Benteng pertahanan diri

tumblr_mp1cf4IJIn1s945zmo1_500
Aku menunggu seorang diri pukul 8 pagi tepat, seperti yang sudah dijanjikan seseorang untuk mengukuhkan jabatan resmi organisasi HIMA FE. Aku tak berani masuk, bukan karena aku pemalu seperti biasanya, tapi karena aku tak yakin, apakah aku ada dalam bagian jabatan itu seperti yang selalu laki-laki itu celotehkan. Keyakinanku tiba-tiba saja mengendur semenjak perjanjian itu melenceng dari keputusan yang sering dia ucapkan untuk meyakinkan kami hadir. Namun, satu pesan masuk yang diterima dari temanku yang mengatakan aku hanya anggota biasa. Pantas saja laki-laki itu tidak mengabariku kalau hari ini pelantikan dan semuanya harus resmi memakai batik. Meskipun aku tidak diberitahu akan hal itu darinya langsung, tapi aku ingin memastikan untuk datang, datang tanpa memberitahu siapapun, karena memang ternyata aku tidak diundangkan? Aku hanya ingin memastikan.
Waktu yang sudah dijanjikan tiba. Sudah pukul 8 lewat rupanya, tapi tak ada yang mengirimiku sms, menanyakan keberadaanku dimana? mengapa aku belum datang? atau rapat akan segera dimulai. Hingga akhirnya aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Menunggu di tempat yang teduh, aman, dan dilindungi oleh Allah.
Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, seorang temanku mengirimiku pesan singkat. “Kamu hanya jadi anggota biasa.”
Aku merenungkan isi pesan itu. Bagaimana bisa hanya menyuruh seseorang mengirimkan pesan itu, setelah aku menunggu tiga jam seorang diri. Menunggu kepastian yang akhirnya seperti ini. Tanpa sengaja air mataku sudah menetes, aku tidak bisa membendung air mataku, aku merasa tidak memiliki teman saat itu, teman yang selama ini selalu bersama-sama di kelas. Aku berusaha menenangkan diri, menguatkan hati, mungkin akan ada penjelasan dari mereka untukku. Sambil menunggu.. aku membasuh wajah untuk berwudhu, shalat dhuha tampaknya akan membuat hatiku lebih tenang. Setelah melaksanakan shalat sunnah, aku segera mengecek handphone, tak ada pesan lagi yang masuk. Aku bingung harus kemana, aku tidak mungkin muncul di depan mereka yang jelas-jelas sedang merayakan resminya jadi anggota HIMA. Masuk kelas pukul 12, sementara sekarang sudah hampir pukul sebelas. Waktu dzuhur masih lama, aku tidak punya pilihan lain selain menanyakan kabar teman dekatku diluar kampus. Kebetulan dia fakultas komputer, aku menghubunginya, apa dia ada di kampus, syukurlah dia ada. Dan aku membuat janji bertemu dengannya, dia menungguku di depan perpus dekat kelas fakultasnya.
Aku menyeka air mataku, aku mencoba tersenyum tegar, seakan hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Aku melangkah mencoba seriang mungkin menghampiri temanku. Kami banyak bercerita, hingga tak terasa waktu sudah memasuki waktu dzuhur dan temanku pun harus segera masuk kelas. Akhirnya aku memutuskan kembali ke mesjid untuk melangsungkan shalat dzuhur berjamaah karena di siang hari mahasiswa sudah mulai berdatangan.
Setelah ini aku harus mempersiapkan diri menghadapi teman-teman. Tetapi, saat berlangsung hingga berakhirnya mata kuliah tak ada satu pun yang menyinggung tentang pelantikan tadi, begitu pun aku sendiri, karena aku ingin mereka yang terbuka menyampaikan penjelasan bahwa statusku tidak menjadi apa-apa. Dan si ketua HIMA FE baru itu bahkan tidak meminta maaf atau menjelaskan bahwa aku memang tidak menjadi bagian dari HIMA, ya… setelah sebelumnya menggembor-gemborkan padaku untuk ikut rapat sebelum pelantikan. Mulai detik itu juga aku sangat ilfil dengan orang tersebut, dia orang yang sangat tidak bertanggung jawab. Aku mulai meragukan bagaimana jadinya HIMA yang diketuai oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk hal sekecil ini (bagiku ini bukan kecil tidaknya, tapi aku merasa masalah ini cukup besar dalam arti aku sangat sakit hati karena tidak dihargai).
Beberapa minggu kemudian, seorang twman sekelas ku yang kebetulan bukan merupakan bagian dari HIMA, mengajakku ikut organisasi BEM. Awalnya aku ragu, namun setelah dipikir-pikir tidak salahnya aku mencoba, aku tidak mau tertinggal, jika aku menolak, aku bisa diinjak-injak oleh si ketua HIMA yang baru dilantik itu. Akhirnya aku pun mengiyakan akan masuk menjadi anggota BEM, senangnyaaa.. jabatan BEM lebih tinggi dari HIMA 😀 Aku bisa membuktikan pada si ketua HIMA dan teman-temanku yang lain bahwa aku bisa, bahwa aku mempunyai kemampuan. Ini seperti sebuah bayaran dari rasa sakit hatiku. Di BEM aku bertemu orang baru, kakak-kakak senior sehingga aku jadi punya teman baru, tidak seperti di HIMA yang temannya hanya itu-itu saja (teman sekelas), tentunya akan sangat membosankan. Selain itu banyak sekali kegiatan yang aku lakukan di BEM, pokoknya banyak sekali manfaatnya. Tidak seperti HIMA, selentingan yang ku dengar, HIMA tidak memiliki program yang banyak, hanya satu program wajib yang dilaksanakannya yaitu Temu Warga. Aku jadi tertawa sendiri, karena dulu pernah berharap bisa ikut organisasi HIMA bersama teman dekat di kelas. Alhamdulillah ternyata ada hikmahnya aku tidak ikut bagian dengan mereka. Selentingan kabar bahwa di HIMA sistem kerjanya tidak produktif, apalagi dengan ketua HIMA berwatak seperti dia. Benar sajakan feelingku, pasti HIMA tahun angkatannya tidak akan memuaskan. Yah bersyukurlah aku tidak termasuk bagian dari mereka.
Ini hanya cerita, kalau terjadi kesamaan tokoh, watak, latar itu adalah hal yang disengaja bagi penulis. LOL
Akhir kata… gomen nasai. Thanks for reading my short story.

(photo: imgfave.com)