Membaca itu merdeka

Menyambut HUT RI yang ke 68. Saya ingin sharing mengenai kehidupan bangsa kita. Sudah sejauh mana saya atau anda mengenal Indonesia? Pertanyaan yang lucu ya? Tidak juga kok. Saya dan anda tinggal di Indonesia apa tahu bagaimana kondisi Indonesia saat ini?

Ada yang menjawab biasa-biasa saja tuh, atau ada yang berkata tidak sejahtera−rakyatnya masih banyak yang miskin, korupsi merajalela. Mungkin ada juga yang menyebut tidak aman karena teroris.
Lalu apa yang sudah anda atau saya lakukan demi bangsa ini?
Jawabannya?
Itu kan tugas pemerintah. Kami hanya rakyat biasa.
Duh, pikiran yang boneka sekali. Maunya hanya digerakkan, dituntun untuk hidup enak dan sejahtera.
Ingat kawan, kita manusia.. dibekali otak. Ada karya, cipta, dan karsa. Jangan jadi manusia malas. Mau disamkan dengan binatang? Nauzubillah.

Sebanyak apa yang saya ketahui dengan memperhatikan orang-orang yang sering mengeluh dan marah terhadap kondisi bangsa ini adalah orang-orang yang hanya pintar bicara dan sukanya bertindak anarkis.sementara, isi hati dan otaknya kosong. Bertindak tanpa tahu dsarnya, bertindak tanpa tahu ilmunya, bukanlah pemuda-pemudi sejati.

Coba berkaca, apa aksi seperti itu bisa merubah kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih baik? Mengancam dan mendemo orang-orang di pemerintahan. Hei, mereka penguasa, mereka punya andil di negera ini. Hanya buang-buang waktu saja jika kita berdebat dengan mereka, sementara kita kosong tak punya apa-apa.

Lalu, bagaimana? Apa kita harus diam saja? Tentu tidak, sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang cerdas, marilah melawan dengan cara sehat. Usia kita jauh lebih muda dari para pemimpin-pemimpin kita di pemerintahaan. cara sehat yang dilakuakn adalah belajar. Coba bayangkan jika kita hanya mampu berdemo dan mencaci di belakang, sementara masa jabatan pemerintah yang sudah tua-tua ini pada akhirnya akan tergeser dan digantikan generasi muda yang baru. Kalau bukan angkatan kita, siapa lagi? mau..yang meneruskannya anak-anak dan cucu-cucu mereka? Yang sudah jelas punya basic pendidikan lebih tinggi dan ilmu yang lebih banyak. Dibandingkan kita yang masih saja skak di tempat. Bagaimana? Sudah sadar apa masih belum?

Saya yakin, seburuk-buruknya orang jahat sekalipun, bodoh sekalipun, pasti ada saatnya berpikir sedikit benar. Maksudnya adalah setiaqp manusia punya hat nurani. Meskipun hanya setitik embun. Jika ada pada masanya seperti itu, berpikirlah, jangan ditinggalkan, ingat-ingat terus. Apa sih sekiranya yang bisa kita lakukan? Pasti ada kok hasrat atau passion jadi orang yang benar/sukses. Dari situlah, pupuk, tidak perlu mahal untuk bisa mewujudkannya, cukup dengan meluangkan waktu untuk membaca. Bacalah buku. Buku yang bermanfaat, bukan buku yang menimbulkan mudharat.
“Malas ah baca buku.”
“Gak suka.”
“Mata sepet.”
“Cepat bikin nagntuk.”
“Gak ngerti dengan isi tulisannya.”
“Buku-buku sekarang mahal.”
Oke Stop!
Saya juga pernah merasakannya dan mengalami hal semacam itu. Apa saya tetap bersikeras untuk membaca? Ya, tentu. Saya masih membaca sampai sekarang, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak baca satu hari saja rasanya aneh, seperti sudah kecanduan baca.
Efeknya membaca itu memang tidak langsung. Tapi, sangat bermanfaat untuk kemudian hari, kemudian hari itu bukan berarti harus bertahun-tahun, tidak kemudian itu bisa beberapa jam setelahnya atau keesokan harinya, pokoknya sangat bermanfaat.
“Oh, ini begini!”
“Saya pernah membaca buku mengenai…”
Ilmu membaca memang akan bermanfaat kelak, seperti saya yang sekarang sudah setahun lebih merasakan perubahannya dan sangat bermanfaat.

Lalu, bagaimana dengan harga buku yang mahal? Jangan jadikan itu alasan. Kalau saya atau anda niat ingin membaca, baca saja, tidak harus bersumber dari buku. Membaca bisa lewat internet dan koran. Bisa juga meminjam buku di perpustakaan atau pinjam ke saudara, tetangga, atau teman. (ingat jangan beli buku bajakan!)

Well, balik lagi ke topik awal bagaiman saya dulu juga tidak gemar membaca, tapi sekarang kacanduan membaca.

Ini berawal dari sebuah ketertarikan dan niat. Tidak usah buru-buru membaca buku-buku fiksi yang kandungan isinya berat. Mulai dengan bacaan sederhana saja. Buku cerita atau novel misalnya…

Biasanya orang-orang kita mudah terpengaruh atau lebih cepat menyerap ilmu kalau dari sebuah dongeng. Novel bisa menjadi alternatif bagus untuk memulai.

Waktu SD, saya sering membaca majalah BOBO. Menginjak SMP, saya baca noel, novelnya pun novel ringan, seperti Lupus kecil dan novel terjemahan anak-anak. Namun, setelah lulus SMp intensitas membaca saya semakin mengendur, di SMA, saya terbilang tidak membaca buku-buku seperti itu sama sekali. Minat membaca saya tumbuh baru setelah lulus SMA.

Saat itu, novel pertama yang saya baca lagi adalah novel bergenre K-iyagi alias Korea, karena saat itu memang sedang booming dan saya termasuk salah satu Kpopers. Dari sering membacanya, saya jadi banyak tahu istilah-istilah Korea, tahu bagaimana penggambaran tokoh, karakter, setting, dan lain sebagainya. Setiap habis dibaca, selalu terbayang-bayang dalam pikiran tentang jalan cerita novel tersebut, otak saya bermain, berimajinasi.
“Asyik ya, jadi si A dalam novel ini. penulis pintar sekali membuat tokoh A hidup. Latar Korea nya juga nyata, saya jadi pengin deh bisa kesana.”
Dari hal sederhana itu saya tergerak untuk berubah. Bangkit… bangkit.. sedikit… sedikit…

Dalam novel selanjutnya yang membuat saya terinspirasi adalah novel-novel ppuler yang inspiratif, diselipi genre romance membuat novel yang saya baca semakin menarik. Dari situlah saya tergugah, ternyata untuk mencapai cita-cita si tokoh mengalami jatuh bangun, kisah cintanya pun tidak mudah. Saya ingin menjadi seperti dia yang tegar dan ulet, kemudian bisa menggapai cita-citanya, passionnya. Dan akhirnya, dari banyaknya buku yang saya baca, gaya tulisan/bahasanya jadi mudah untuk dicerna. Saya jadi punya banyak kosakata baru.

Waktu itu saya pernah nekat membeli novel terjemahan langsung sepuluh buku (saat itu sedang diskon gede). Padahal novel lokal bacaan saya masih sedikit sekali dan terbilang tidak berbobot. Sampai akhirnya saya baca novel terjemahan untuk pertama kalinya, sudah keren dibawa-bawa, eh… baru halaman pertama saja saya tidak mengerti dengan tulisannya. LOL

Tulisannya terlalu berat (menurut saya waktu itu). hampir satu tahun saya tidak memgang novel itu karena saya membaca novel-novel lain alhamdulillah novel-novel yang saya punya seperti air disungai, mengalir terus menerus. Meski ada saatnya juga sih surut. XD

Setekah saya sudah cukup banyak membaca buku, kembalilah saya pada buku tersebut. Subhanallah, otak saya bisa menerima buku tersebut. Saya bisa mengerti dengan jelas isi kandungan novel tersebut. Percayakan bahwa bisa itu karena terbiasa…

Dari membaca pula saya jadi ahu passion saya. Tahu kan passion? Passion itu hasrat atau keinginan yang ada dalam diri kita yang ingin kita wujudkan dengan segenap hati tanpa takut untuk mencoba, dan dengan sepenuh hati menjalankannya.

Dari banyak membaca saya ingin bisa menulis buku sendiri. menulis apa yang selama ini belum saya temukan atau saya belum puas dengan buku-buku yang sudah saya baca. Saya ingin menelurkan ide, sharing dengan semua orang.

Dan…
Semakin dalam, semakin saya banyak membaca buku dan tahu akan dunia global dan bangsa kita tentunya.
Saya menjadi tertarik untuk mempelajari ekonomi globalisasi. Ekonomi yang pada dasarnya adalah ilmu yang selalu terpakai dan terus-menerus ada dalam kehidupan kita. Jadi, saya ingin sekali lebih jauh menegnal ekonomi globalisasi, meskipun sudah pernah dipelajari di bangku kuliah. Tapi, terus terang saya lebih berminat untuk mepelajarinya sendiri. mempelajarinya dari buku. Buku yang murni tentang ilmu ekonomi, bukan buku education yang menjual soal dan materi yang singkat dan kurang jelas.

Alhamdulillah saya bersyukur memilki hasrat seperti ini. dari buku yang saya baca saat SMA, perilaku kita dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Dari teori ini saya hanya bisa mengambil kesimpulan sesuai dengan fakta saya, lingkungan yang saya tempati, di rumah terutama di kampus, tidak ada yang hobi membaca. Saya juga sangat bersyukur karena tidak mudah terpengaruh dengan teman-teman di kampus atau di luar itu. saya punya line sendiri.

Lalu, faktor apa yang bisa membawa saya pada buku? Mindset saya sendiri, pola pikir saya dalam memandang atau melihat sesuatu. Apa yang saya tonton di tv, apa yang saya lihat di internet. Itu yang paling dominan yang membuat saya ke dalam perubahan positif. Pertama, dari tv yang saya tonton misalnya, berita, karena ayah saya yang suka menonton siaran berita. Kedua, internet (awalnya hanya ingin tahu mengenai artis korea) lalu menjalar ke hal-hal lain, seperti artikel-artikel yang memilki sisi positif.

Sekali lagi, perlu kebiasaan. Kebiasaan yanhg membuat saya bisa sadar dan mau berubah. Dan akhirnya bisa membawa saya menjadi cinta membaca.

Blog Buku Indonesia salah satunya yang membuat saya semakin cinta membaca dan mengenal dan melihat banyak orang yang sama-sama suka gemar membaca buku dengan genre yang beraneka ragam.

Mengenai ekonomi globalisasi sendiri, saya masih belum mendalami ilmunya, saya harus banyak membaca agar bisa sharing juga dengan anda semua dan tentunya bermanfaat untuk bangsa ini. Ikut membangun negeri bersama generasi muda lainnya.

Apa anda tertarik untuk duduk bersama generasi muda ini. ayo mulai dari sekarang Gerakan Indonesia Membaca!

Semoga semangat Kemerdekaan RI bisa melekat dalam diri untuk membangun negeri ini bersama-sama. Kalau nukan kita, siapa lagi?

HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA!

Tamu Kehormatan 12/08/2013

Di hari libur yang setelah lebaran berkumpul dengan keluarga adalah momen yang membahagiakan. Bapak, Ibu, abang, teteh, dan ponakanku yang unyu masih berusia tiga belas bulan—memberikan keceriaan tersendiri bagi dalam keluargaku.
Benar kata lagu keluarga cemara, istana yang paling indah adalah keluarga. Dengan stay di rumah saja rasanya sperti surga. Namun, tentu saja aku berharap kami sekeluarga bisa menikmati liburan di luar rumah, pasti akan lebih menyenangkan dengan suasana baru.

Menjelang senja, suara shalawat, kemudian disusul adzan maghrib berkumandang. Aku beserta keluarga dikejutkan oleh kedatangan saudara dari Balaraja. Namanya Engkus. Dia sepupuku. Usianya lebih tua dari abangku, meskipun terpaut sangat jauh tapi mereka berdua cukup akrab.

Saat itu aku sedang mengambil air wudhu, abangku juga tidak ada di rumah−sedang keluar. Terdengar olehku yang menyambut di depan rumah adalah kedua orangtuaku dan teteh.

Setelah selesai shalat maghrib, aku terkejut karena sepupuku itu tidak sendirian, tetapi dia datang bersama teman-temannya sebanyak sebelas orang. Wow

Tak ada kabar apa-apa seblelumnya kalau sepukuku itu mau datang. Rumah pun seperti dihantam meteor saja. Rumah mendadak jadi ramai, apalagi dengan vespa yang terparkir di depan rumah. Sepupuku bersama teman-temannya berkonvoi memakai itu. wah…wah

Yang paling sibuk adalah ibuku, beliau jadi koki dadakan, memasak nasi dan lauknya dalam porsi besar hanya dalam waktu singkat, dibantu olehku sedikit-sedikit. hee

Syukurlah abangku sudah pulang, jadi kang Engkus dan kawan-kawan pun punya teman untuk mengobrol, masalah anak muda xoxo

Tepat pukul delapan sepupuku pamit untuk pulang. Loh… ku kira mereka akan menginap sampai besok baru melanjutkan perjalanan, ternyata tidak. Mendengar ceritanya memang target sudah ditentukan, mulai dari lokasi hingga waktu. Start dari Balaraja lalu berputar lewat Bandung, kemudian ke Tasikmalaya untuk ziarah di Pamijahan, baru ke Kuningan (rumahku di Caracas), setelah itu ke Cirebon untuk ziarah di sunan gunung jati. Mereka menargetkan ingin sampai Tanggerang pukul tiga dini hari.
Wah wah… apa mereka tidak capek ya? mungkin sudah terbiasa, berkonvoi untuk keliling kota ya..
Bayangkan saja lama perjalanan menggunakan vespa itu hingga kemari terhitung hampir tiga hari. Mungkin karena kondisi macet juga karena arus mudik.

Sungguh luar biasa ya… travelling yang unik dan merkayat sekali. Tidak perlu bermewah-mewah dengan mobil bagus atau naik pesawat terbang. Bermodalkan vespa saja bisa sampai tujuan, yang penting dengan selamat dan tujuannya baik. Alhamdulillah…

Sebelum pulang kita berfoto-foto dulu *sayangnya ada di kamera SLR abang, belum sempat dipindahkan ke pc*

Reuni


Rasanya baru kemarin seragam putih abu melekat di badan.
Rasanya baru krin duduk di kursi dan menopang kedua tangan di meja dari pagi hingga siang.
Rasanya baru kemarin berkutat dengan buku tulis dan LKS.
Rasanya baru kemarin dididik seorang guru.
Rasanya baru krin berkawan dengan teman sekelas dan seluruh murid sekolah.
Ya, Sekolah Menengah Atas.
Banyak sekali kenangan yang indah dibandingkan perasaan gundah.

Aku meninggalkan bangku SMA di tahun 2009. Seperti baru kemarin saja, nyatanya sudah empat tahun yang lalu. Perasaan rind iu sangatlah meletup-letup bagai bongkahan arang dalam api yang menyala-nyala. Dapat mereda jika bertemu air.
Seperti hari minggu kemarin, tanggal 11/08/2013. Rencana yng sudah disepakati sebelumnya lewat whatsapp x-5 community. Kami berencana untuk mengadakan reuni, meski ganya bersifat main (tidak seformal reuni yang kompak dan hadir semua) karena hanya beberapa yang bisa ikut.
Berenam termasuk aku. Meski hanya berenam tapi suasana menyenangkan tetap terasa. Dimulai pukul sebelas siang kami bertemu di rumah Yati di Nanggerang.

Obrolan ringan, candaan dan tawa saat mengenang masa-masa kelas sepuluh SMA. Mengabsen siapa saja yang diingat, “sekarang dia dimana ya?” “dia sekarang begini ya” “dulu dia begini” “siapa yang sudah menikah lebih dulu” “kulaih atau kerja dimana sekarang”.

Kami menceritakan pengalaman masing-masing selama empat tahun terakhir tidak bertemu, “banyak hal-hal yang terduga atau bahkan tidak terduga. Tak ada yang banyak berubah atau sebenarnya banyak yang berubah. Tapi setidaknya kami berenam bisa berkumpul disini, menguatkan bukti kami tidak sepenuhnya berubah (ada ingatan bahwa kita semua berkawan). Rasanya tak ada yang lebih indah selain berkumpul seperti ini dengan teman-teman SMA. Rasanya igin seperti ini terus, berkumpul dengan mereka, bermain dan belajar bersama mereka seperti saat SMA dulu.

Namun, masa lalu tidak mungkin terulang, yang ada hanya melanjutkan dan atau memperbaharui.
Mendengar cerita Yati, Putri, dan Umi yang sudah bekerja. Atau Euis yang sudah selesai sidang dan bulan ini segera wisuda. Lalu Gea yang masih kuliah sama.sepertiku–membuat aku sendiri menggebu-gebu ingin cepat-cepat meraih cita-cita dan kesuksesan. Meskipun aku masih duduk di bangku kuliah karena mengambil angkatan 2010 lantaran keluar daei kampus lama. Tapi, itu semua tidak menyurutkanku untuk berhenti berharap. Masih kuliah bukan berarti tidak bisa bekerja atau menggapai cita-cita.Tak perlu harus menunggu lulus, jika aku mau dan yakin bisa, aku pasti bisa mencapai impianku.

Semoga reuni ini menjadi cikal ada reuni selanjutnya, entah tahun depan atau mugkin dalam dekat ini lagi…
Yang terpenting jangan sampai hilang komunikasi… Ingat hal-hal baik saat bersama-sama mereka, bahwasannya hidup tidak akaan pernah lepas dari ketergantungan, termasuk ketergantungan teman (silaturahmi). Karena tanpa itu kita bukan siapa-siapa di bumi ini.
Silaturahmi memang menyehatkan, memperpanjang umur dan rejeki 🙂
Semoga tali silaturahmi kita tidak pernah terputus meski dibentangkan jarak yang jauh. Aamiin 🙂

Cara saya mengisi waktu liburan

tumblr_mp0p2iRbLI1rjzbk4o1_500

Haii, minna-san!
Kali ini saya kembali ingin share about cara saya..
Berhubung sedang liburan, jadi saya posting mengenai kegiatan apa saja sih yang dilakuin selama liburan. Apalagi libur akhir semester sampai lebaran.

Tahun lalu liburan saya agak terganggu karena jadi panitia OSPEK. Tapi, saat itu saya masih bisa baca beberapa novel sih. Kalau untuk belajar bahasa inggris dan korea masih belum bisa dirampungin. Apalagi nulis -_-

Sebaliknya, tahun ini saya lebih banyak free time. Jadi, waktu untuk baca, nulis, nonton, belajar bahasa inggris dan korea (hangul) bisa dilaksanakan semua. Malahan, kali ini bertambah satu bahasa yang saya pelajari, yaitu jepang (dengan huruf katakana, hiragana, dan kanji) fuuuuh

Selain itu, liburan kali ini saya juga bisa puas bloging, entah itu posting di blog buku ataupun blog freedom ini. Bahkan, bacaanku juga sekarang nambah banyak. Tahun ini saja reading challenge 2013 saya targetnya 50 buku, ditambah event reading challenge yang digelar beberapa blogger BBI yang saya ikuti. Contohnya seperti master post yang ada diblog buku saya ini dan ini.

Sekarang pun, waktu sketching saya lebih banyak. Karena biasanya kalau saya jenuh dan malas untuk menulis, membaca, blogging, belajar multilingual language, saya akan menggambar. Kalau sudah menggambar itu rasanya perasaan lega banget, unek-unek lepas, kepenatan otak tersalurkan 😀

Yak, inilah buku sketsa saya, yang selama ini selalu menemani^^

Boring banget dong di rumah terus?
Enggak kok. Saya juga suka pergi main keluar. Entah itu cuma ke rumah teman dekat, tetangga rumah, atau hunting buku dan shopping ke mall. Kalau ada budget gede bisa liburan keluar kota (travelling) /tsah.

Gimana cara bagi waktunya tuh? Padat banget, jadwalnya melebihi artis.
Hi-hi. Kata siapa padet. Nyantai kok. Nah, lagi-lagi saya tekankan nih.. yang namanya pekerjaan didasarkan hobby jatuhnya jadi asyik, serius!! Makanya, coba deh cari passion mu. Biar hidup juga gak disia-siain untuk hal yang sebenarnya gak kita suka. Be yourself!!

Nah, segitu sih cara saya berlibur. Produktifkan? Dan karena hobby, ngejalaninnya juga enjoy 😀

Jangan segan buat komen ya 😉

(cr photo: imgfave)

Semangat Anti Bullying

1753_10201672804210170_1237928492_n
Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Di kelas, aku orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pandai, tidak juga terlalu bodoh. Teman sekelasku yang bernama Mimin duduk di sebelah kiri bangkuku. Dia duduk sendirian, sementara yang lain punya teman sebangku. Kesanku hanya dengan sekilas melihatnya saja dia orang yang pendiam, pendiam karena apa… sepertinya karena tidak ada yang mau jadi temannya. Secara fisik, Mimin memang tidak se-oke yang lain, tidak cantik, tidak juga putih. Kulitnya yang ‘maaf’ seperti bekas habis terbakar membuat penampilannya di mata yang lain tidak sepadan. Untuk masalah ini aku sendiri juga sebenarnya belum pernah menanyakan langsung padanya. Ditambah lagi pakaiannya yang sedikit kumal, sepatu dan tas yang tidak bermerek. Rambutnya yang tergerai sebahu tampak tidak disisir.

Hari itu, aku mendapati bagaimana perilaku teman sekelasku yang lain padanya yang tampak jelas mengintimidasi. Nourma, murid paling pintar di kelas, selain diunggulkan di setiap mata pelajaran, dia juga diunggulkan soal penampilan. Cantik dan berkulit bersih, hidungnya mancung seperti orang indo.

Saat itu guru Matematikaku, Pak Sumarno memberikan soal Matematika yang sulit sebagai latihan untuk UAN nanti. Pak Sumarno yang melihat Mimin seperti tidak mengerti, menyuruh Nourma yang duduk di depan Mimin untuk membantu mengajarkannya soal yang sulit.
Saat jam istirahat, aku ada di kelas bersama ketiga sahabatku. Aku melihat Nourma sedang mengajarkan soal pada Mimin. Awalnya aku sangat salut bagaimana murid teladan di kelas seperti Nourma punya sikap yang baik membantu Mimin. Tapi, begitu aku melihat caranya mengajarkan, aku cukup terkejut.
“Duh, Miiiiin… masa kayak gini aja gak bisa sih? Begini nih!” Nourma menarik bukunya kasar.
Bisa kupastikan, Mimin tidak akan mengerti jika Nourma mengajarkannya seperti itu. Yang ada mungkin hanya rasa tertekan bahwa dia tidak bisa.
Dalam benak, aku berpikir, bagaimana cara dia bisa bertahan tiga tahun di sekolah tanpa teman ya, dan saat ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Karena di kelas, nilainya yang paling rendah.

Aku seperti bisa menyelami apa yang dirasakan Mimin.
Saat SD, aku pernah dibully oleh teman sekelas. Diantaranya ada yang suka mengolok-olokku dengan sebutan patung, ada juga yang menyebutku ekor, karena hanya bisa mengikuti satu temanku tanpa bisa bergaul dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, aku pernah sampai dipalak. Uang jajanku diambil semua. Aku hanya bisa menangis waktu itu.
Di kelas 3 SMP ini, seperti dejavu. Bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dengan pembully lagi. Dan kira-kira sebelum pembullyan yang dialami oleh Mimin terjadi, aku pernah mengalaminya juga. Tapi, bukan oleh Nourma atau murid-murid perempuan yang lain. Secara sosial hubunganku dengan teman-teman perempuan sangat baik. Namun, berbeda dengan murid laki-laki, aku harus berurusan dengan Heru dan Yopi, murid laki-laki yang paling punya kuasa di kelas.
Ketika aku sedang menulis di papan tulis karena aku ditunjuk sebagai sekretaris kelas, Yopi mengolok-olokku dari bangkunya.
“Nulis apaan sih, gak jelas.”
“Gambar apaan tuh? Setrikaan? Hahaha.”
Dan begitu seterusnya setiap kali aku menulis di papan tulis. Hingga entah sejak kapan aku memendam rasa kesal ini, aku seperti air soda dalam botol yang ditutup rapat sangat kencang dan tertekan. Sering dikocok hingga saatnya reaksi udara dalam botol itu tak bisa lagi ditampung. Duaaaarrrrr. Tutup botol terbuka dan memental sangat jauh. Seperti yang terjadi padaku saat itu, aku memegang kapur tulis sangat kencang dan… Pletak! Aku melemparkannya tepat sasaran, mengarah ke bangku Yopi dan Heru tempati. Tawa mereka seketika lenyap begitu saja.

Yah, bagiku sekarang mudah untuk membalas aksi pembullyan karena pengalaman 6 tahun di SD, hingga cukup tegar dan kuat menghadapi pembully.
Aku merasa ingin mentransfer seluruh energiku pada Mimin agar dia juga bisa berani sepertiku sekarang.
Yopi kali ini tidak berani membullyku lagi. Entah sejak kapan, dia malah membaik-baikkan aku, seperti, “Boleh minta tolong, namain LKS ku. Tulisan kamu rapih banget!”
“Huh!” Seperti baru sadar saja kalau memang tulisanku bagus. Buat apa aku dipilih jadi sekretaris coba?
Yah, secara tidak langsung pembullyan itu sangat menekan psikologis orang yang dibully. Bagi pembully mungkin hal-hal semacam itu sangat menyenangkannya, tidak ada rasa menyesal apalagi bersalah. Seakan si pembully itu orang yang paling merasa benar dan menginginkan kebenarannya itu dilihat semua orang, diperhatikan semua orang, disanjung semua orang. Tanpa memikirkan perasaan orang yang dibully itu tertekan.
Korban bully jadi merasa tidak percaya diri, dia membentuk bangunan rasa bahwa dia orang yang tidak diinginkan, hingga perasaan takut, malu, dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Bagaimana dia takut untuk menghadapi banyak orang, dunia sosial, disaat semua orang seperti itu terhadapnya, seperti mengutukinya dan memperhatikannya, dan salah-salah ketahuan, ya…diolok. Orang pendiam memang banyak jadi objek sasaran empuk bagi para pembully. Rasa seperti itu sangat menyakitkan. Bahkan di negeri ginseng saja, korban bully bisa mati bunuh diri saking tertekannya.

STOP BULLYING! Entah itu secara fisik maupun psikis. Kalau tidak mau keluarga, saudara, sahabat, atau orang yang anda cintai mengalami hal demikian, tolong mulai dari diri sendiri untuk menghargai orang lain. Jangan memandang secara fisik maupun sosial. Semua orang punya hak untuk hidup di dunia ini kan. Bagaimana Hak Asasi Manusia itu ada. Semua ini dasar bagaimana kita menciptakan kehidupan yang selaras membangun negeri dan melindungi dunia.

Terima Kasih banyak yang sudah membaca cerita singkatku mengenai Gerakan Anti Bullying. Buat temanku, maaf ya namanya dipakai, aku tahu kalian pasti sudah berubah. Masa-masa sekolah memang tidak lepas dari pencarian jati diri yang terkadang menimbulkan sifat kekanak-kanakan. Semoga cerita dari pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran, bahwa bullying itu sangat merugikan. Sekali lagi, semangat anti bullying!!! ^O^/