya yang membuat saya terinspirasi adalah novel-novel ppuler yang inspiratif, diselipi genre romance membuat novel yang saya baca semakin menarik. Dari situlah saya tergugah, ternyata untuk mencapai cita-cita si tokoh mengalami jatuh bangun, kisah cintanya pun tidak mudah. Saya ingin menjadi seperti dia yang tegar dan ulet, kemudian bisa menggapai cita-citanya, passionnya. Dan akhirnya, dari banyaknya buku yang saya baca, gaya tulisan/bahasanya jadi mudah untuk dicerna. Saya jadi punya banyak kosakata baru.

Waktu itu saya pernah nekat membeli novel terjemahan langsung sepuluh buku (saat itu sedang diskon gede). Padahal novel lokal bacaan saya masih sedikit sekali dan terbilang tidak berbobot. Sampai akhirnya saya baca novel terjemahan untuk pertama kalinya, sudah keren dibawa-bawa, eh… baru halaman pertama saja saya tidak mengerti dengan tulisannya. LOL

Tulisannya terlalu berat (menurut saya waktu itu). hampir satu tahun saya tidak memgang novel itu karena saya membaca novel-novel lain alhamdulillah novel-novel yang saya punya seperti air disungai, mengalir terus menerus. Meski ada saatnya juga sih surut. XD

Setekah saya sudah cukup banyak membaca buku, kembalilah saya pada buku tersebut. Subhanallah, otak saya bisa menerima buku tersebut. Saya bisa mengerti dengan jelas isi kandungan novel tersebut. Percayakan bahwa bisa itu karena terbiasa…

Dari membaca pula saya jadi ahu passion saya. Tahu kan passion? Passion itu hasrat atau keinginan yang ada dalam diri kita yang ingin kita wujudkan dengan segenap hati tanpa takut untuk mencoba, dan dengan sepenuh hati menjalankannya.

Dari banyak membaca saya ingin bisa menulis buku sendiri. menulis apa yang selama ini belum saya temukan atau saya belum puas dengan buku-buku yang sudah saya baca. Saya ingin menelurkan ide, sharing dengan semua orang.

Dan…
Semakin dalam, semakin saya banyak membaca buku dan tahu akan dunia global dan bangsa kita tentunya.
Saya menjadi tertarik untuk mempelajari ekonomi globalisasi. Ekonomi yang pada dasarnya adalah ilmu yang selalu terpakai dan terus-menerus ada dalam kehidupan kita. Jadi, saya ingin sekali lebih jauh menegnal ekonomi globalisasi, meskipun sudah pernah dipelajari di bangku kuliah. Tapi, terus terang saya lebih berminat untuk mepelajarinya sendiri. mempelajarinya dari buku. Buku yang murni tentang ilmu ekonomi, bukan buku education yang menjual soal dan materi yang singkat dan kurang jelas.

Alhamdulillah saya bersyukur memilki hasrat seperti ini. dari buku yang saya baca saat SMA, perilaku kita dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Dari teori ini saya hanya bisa mengambil kesimpulan sesuai dengan fakta saya, lingkungan yang saya tempati, di rumah terutama di kampus, tidak ada yang hobi membaca. Saya juga sangat bersyukur karena tidak mudah terpengaruh dengan teman-teman di kampus atau di luar itu. saya punya line sendiri.

Lalu, faktor apa yang bisa membawa saya pada buku? Mindset saya sendiri, pola pikir saya dalam memandang atau melihat sesuatu. Apa yang saya tonton di tv, apa yang saya lihat di internet. Itu yang paling dominan yang membuat saya ke dalam perubahan positif. Pertama, dari tv yang saya tonton misalnya, berita, karena ayah saya yang suka menonton siaran berita. Kedua, internet (awalnya hanya ingin tahu mengenai artis korea) lalu menjalar ke hal-hal lain, seperti artikel-artikel yang memilki sisi positif.

Sekali lagi, perlu kebiasaan. Kebiasaan yanhg membuat saya bisa sadar dan mau berubah. Dan akhirnya bisa membawa saya menjadi cinta membaca.

Blog Buku Indonesia salah satunya yang membuat saya semakin cinta membaca dan mengenal dan melihat banyak orang yang sama-sama suka gemar membaca buku dengan genre yang beraneka ragam.

Mengenai ekonomi globalisasi sendiri, saya masih belum mendalami ilmunya, saya harus banyak membaca agar bisa sharing juga dengan anda semua dan tentunya bermanfaat untuk bangsa ini. Ikut membangun negeri bersama generasi muda lainnya.

Apa anda tertarik untuk duduk bersama generasi muda ini. ayo mulai dari sekarang Gerakan Indonesia Membaca!

Semoga semangat Kemerdekaan RI bisa melekat dalam diri untuk membangun negeri ini bersama-sama. Kalau nukan kita, siapa lagi?

HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA!

Advertisements