FF: Feelings Evaporate

tumblr_llc4hb30Sd1qjck12o1_500
Main Cast:
– Kotoko Aihara
– Naoki Irie
Other Cast:
– Yuuki Irie (Naoki’s younger brother)
– Machiko Irie (Naoki’s mother)
– Kinnosuke Ikezawa
– Reiko Matsumoto/ Yuko
– Takendo Nakagawa

“Ohayou! Kotoko,” sapa seseorang menghampiri meja Kotoko.
“Ohayou!” balas Kotoko ceria setelah menaruh lemon tea hangat di meja. Pagi-pagi sekali tanpa sempat sarapan di rumah, Kotoko langsung melesat pergi ke cafeteria kampus, tempat yang sekarang sedang di dudukinya sendirian.
“Boleh aku duduk?”
Kotoko mengangguk mantap sambil menyunggingkan senyum terbaiknya. “Kau sudah sarapan belum?”
“Belum,” geleng Takendo lalu nyengir.
Masih dengan mempertahankan senyumnya, Kotoko melambai ke arah Kin-chan. Dengan sigap Kin-chan menghampiri. Bukan karena ia senang, lebih karena ia tidak suka melihat Kotoko dengan pria lain di pagi buta seperti ini.
“Kotoko, dia siapa?” tanya Kin-chan tanpa basa-basi.
“A, dia temanku. Kenalkan Takendo Nakagawa. Takendo, ini sahabatku Kin-chan,” jawabnya sambil nyengir.
“Senang berkenalan,” kata Takendo ramah. Kin-chan tampak tak berminat membalas, ia memalingkan wajahnya dan beralih memandang Kotoko. Selama beberapa detik mereka saling terdiam. Seperti sudah membaca pikiran Kin-chan, Kotoko mencoba menyairkan suasana, namun langsung terpotong oleh Kin-chan.
“Kau sudah menyerah pada Irie-kun? Lalu berpaling pada laki-laki seperti ini!” keluhnya. “Apa kau tidak melihat−?”
“Kin-chan!” potong Kotoko cepat. Hening sejenak, lalu bolak-balik menukar pandangan diantara kedua laki-laki yang ada dihadapannya itu. Belum cukup dengan kegundahannya tersebut, tahu-tahu datang seorang lagi yang menurutnya justru pemenang diantara kedua laki-laki yang ada di dekatnya sekarang.
“Irie-kun!” gumam Kotoko, matanya tak berkedip saat Naoki sedang berjalan masuk ke cafetaria, lalu duduk tidak jauh dari tempatnya. Kin-chan dan Takendo saling memandang, lalu beberangen memalingkan muka.
“Kotoko,” seru suara Takendo yang begitu menggema. Bagai berhadapan dengan api unggun, tangan dingin Kotoko terasa hangat, bola matanya berputar ke atas meja, mendapati tangannya yang disentuh lembut oleh Takendo. Mata Kotoko membulat seketika sambil memainkan mulutnya yang tak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya. Tak hanya Kotoko, Kin-chan pun tak bisa menutupi keterkejutannya. Dengan emosi yang memuncak, ditariknya tangan Takendo agar melepaskan tangan Kotoko. Bukannya lepas, justru tangan besar itu semakin membungkus tangan mungil Kotoko.
“Nakagawa! Berani-beraninya kau!” geram Kin-chan hampir memukul wajah Takendo, tapi tidak jadi dilakukan karena seseorang memanggilnya tiba-tiba.
“Kinnosuke! Aku pesan makanan,” seru Naoki dari meja tempat Kin-chan seharusnya berada. Dia memandang dingin tanpa ekspresi menaruh minat pada ketiga orang yang sedang bertengkar jauh di depannya itu. Ketiganya sontak menoleh. Kin-chan salah tingkah lalu menurunkan tangannya yang sedang mengepal di udara. Selama ini Kin-chan tidak pernah bersikap kasar pada laki-laki yang selalu dekat dengan Kotoko, karena ia tahu, laki-laki itu Naoki, dan tak ada alasan untuknya menghabisi Naoki, karena hal itu akan membuat Kotoko terluka.
“Tumben sekali pagi-pagi sudah kemari!” ketus Kin-chan kembali ke tempatnya. Naoki tidak menjawab malah berbicara pada temannya, ingin memesan apa.
“Huh, Kotoko sudah tidak menyukaimu lagi. Kemungkinan besar untuk mendapatkannya akan mudah bagiku. Nakagawa adalah laki-laki yang mudah sekali ditebak, dia seorang playboy. Dia mudah sekali tergoda dengan perempuan lain,” kata Kin-chan sinsis, pandangannya tak lepas mengawasi gerak-gerik Takendo yang matanya melirik-lirik keluar café padahal Kotoko sedang mengajaknya bicara. Sementara itu, Naoki masih diam, namun tak bisa mengelak untuk tidak tertarik menoleh ke arah Kotoko yang sedang tertawa bersama Takendo. “Aku tidak akan membiarkan Kotoko dipermainkan olehnya, seperti kau yang mempermainkan perasaan Kotoko!” Naoki mau tak mau memandang Kin-chan tajam, tidak terima dengan tuduhan itu. Namun, ekspresinya itu seolah tak terbaca oleh Kin-chan.

Kotoko mencondongkan tubuhnya ke depan, siap mendengarkan Nakagawa bicara. Laki-laki itu pandai sekali mengambil hatinya, memang tidak jauh dengan Kin-chan yang sama-sama selalu membuatnya senang, tapi Kin-chan berbuat seperti itu karena mereka bersahabat, tidak seperti dengan Nakagawa yang mampu membuat hatinya bergetar. ‘A, tidak, tidak!’ Kotoko menepuk-nepuk pipinya sendiri, menepis anggapan hati yang bergetar itu. Hati bergetar yang ia rasakan hanya untuk Naoki. Menyebut Naoki, mengingatkan Kotoko untuk melirik meja yang berjarak dua meja disebelahnya. Kotoko menghela nafas pendek, Naoki sangat serius makan dan sekali-sekali menengadah hanya untuk berbicara dengan temannya.
“Kotoko… Kotoko! Kau tidak mendengarkanku?” seru Takendo.
“A,” Kotoko tersadar dari lamunannya.
“Hari minggu ada acara tidak? Aku ingin mengajakmu nonton!”
Kotoko ternganga beberapa saat, “apa maksudmu kita kencan?” tanyanya sedikit keras. Takendo mengangguk sambil tersenyum. Senyuman yang membuat siapa saja tidak bisa menolak.
Naoki memicingkan mata, Kin-chan tidak kalah terkejut, matanya membulat lebih besar saat mendengar kata ‘oke’ dari mulut Kotoko.

Dua hari kemudian…
“Kirei ne!” puji nyonya Irie memegang pipi Kotoko. “Kau mau pergi kemana?”
“Aku mau pergi nonton,” jawab Kotoko hati-hati.
“Eh? Dengan siapa? Naoki?” tanya nyonya Irie cepat tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Kotoko menggeleng kecewa. “Bukan. Aku pergi dengan Takendo. Dia teman baruku di kampus. Orangnya sangat baik, aku tidak bisa menolak ajakannya.”
Nyonya Irie mendesah kecewa. Bola matanya berputar untuk berpikir, ide apalagi yang harus ia keluarkan agar kencan Kotoko tidak berjalan dengan baik bersama laki-laki lain.
**

“Takendo-kun! Sudah lama menunggu?”
Takendo tersenyum lalu berkata, “Selama apapun sudah seperti semenit jika sedang menunggumu!” kata-kata yang membuat Kotoko jatuh hati lagi, namun ia hanya bisa nyengir basa-basi, menganggap laki-laki yang ada dihadapannya ini sedang bercanda.
“Ayo masuk, filmnya akan dimulai!”
Seseorang dari belakang sedang bersembunyi dibalik tembok, perutnya terasa mual saat mendengar gombalan Takendo. Kin-chan ternyata mengikuti mereka dari belakang dan ikut masuk saat Kotoko dan Takendo sudah di dalam.
Tidak hanya cukup sudah menonton, Kin-chan masih terus mengikuti Kotoko. Kali ini mereka berjalan-jalan di sekitar taman dekat rumah Naoki, setelah mengikuti mereka minum di sebuah cafe. Apa yang sedang dibicarakan mereka hingga Kotoko bisa tertawa, Kin-chan tak bisa menahan diri untuk menyergap mereka dan membawa lari Kotoko. Seperti yang sudah ia bayangkan, sekarang Takendo berani merangkul bahu Kotoko. Hampir saja Kin-chan mati di tempat karena merasa udara disekitarnya berubah menjadi racun untuk dihirupnya.

Tiba-tiba langit menjadi gelap, seperti akan turun hujan. Namun, tak ada rintikan air hingga beberapa saat menunggu. Malah muncul sesosok bayangan berkelebat hitam yang mengintai Kotoko, seakan ingin membawanya pergi dari Takendo. Kin-chan hanya bisa ternganga sementara tangan sosok itu tak sanggup menggapai Kotoko, seperti ada batas ruang yang tidak bisa ditembus oleh bayangan hitam itu. Tapi, dengan seluruh kekuatan akhirnya dia bisa menarik Kotoko, hingga membuat Takendo dan Kin-chan berteriak bersamaan memanggil Kotoko.
“Kotoko-chan!” suara itu terdengar sangat jelas ditelinga Naoki. Matanya terpejam dengan pakaian yang ia kenakan terasa serba hitam, membuatnya menghilang seketika.
“Kotoko-chan!” terdengar lagi, namun kali ini dibarengi suara ketukan pintu. Mata Naoki yang masih terpejam akhirnya terbuka dengan susah payah.
“Hanya mimpi,” gumam Naoki masih berbaring di tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, ia bangun dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Lalu langsung pergi menuju pintu karena merasa penyebabnya bisa bermimpi buruk tadi adalah suara berisik yang berkali-kali memanggil nama Kotoko.
“A, Naoki! Kau sudah bangun,” sapa nyonya Irie dengan senyum lebar, pura-pura tidak bersalah karena membuat kegaduhan.
“Kotoko sejak tadi tidak menjawab. Apa dia masih tidur ya? Padahal semalam dia minta dibangunkan pagi-pagi karena harus ke kampus pagi sekali,” jelas ibu.
Wajah Naoki mendadak terasa panas. Ke kampus pagi-pagi sekali mengingatkannya pada mimpi semalam. “Biarkan saja!” katanya ketus.
“Eh?” nyonya Irie merasa aneh. Tak lama setelah itu Kotoko membuka pintu, dia terlihat sudah memakai pakaian yang rapih dengan wangi parfum yang harum semerbak. “Kotoko, kyou mo kirei desu ne! Kau sudah siap berangkat rupanya.”
“Haii!” jawab Kotoko malu-malu.
“Ayo sarapan dulu! Naoki kau cepat mandi sana!” kata ibunya sambil terkekeh pelan, lalu turun tangga.
“Kotoko!” tahan Naoki sebelum Kotoko turun ke lantai bawah menyusul ibunya. “Kita… berangkat bersama!”
“Eh?” Kotoko terbelalak dan mulutnya menganga.
“Tidak usah berlebihan seperti itu! Bukankah biasanya juga kita berangkat bersama,” kata Naoki dingin, lalu masuk ke kamarnya.
Kotoko merasa aneh, ada sesuatu yang berbeda dari Naoki akhir-akhir ini. Apa itu hanya perasaannya saja. Sebelum turun, Kotoko memandangi pintu kamar Naoki beberapa detik lalu akhirnya pergi.
Sementara itu di dalam kamar Naoki sendiri, dia sedang mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakannya. Mengapa ia bisa terbawa perasaan pada mimpinya. Seakan takut mimpi itu menjadi nyata.
**

Tidak seperti dalam mimpi, Naoki dan Kotoko bisa menyempatkan sarapan di rumah. Di balik koran yang sedang Naoki baca, matanya melihat Kotoko disela-sela kertas korannya yang robek. Terlihat Kotoko sangat semangat sekali melahap roti bakarnya.
“Gochisou sama (Terimakasih makanannya).” Kotoko menyatukan kedua tangannya lalu bangkit dari kursi, membuat Naoki refleks menutup korannya lalu berdiri.
“Gochisou sama!” katanya datar. Kotoko terlihat tersenyum mengangguk, lalu mereka pergi bersama. Naoki berjalan lebih dulu, Kotoko sengaja berdiri dua meter di belakangnya, teringat saat SMA jika Naoki tidak menginginkan Kotoko dekat-dekat dengannya. Namun, tiba-tiba Naoki menoleh, lalu menyuruh Kotoko untuk berjalan disampingnya. Kotoko yang tidak percaya itu menolak sambil nyengir. Naoki yang tak mungkin memberikan tawaran dua kali mengiyakan saja, membuat Kotoko menyesal sudah menolak.
“Ohayou, Kotoko!” seru seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinga Naoki.
“Takendo-kun!” Kotoko terkejut. Naoki menghentikan langkahnya, namun berusaha untuk tidak menoleh dan tetap melanjutkan jalannya.
“Irie-kun!” sapa Matsumoto ceria, tak jauh dari jarak Kotoko yang sedang berjalan dengan Takendo. Naoki yang melihatnya tampak sangat senang, seperti tidak terpikir sebelumnya bahwa dia punya banyak perempuan yang ada disekelilingnya. “Ohayou, Yuko!”
Kotoko yang ada di belakang mereka menekuk wajah cemburu. Ada senyum kemenangan di wajah Naoki sebelum ia menghilang masuk ke gedung fakultasnya.
**

“Okaeri nasai (Selamat datang/pulang)!” sambut nyonya Irie. “kau tidak pulang bersama Kotoko?” tanyanya sambil melihat-lihat ke arah pintu.
“Tadaima (Aku pulang),” jawab Naoki singkat sambil menggeleng.
Nyonya Irie mendesah kecewa, “katanya dia akan pulang cepat, ingin membuat kue bersama.” Naoki tampak berpikir, tapi berusaha tidak menaruh simpati.
Langit senja berganti gelap. Lampu-lampu besar yang menggantung di pinggir-pinggir jalan telah menyala. Nyonya Irie duduk di ruang tamu dengan cemas menunggu Kotoko yang sampai saat ini belum juga pulang.
“Obasama, ada apa?”
“Yuuki, Kotoko belum pulang.”
“A, mungkin sedang pergi bersama teman-temannya atau pergi ke restoran ayahnya,” Yuuki mencoba meredakan kecemasan ibunya. Namun, itu semua tidak membuat nyonya Irie merasa lebih baik.
“Apa oniisan ada di kamar?”
“Hem,” Yuuki mengangguk. Nyonya Irie menundukkan wajahnya, berbisik di telinga Yuuki. “Kau mau membantu ibu?” Yuuki mengangguk-angguk mengerti, setuju dengan rencana ibunya. Dia memang sudah setuju Kotoko dekat dengan kakaknya. Jadi, ide ibunya kali ini akan dibantunya.
“Oniisan! Oniisan harus mencari Kotoko!” Yuuki terburu-buru menutup pintu, lalu membanting diri di tempat tidur kakaknya. Naoki yang sedang membaca buku merasa terganggu.
“Ada apa?” tanyanya malas.
“Kotoko belum pulang. Dia sudah berjanji akan membelikanku bola, tapi dia belum juga pulang.”
“Kotoko membelikanmu bola? Mengapa kau tidak meminta pada kakak, kakak bisa membelikanmu.”
“Aku ingin Kotoko yang membelikannya, sebagai ganti dia sudah membuatku batal makan es krim dulu.”
Naoki menutup bukunya, mengacak-acak rambut Yuuki pelan, lalu bangkit mengambil jaket dan segera keluar mencari Kotoko. Yuuki senyum-senyum sendiri, ia bangga sudah pandai berakting.
“Bagus, Yuuki! Kakakmu itu memang harus diperlakukan seperti itu. Dia terlalu jaim untuk mengakui bahwa dia juga khawatir,” kata nyonya Irie tersenyum menang.
“Kotoko, arigatou untuk hari ini! Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kalau tidak ada kau,” kata Takendo tulus. Seharian setelah pulang kuliah, Kotoko menemani Takendo mencari hadiah untuk ibunya yang akan datang dari luar negeri besok.
“Jangan berbicara seperti itu, aku sangat senang bisa memilihkan hadiah untuk ibumu. Aku tidak punya ibu jadi aku sangat senang kau percaya padaku.”
Takendo mengangguk tersenyum. Ada keheningan beberapa saat sebelum akhirnya Takendo berkata, “Kalau begitu biar ku antar kau pulang.”
“Tidak usah repot-repot, rumah ku tidak jauh disini!” tolak Kotoko halus.
“Tidak apa-apa, aku ingin sekali bisa tahu rumahmu!” kata Takendo yang terdengar lebih mengarah kepaksaan.
“Kotoko-chan!” suara itu terdengar lantang dari arah belakang. Kotoko dan Takendo bersamaan menoleh. “Irie-kun!”
“Kau ditunggu Yuuki!” serunya datar, tak tertarik untuk melihat tampang Takendo.
Takendo yang merasa gerak-gerik Naoki sangat menganggunya, akhirnya berkata, “Hei! Sebenarnya kau siapanya Kotoko? Mengapa kau selalu saja muncul tiba-tiba?” teriaknya.
Naoki diam tak menggubrisnya, malah terus berbicara pada Kotoko. “Mana bola Yuuki?”
“Bola? Maksudmu?” Kotoko terlihat bingung dengan pertanyaan Naoki yang terdengar seperti menagih janji. Naoki menghela nafas pendek, lalu menarik tangan Kotoko pergi.
“Hei!” teriak Takendo lagi.
“Irie-kun! Irie-kun, lepaskan tanganku!” teriak Kotoko yang sudah berjalan jauh dari Takendo. Kotoko memegang tangannya yang tampak kesakitan.
“Kau tidak membuat janji dengan Yuuki?” Naoki mengernyit.
“Janji? Aku merasa tidak membuat janji. Memang kenapa?” tanya Kotoko bingung. Naoki mendesah kesal karena merasa sudah dipermainkan.
“A, iya… aku ada janji,” seru Kotoko teringat janjinya dengan nyonya Irie untuk membuat kue bersama. Naoki yang mengira itu janji pada Yuuki tak jadi marah.
“Kau tidak bisa pulang dengan tangan kosong!” tahan Naoki. “Kita ke toko dulu!” Naoki menarik tangan Kotoko. Kotoko menurut, berjalan di belakang Naoki. Namun, Naoki langsung menarik bahunya agar bisa sejajar berjalan dengannya. Kotoko terkejut, mulutnya sudah menganga lebar, namun cepat-cepat dia menutupnya tidak ingin membuat Naoki melemparnya tiba-tiba. Tanpa suara mereka berjalan dalam diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Aku hanya takut tidak bisa bersama denganmu lagi. Itu adalah kekhawatiran terbesarku,” batin Naoki.
Itazura-Na-Kiss-Love-In-Tokyo-japanese-dramas-34346088-500-280
Jangan segan buat komen ya 😀 Arigatou

cr photo: imgfave

FF: Secret Admirer

BLaz6RfCIAEd_xK
Main Cast:
– Kotoko Aihara
– Naoki Irie
The Family:
– Yuuki Irie (Naoki’s younger brother)
– Machiko Irie (Naoki’s mother)
– Shigeki Irie (Naoki’s father)
– Shigeo Aihara (Kotoko’s father)
Others Cast:
– Kinnosuke Ikezawa
– Jinko Komori
– Satomi Ishikawa
– Reiko Matsumoto/ Yuko
– Ayako Matsumoto (the little sister of Yuko)
– Sasukio
– Christine “Chris” Robbins
– Sudou
– Takendo Nakagawa
– Ryo Takamiya
– Others cast menyusul jika memang diperlukan.

Di awal musim panas, tahun ajaran baru kedua di Universitas Tonan. Kotoko sedang makan siang di cafetaria kampus bersama Jinko dan Satomi. Mereka sedang asyik membicarakan hari libur musim panas pertama yang jatuh pada hari esok. Satomi sangat excited, dia menceritakan bahwa besok akan pergi kencan dengan Ryo Takamiya ke Tokyo Disneyland. Jinko yang mendengarnya terkejut, ia juga akan pergi kencan kesana bersama pacarnya.
Kotoko yang tampak seksama memperhatikan mereka, mengerucutkan bibirnya dengan mata sedikit membulat. “mereka sangat bahagia bisa kencan di libur musim panas. Aku mungkin hanya akan di rumah. Andai saja aku bisa pergi bersama Irie-kun,” batinnya menerawang.
“Kotoko, apa kau mau ikut bersama kami? Kita bisa triple date,” seru Satomi antusias.
“Irie-kun tidak mungkin mau pergi denganku,” desah Kotoko.
“Siapa yang menyuruhmu mengajak Irie-kun? Kau dan dia kan memang belum ada hubungan,” timpal Satomi.
“Bagaimana dengan Kin-Chan? Dia juga pasti memiliki waktu luang besok. Kau dan Kin-chan adalah sepasang sahabat. Bagaimana?” usul Jinko yang langsung diberi anggukan persetujuan oleh Satomi.
Sementara orang yang diajak pergi malah melamun. Kotoko memikirkan apa yang akan dilakukan Naoki besok. ‘Apa dia akan tetap bekerja di café, atau pergi bermain tenis? Jika itu benar, maka sama saja dia pergi berkencan dengan Matsumoto?’ Kotoko menggeleng-gelengkan kepala, mengenyahkan pikiran anehnya dan ia mencoba kembali berbaur ke dunia sahabatnya yang sedang menyusun rencana untuk pergi ke Tokyo Disneyland besok.
Tanpa siapapun sadari, di bilik meja dekat jendela seseorang tengah duduk sambil menyesap café late nya, arah pandangnya memperhatikan ketiga gadis yang sedang asyik bercengkrama, matanya tak bisa lepas memandangi Kotoko.
“Mosi-mosi.”
“Ee, besok pagi jam sembilan. Baiklah, sampai bertemu nanti Kin-chan.”
Suara itu terdengar oleh nyonya Irie dibalik pintu kamar Kotoko, saat ia hendak memanggil Kotoko untuk makan malam. Mendengar percakapan Kotoko di telepon dengan seorang laki-laki yang ia ketahui adalah Kin-chan, nyonya Irie mulai berpikir untuk melakukan sesuatu.
Keesokan harinya…
“Have fun, Kotoko!” nonya Irie melambai di depan pintu. Sementara Yuuki yang sedang membaca buku melirik malas.
“Yuuki-chan,” tahan nyonya Irie saat melihat anak bungsunya itu akan naik ke atas.
“kau tidak ingin pergi jalan-jalan? Ini hari minggu. Bagaimana kalau kau pergi bersama Oniisan, kau pasti sangat merindukannya kan?”
Yuuki yang tadinya terlihat tidak mood tampak sedang memikirkannya. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya Yuuki pun setuju dengan usul ibu. Nyonya Irie begitu senang, ia pun segera menelepon Naoki untuk datang ke rumah menjemput Yuuki yang ingin pergi jalan-jalan dengannya. Naoki memang tidak punya rencana apa-apa di minggu pagi ini, meski sore hari ia harus segera kembali untuk bekerja.
“Have fun, oniisan!” ibu tersenyum lebar.
Naoki dan Yuuki pergi menuju Tokyo Disneyland.
“Hai, Kotoko-chan?” sapa pacar Satomi dan Jinko bersamaan.
“Hai!” balas Kotoko memamerkan senyum terbaiknya.
“Dimana Kin-chan? Apa dia tidak ikut datang bersamamu?” tanya Jinko.
“Iie, Kin-chan harus ke restoran dulu. Aku yang menyuruhnya untuk datang langsung kemari.”
Satomi dan Jinko mengangguk paham. Namun, tak lama setelah itu ada yang menyita perhatian Jinko. Ia memekik terkejut, “Irie-kun!!!” tunjuknya ke arah yang jauh di belakang Kotoko.
Mata Kotoko membulat setelah ia berbalik dan mendapati Naoki sedang berjalan ke arahnya bersama Yuuki.
“Huh, kenapa harus bertemu dia disini,” desah yuuki melewati Kotoko dan teman-temannya. Sementara Naoki dengan wajah coolnya tidak tertarik menoleh. Pandangan Kotoko dan teman-temannya mengikuti arah perginya Naoki dan Yuuki dengan ekspresi baka.
“Kotoko! Ini bukan kebetulan kan?” tanya Satomi serius.
“He-he,” Kotoko hanya nyengir tidak jelas, mengingat nyonya Ire yang menyemangatinya untuk pergi ke Tokyo Disneyland, padahal ia ragu untuk pergi.
Tak lama setelah itu, suara ponsel Kotoko berbunyi, ia mendapat panggilan telepon dari Kin-chan.
“Mosi-mosi.”
“A, tidak apa-apa! Kau jangan merasa tidak enak.” Kotoko mengangguk-angguk, lalu beberapa detik kemudian langsung menutup teleponnya sambil mendesah kecewa.
“Ada apa?” tanya Jinko penasaran.
“Kin-chan tidak bisa datang. Restoran sangat ramai, ia tidak bisa ijin keluar.”
Satomi dan Jinko saling memandang dan menghela nafas, lalu merangkul bahu Kotoko. “Tidak apa-apa. kau tetap bisa ikut, benarkan Ryo?” Satomi mengedipkan matanya pada pacarnya itu. “A, tentu saja!” jawabnya cepat.
“Okay, hurry up!” seru Jinko.
Kotoko tersenyum, meski perasaanya masih tidak enak karena begitu percaya diri bergabung dengan kencan mereka. Apa ia harus pulang saja? pikirnya.
**
Kotoko merasa wajahnya pucat pasi. Kepalanya berputar-putar. Jantungnya berdetak cepat. Perutnya mual dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia mencoba untuk duduk di bangku kayu panjang dekat wahana yang masih dimainkan Jinko dan Satomi. Mencoba Space Mountain disaat perasaannya seperti ini membuatnya ingin muntah. Ketika Kotoko ingin mencoba berdiri, tahu-tahu keseimbangan tubuhnya tidak normal. Ia terjatuh. Namun, tidak sampai terjadi karena seseorang datang menahan tubuhnya yang hampir roboh.
Selama beberapa detik Kotoko ada dalam rangkulan cowok bertubuh jangkung itu, selama itu pula Naoki ternyata memperhatikan mereka. Naoki yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Kotoko, hanya bisa memandanginya dengan tatapan yang dingin. Namun, rasa tidak suka melihat laki-laki yang menopang tubuh Kotoko itu membuat air mukanya tidak nyaman, ia tampak gelisah.
“Oniisan! Aku ingin es krim,” pinta Yuuki yang mendekatinya setelah puas bermain.
Naoki tersadar dari aksi memandangi Kotoko dan laki-laki asing itu. Ia pun akhirnya mengangguk dan menyuruh Yuuki untuk menunggu sebentar di tempat ini.
Entah sengaja atau memang tepat penjual es krim itu berada di jalan yang tak jauh dari Kotoko, Naoki melewatinya sambil melirik sekilas. Kotoko yang melihat Naoki meliriknya, buru-buru melepaskan diri dari laki-laki asing tersebut. “Irie~” Kotoko memekik teratahan.
Naoki sudah berjalan lurus melewatinya.
“Kau mau ku antar ke rumah sakit?” tanya laki-laki itu, yang sontak membuat Kotoko tersadar dari pandangannya yang tidak lepas melihat Naoki.
“A, tidak usah! Aku tidak apa-apa.”
“Kalau begtiu ku antar pulang, sepertinya kondisimu tidak memungkinkan untuk pulang sendirian,” rajuknya.
“Ano…” Kotoko ingin mengatakan kalau ia datang bersama teman-temannya, tapi mengingat Satomi dan Jinko sedang bersama dengan pasangan mereka, Kotoko tidak enak hati harus mengganggu kencan mereka.
“Dia datang bersamaku.”
Suara itu terdengar dekat, tahu-tahu sosok Naoki sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Kotoko bersama laki-laki yang usianya tampak seumuran dengannya itu menengadah, terlihat terkejut.
“Ayo pulang!” ajak Naoki yang terdengar seperti perintah.
“Kau tidak bisa lihat Kotoko sedang lemah?”
Kotoko lagi-lagi terkejut karena laki-laki yang menolongnya itu ternyata mengetahui namanya. “Bagaimana kau tahu namaku?”
Naoki yang juga terlihat terkejut tidak menampakan ekspresi keterkejutannya, ia malah bersikap dingin tanpa tertarik pada siapa laki-laki itu.
“Ano, aku Takedo Nakagawa. Penggemar rahasiamu dan kita satu kampus.”
“Penggemar rahasia?” Kotoko ternganga.
“Naiklah!” potong Naoki yang tiba-tiba berjongkok membelakangi Kotoko.
Masih terpana dengan pengakuan Takendo, perasaan Kotoko meletup-letup tidak karuan. Butuh beberapa detik sampai akhirnya ia naik ke punggung Naoki.
“Sampai jumpa Takendo. Arigatou!” Kotoko tersenyum.
“Oniisan!” Yuuki berlari menghampiri. Dia pikir kakaknya itu sudah membelikan es krim, malah ia melihat kakaknya menggndong Kotoko. Dengan coolnya Naoki terus berjalan, disusul Yuuki dari belakang.
Kotoko yang ada dalam gendongan Naoki tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia merasa tubuhnya tidak lagi lemas, seakan ada kekuatan yang ditransferkan Naoki padanya. ‘Ini seperti kencan sungguhan,’ batinnya dengan malu-malu terus tersenyum sambil merekatkan rangkulan tangannya.

Mohon dimaklumi ini hanya sekedar FF. Inspirasi dan kreatifitas adalah hak penulis. Ho-ho! Arigatou for reading ^^
itakiss-tokyo2_zpsb6193ada