Hear Me


Di pagi hari yang cerah tanpa suara kicauan burung atau suara-suara alam lainnya. Aku tiba di depan sekolah baruku. SMA Bakti yang terkenal dengan muridnya yang jago dalam bidang olahraga. Kebanyakan altet-atlet terkenal di Indonesia adalah alumni dari sekolah ini.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orangtuaku saat memindahkanku sekolah ini. Di sekolah lama aku tidak memiliki masalah yang serius, aku juga tidak mengeluh ingin pindah. Jarak sekolah baru dari rumahku saja lebih jauh dibandingan sekolahku yang dulu, jika alasannya transportasi sepertinya salah. Biaya, sepertinya juga bukan, meski keluargaku terbilang pas-pasan. Apa mungkin ini masalahnya? Ah, lagi-lagi aku sakit kepala jika harus memikirkannya. Akhirnya aku ikut saja maunya orangtuaku, aku tidak terlalu ambil pusing karena aku masih kelas sepuluh semester pertama, belum banyak teman yang harus aku tangisi dengan kepergianku.

Aku melangkah dengan mantap menjejakkan kaki di balik gerbang depan sekolah. Aku sudah memasuki kawasan halaman depan sekolah. Setelah berbasa-basi menemui kepala sekolah, guru, dan staf. Aku digiring masuk ke kelas yang tidak jauh dari ruang guru tadi.

Bisa ku dengar suara gaduh dengan dentuman-dentuman samar meja dan kursi yang terbayang olehku sedang beradu, serta decit-decit sepatu yang menghentakan lantai. Guru di sampingku terlihat tenang, sepertinya sudah biasa mendengar kekacauan ini.

Ketika kakiku sudah sampai bibir pintu, suara itu lenyap tersumbat headphone yang menempel di telinga. Aku menyapu sekitar, kelas dengan murid yang banyak ini tampak duduk rapih tanpa ada yang ganjil setitikpun.

Guru di sebelahku berdeham lalu memperkenalkanku pada semua murid dengan informasi seadanya, jika ingin lebih lanjut mengenalku lebih baik bertanya langsung padaku di luar jam pelajaran. Semua anak heboh dan bersiul-siul, saat aku juga sudah menyapa mereka. Lalu aku berjalan menuju bangku kosong di tengah-tengah barisan. Duduk sendirian.

Di jam istirahat dua orang murid perempuan mendekatiku, mereka memperkenalkan diri dengan nama Gina dan Anggun. Gina orangnya sangat lembut, terdengar dari suaranya yang mendayu-dayu. Sementaa Anggun dengan perawakannya yang atletis bersuara lebih lantang seperti murid laki-laki, dari penampilannya dia memang tomboy.
Aku menyunggingkan senyum penuh ramah menerima mereka untuk jadi temanku. Namun, tidak jauh di belakangku, seseorang tengah meluhatku terus-terusan tanpa berkedip. Bukan tatapan bersahabat yang ditampakkannya, melainkan tatapan tajam penuh kebencian, seperti ingin menerkamku. Leherku bergidik, tatapannya seperti bisa menghembuskan angin dan menggelitik bulu kudukku.

Satu minggu terlewati dengan mudah, aku dikenal baik oleh semua murid di kelas, bahkan satu sekolah karena kepopuleran anak baru di kalangan kakak kelas menyebar seperti wangi parfum blabla yang ditumpahkan untuk mengepel koridor.

Gina dan Anggun mengajakku ke kantin, kami bertiga semakin akrab dan tak bisa dipisahkan. Entah karena kepopuleranku mereka terus menempel padaku atau karena aku orangnya menyenangkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting aku ada teman sepanjang hari di sekolah tanpa takut dibully ataupun diasingkan. Seperti setelah ini, saat bel masuk berbunyi, Anggun malah pergi ke ruang olahraga, Gina ngacir ke toilet. Aku harus memilih ikut mana. Tentu tidak, aku masuk ke kelas saja. Siapa mereka yang harus terus menerus menempel padaku, bukankah lebih baik aku berjalan sendiri kalau-kalau ada kakak kelas yang menghampiriku mereka tidak sungkan karena aku sedang sendiri.

Namun, bayanganku didekati kakak kelas tidak pernah terjadi sampai saat ini. Bahkan ketika aku sendiri, aku mendengus dalam hati sambil menghentakkan kaki ke bibir pintu dan masuk ke dalam kelas yang duhnya minta ampun. Tapi, begitu aku masuk tidak banyak murid di dalam, suara gaduh yang kudengar barusan tidak mungkin asalnya dari segelintir mereka yang hanya berlima.

Aku berjalan masuk untuk duduk di bangkuku. Salah satu dari mereka yang duduk di paling belakang maju ke depan masih dengan tatapan tajam yang sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dia menghampiri mejaku lalu mendorong kursinya hingga terjungkal.
“Jangan duduk disini!” ucapnya sarkatis, begitu dingin hingga menyambar tengkuk leherku.
Aku yang tak tahan ditembaki tatapan tajamnya, membalas melotot. Apa salahku sih sampai dia yang belum mengenalku berani-beraninya menatapku sinis seperti itu? Kalau dia bisa semudah itu melakukan hal yang kasar terhadapku mengapa tidak, aku juga bisa membalasnya.

Kemudian dia tertawa. Tertawa meledekku.
Aku tidak mengerti, lebih tidak mengerti karena kelas ini tetap kosong. Kemana murid yang lain, Gina, Anggun, serta guru yang seharusnya masuk.
Kini yang terdengar suara tawa teman-temannya ikut menimpali, aku menutup telinga tidak tahan mendengarnya. Sampai akhirnya aku mendorong dia hingga tersungkur menabrak meja lain. Dia bangkit, menggeram lalu menubrukku. Hingga setelah itu semuanya gelap.
**

Perlahan-lahan aku membuka mataku, ada sinar menyilaukan seperti ada yang melaser mataku. Aku sedang terbaring di sebuah kasur yang tidak empuk dan baunya yang tidak sedap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan 4 x 6 meter ini. Yang ada hanya beberapa barang tak terurus seperti lemari di sebelah ranjangku yang reot. Meja dan kursi yang sudah terkelupas lapisan kayunya. Di dindingnya ada kotak bertuliskan P3K tergantung dengan warna putih yang mulai menguning.

Kini aku tidak mendengar suara apapun, hanya keheningan yang menjalar ke seluruh panca inderaku. Tak lama tiba-tiba ada sebuah suara terkikik memekakan telinga, begitu cepat merambat dan menumpahkan semuanya tepat di lubang telingaku. Mengenai gendang telingaku, rasanya begitu sakit. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan, mencoba agar tidak mendengar suara itu lagi. Sampai akhirnya kedua temanku masuk bermaksud menjengukku.
“Kamu udah baikan del?” tanya Gina lembut.
Aku mengangguk. Terharu mereka ada disini.
Anggun duduk sembarang di meja, lalu bertanya sesuatu yang membuatku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih del kok bisa pingsan di tengah-tengah jam pelajaran?”
“Semua orang jadi takut sama kamu,” sambung Gina.
Apa-apan ini mereka bilang aku pingsan di tengah jam pelajaran, padahal aku masuk kelas tidak ada siapa-siapa selain kelima anak bengal itu. Ya, mereka, salah seorang dari mereka yang membuatku bisa pingsan. Aku harus menceritakan pada Anggun dan Gina, tentang laki-laki yang duduk di belakang mereka, dari awal bertemu denganku hingga sekarang selalu melototiku tanpa sebab. Setelah menjelaskan yang sebenarnya mereka tiba-tiba tertawa. Anggun yang paling keras tertawa, Gina hanya berdeham kecil menyumpal tawanya.
“Mengapa kalian tertawa? Aku serius!”
Tawa mereka tidak pernah berhenti, justru semakin kencang, aku melotot kesal, gendang telingaku kembali berdenyut. Tawa mereka membuatku merasa sakit lagi. Kesal mereka mengabaikanku aku turun dari ranjang mendorong mereka, hingga Gina terjungkal dari kursinya, Anggun terjembab jatuh dari meja.
Dan semuanya menjadi gelap.
**

Di pagi hari yang cerah, tanpa kicauan burung dan suara-suara alam lainnya. Aku berdiri tegak di depan gerbang sekolah baru sambil menyeringai ke sudut koridor yang terlihat dari gerbang. Seorang laki-laki tengah menatapku tajam.
**
(pic: flickr)

Advertisements

Love is Punishment

tumblr_mp17izCKlO1rv8i8ko1_400
Jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Aku masih berdiri di depan halte menunggu bis datang. Tampak jalanan sangat lengang, hanya ada dua atu tiga mobil pribadi lewat dan lebih banyak kendaraan roda dua yang berseliweran. Jalanan di dekat rumahku terbilang tidak terlalu ramai. Jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk berjodoh dengan bis.
Sepertinya alamat telat akan menempel pada nasibku hari ini. Mana sekarang hari senin, harus upacara dan ada ulangan Kewarganegaraan dipelajaran pertama. Kakiku sudah mulai keram berdiri terlalu lama, bangku halte tidak pernah kosong, selalu saja ada yang mendahului untuk duduk. Lima menit lagi. Ya ampun… bagaimana ini? Aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa kesal yang berkecamuk di hati. Ingin rasanya mengomel pada mobil-mobil yang lewat, tidakkah ada yang mau rela berbagi tumpangan pada murid kelas sepuluh ini?

Akhirnya bis yang ditunggu datang juga, belum hilang ras kesalku, aku masih mengumpat-ngumpat dalam hati karena bis berjalan sangat lambat. Bisa dilhat kalau memang bis ini tidak terlalu penuh penumpang, makanya bis merayap seperti siput yang sedang mencari tempat lembab.
“Ongkosnya neng!”
Aku memberi uang Rp 2,000 yang diambil dari saku seragam.
“Kurang neng.”
Aku mendelik melihat knek itu. “Biasanya juga segitu,” kataku ketus.
“Yah, neng. Sekarang kan BBM udah naik, emang neng gak liat beritanya di tipi?” terdengar penekanan ‘p’ yang sangat tinggi.
Aku mendengus, lalu mengambil lagi uang seribu di saku. “Nih!”
“Nah gitu dong neng!” sang knek terlihat senang.

Sial… sial… kataku dalam hati. Pak Tono udah ada aja di depan gerbang dengan memasang wajah angkuh, wajahnya itu memang terbilang tidak pantas menorehkan senyum, air mukanya selalu terlihat sinis dan galak. Diam saja sudah seperti itu, apalagi kalau beneran marah. Makanya, Pak Tono ini guru yang paling ditakuti di sekolah.
“Baris yang rapih!” teriak Pak Tono. “Hey, kamu juga yang baru datang, cepat!!” tunjuknya padaku. Aku tersentak buru-buru masuk , dengan dibukakannya gerbang oleh satpam. “Cepat, ikut berbaris sana!”
Aku mengangguk menurut, baris dibagian belakang saja. Aku cukup terkejut dengan jumlah murid yang kesiangan hari ini, kebanyakan sih laki-laki, perempuan termasuk aku hanya ada lima orang. Sementara laki-laki berjumlah sepuluh orang. Sangat fantastis sekali murid sekolah ini. Sebenarnya apa alasan mereka terlambat, perasaan ingin tahu menggelitik hatiku. Entah apa yang sudah diceramahi Pak Tono pada kami, aku tidak mendengarkan dengan seksama, mataku masih saja tertarik melihat siapa-siapa yang senasib denganku. Siapa tahu ada teman sekelas. Sialnya tidak ada.

Sudah satu jam lebih duapuluh menit kami dihukum berdiri di halaman depan dekat gerbang. Aku melihat lapangan yang terhalang oleh kantor guru itu tampak lengang, artinya upacara sudah selesai.
“Bersihkan kantor guru sebelum kalian masuk kelas!” perintah Pak Tono. Kami pun membubarkan diri, entah baru sadar atau memang sebuah keajaiban, murid laki-laki yang ternyata berada di barisan paling depan itu adalah Rama. Kakak kelas paling populer karena ketampanannya, bagiku dan kalangan kelas sepuluh dan sebelas. Aku tidak bisa menahan diri untuk memekik girang, tapi syukurlah aku masih bisa menahannya. Kenapa aku baru sadar dia ada, jika tahu sejak tadi dia ada disini, aku memutuskan untuk sebaris dengannya atau menerobos baris di dekatnya. Hembusan nafasku mendadak panas membayangkannya hal itu. Tak sengaja pandangan kami pun bertemu, ketika kami sudah selesai membersihkan ruang guru. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat dia berjalan melewati kelasku untuk sampai ke kelasnya. Sungguh hal yang jarang terjadi, bisa dilihat dari histerisnya teman sekelasku yang melihatnya berjalan lewat kelas X.5. Hari ini tidak terlalu buruk, meski sudah bersumpah serapah kesal sejak tadi pagi, akhirnya ada perasaan bahwa pagi tadi itu tidak pernah terjadi, seperti sudah terbayar dengan nasib mendapat hukuman paling menyenangkan ini.

“Ulangan KWN lisan!” seru salah seorang murid yang berlari dari arah kantor sambil membawa beberapa tumpuk buku tugas kemarin yang dikumpulkan. Dan saat itu pula guru Kewarganegaraan yang berkepala plontos itu muncul di belakangnya sambil membawa setongkat kayu yang panjangnya hampir semeter. Memang sudah jadi ciri khas Pak Endang.
Hari yang masih buruk. Aku meneguk ludah.
**

Sudah tiga hari setelah terlambat masuk sekolah saat itu. Hari ini aku terlambat lagi. Kali ini bukan karena bis nya yang datang terlambat melainkan aku yang bangun kesiangan. Semalam habis nonton drama Korea sampai larut. Yak, mengejar 4 episode terakhir yang dilahapku sekaligus.
“Buka sebelah sepatunya!”
Aku terbengong, tidak ada hukuman dijemur dulu atau membersihkan ruang guru. Memang kalau untuk hari biasa, sekolah menetapkan peraturan bagi siswa yang terlambat harus melepas sepatunya sebelah. Sebelah kanan yang disita di ruang guru sampai pulang sekolah. Selain itu menuliskan nama di absen buku pelanggaran. Aku mendecak kesal setelah melepaskan sepatu sebelah kananku. Sekarang aku berjalan terpincang dengan memakai sepatu sebelah.
Malu sekali, aku berjalan melewati koridor-koridor kelas, semua orang kini tampak melihatku cekikikan. Meskipun dengan maklum, tapi tetap saja aku malu. Apalagi tiba-tiba saja ada suara tawa terbahak-bahak saat aku melewati kelas XII. Aku menunduk, menutupi wajah yang sudah seperti udang rebus.
“Hey, bro! Sepatu model barru ya!” kata seseorang dari kelas XII IPS 1 itu. Aku meneguk ludah melihatnya, sepertinya aku cukup mengenal orang ini, meski aku tahu dia tak mungkin mengenalku. Ya, dia teman sekelas Rama. Ah, sekarang tahu-tahu wajahku tambah memerah saja, hanya karena menyebut namanya dalam hati.
“Rese lo,” terdengar suara di belakangku. Oh, mereka bukan mentertawaikanku, tapi mentertawakan Rama. Rama, Rama yang memakai sepatu sebelah sepertiku.
Wajahku kini sudah seperti tomat yang sudah siap petik, saat Romi sudah berjalan mendekat dan tahu-tahu sudah meleos saja melewatiku, menghambur pada teman-temannya. Mendadak saja aku berpikir hukuman terlambat masuk seolah adalah hal termanis. Tidak buruk berjalan kaki nyeker sebelah seperti ini.

“Mar, dipanggil Pak Dodo tuh!” kata Liana, teman sebangkuku, saat aku baru saja menginjakkan kaki di koridor kelas sepuluh tiga, masih ada dua kelas menuju kelasku.
‘Oh’ responku tanpa bersuara. Aku bangkit dari kursi menuju ruang BK karena Pak Dodo memang selalu berada di ruangan itu. Beliau memang guru BP/BK.
“Assalamu’alaikum,” aku mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam. Masuk saja!” sahut Pak Dodo dari dalam. Kemudian aku masuk dan mendapati Pak Dodo sedang kehadiran murid lain.
“Ram, sebentar ya!” kata Pak Dodo pada murid yang sedang duduk dihadapannya itu, namun sedang membelakangiku.
‘Ram? Rama?’ pikirku.
“Kemari!”
Aku masih mematung dengan pikiran menerawang sendiri tentang nama yang disebutkan Pak Dodo. ‘Ram’
“Hey, Marisa!”
“Oh,” aku tersadar, lalu menghampiri Pak Dodo. “Siap, Pak! Ada apa?”
“Kau belum mengerjakan tugas pelajaran Bapak ya?”
“Eh, tugas yang mana Pak?” kataku sambil menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.
“Mar, mar, minggu lalu itu pasti karena gak masuk. Memang apa susahnya sih nanya ke temanmu ada tugas atau tidak.”
“Maaf, pak. Saya beneran lupa,” kataku tertunduk. Aku bisa melihat laki-laki yang masih duduk di sampingku itu sejak tadi menatap lurus ke depan, dan kini menengokkan kepalanya sedikit ke arahku. Aku bisa merasakan hawa panas pada wajahku dan debaran keras jantungku yang jauh lebih hebat dari tiga hari lalu. ‘Rama!’ jeritku dalam hati.
“Kau masih mau mendapat nilai atau tidak?” tanya Pak Dodo berusaha sabar menghadapiku.
Aku mengangguk. “Mau, Pak.” Rama terlihat tersenyum saat aku mengatakan kata mau.
“Mau apa?” tanya Pak Dodo mengagetkanku.
“Mau dapat nilai, Pak,” spontanku.
Pak Dodo terkekeh tapi manggut-manggut lalu memberikan selembar kertas soal yang sepertinya adalah tugas minggu lalu. “Kerjakan di kertas folio bergaris. Dua hari setelah ini kumpulkan.”
“Loh, Pak. Bentar banget ngasih tenggat waktu ngerjainnya?” portesku.
“Masih mau nilai gak? Kalau lebih dari itu nilaimu di kurangi sepuluh,” ancam Pak Dodo.
“Iya, mau..mau,” kataku cepat. Bisa ku lihat dari samping Rama tersenyum lagi. “Ya, Tuhan. Apa barusan saja aku sudah membuatnya tersenyum!”
“Rama, ini brosurnya. Kamu pikiran saja dulu baik-baik. Bicarakan dengan orangtuamu. Besok atau lusa kamu bisa kembali lagi kesini untuk keputusan finalnya.”
Mataku membelalak ketika melihat Pak Dodo memberikan brosur selebaran itu. Aku bisa melihat tulisan asing pada brosur tersebut dan satu kata yang bisa ku baca, Tokyo. ‘Universitas Tokyo?’
Aku keluar dengan mata limbung. Tokyo. Rama akan kuliah disana? Membayangkannya saja sudah sedih, aku akan kehilangan dia di sekolah, sebentar lagi ujian nasional. Mengetahui Rama akan melanjutkan kuliahnya keluar negeri membuatku kehilangan harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Bukankah harusnya aku bangga? Harusnya kan seperti itu…

Dua hari kemudian…
“Taruh saja di meja! Bapak sedang sibuk,” kata Pak Dodo sambil membaca-baca beberapa tumpukkan dokumen di mejanya. Aku berdeham, serasa tenggorokanku gatal. Sambil menaruh tugasku di mejanya. Aku melihat-lihat ruangan BP/BK yang tampak sempit dan sepi, selama ini aku tidak pernah memperhatikan ada data jumlah murid yang masuk dan keluar. Maksudnya data terbaru. Tapi hal ini sama sekali tidak enarik perhatianku, hanya saja… sebenarnya aku mencari Rama, bukankah harusnya dia juga kemari.
“Masih ada yang mau ditanyakan?” tanya Pak Dodo tanpa melihat ke arah ku.
“Enggak, Pak! Kalau begitu saya permisi.”
“Oh, tunggu sebentar!” tahan Pak Dodo, saat aku baru saja mau membuka pintu.
“Bapak minta tolong, panggilkan Rama anak kelas duabelas IPS satu kemari. Tolong ya, masih jam istirahat kan?”
‘Oh’ kataku tanpa bersuara. “Iya, Pak,” jawabku akhirnya yang terdengar sepertibtenggelam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan pikiran melayang-layang. Apa yang harus ku katakan pertama kali pada Rama nanti.
‘Hai, Kak dipanggil Pak Dodo tuh di ruang BK.’
Enggak… enggak gitu. Mataku memicing. Lalu mengulang lagi, ‘Permisi, Kak Rama ada gak? Kak Rama dipanggil Pak Dodo ke ruangannya’
Argggh mendadak jadi nervous gini, umpatku. Tanpa terasa kaki sudah berjalan jauh melangkah. Aku sudah berdiri di depan kelas duabelas IPS. Dengan kikuk aku menghampiri kelas IPS 1, sangat sepi. Tumben.
“Permisi.”
“Ya, cari siapa?” tanya seorang cewek berambut panjang pirang yang cukup cantik menurutku.
“Cari Kak Rama.”
Cewek itu mengernyit seakan jawabanku terdengar aneh.
“Rama,” cewek itu terdiam beberapa saat, tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab. “Rama udah gak sekolah disini lagi.”
Sontak aku terkejut, apa cewek itu salah mengira Rama yang mana. Ku lirik bagian atas pintu dimana nama kelas XII IPS 1 terpampang disana. Tidak salah lagi, ini kelasnya. Tapi mengapa dia mengatakan Rama sudah tidak sekolah lagi. Mungkin ada nama lain Rama. Tapi aku tidak tahu nama lengkapnya. Otakku berputar-putar mengingat-ingat lagi, seperti kilatan potret foto yang terpampang jelas. Ramaditya.
“Ramaditya!” seruku lantang.
Cewek yang masih berdiri di depan pintu itu tetap menggeleng. “Sudah setengah tahun yang lalu dia pindah karena sakit. Kita disini gak tahu lagi kabarnya gimana. Dia sembuh atau enggak,” kata cewek bertubuh kurus itu prihatin.
Aku tercengang dengan penjelasannya, masih curiga dan belum menerima aku berkata, “dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Kami ada di ruang BK bersama Pak Dodo.”
“Kalau kamu gak percaya, bisa tanya ke seluruh anak kelas duabelas yang lain. Dan juga Pak Dodo sendiri. Jelas dia tahu kemana Rama pergi.” Cewek itu terlihat marah membuatku mengurungkan niat untuk berdebat lebih jauh lagi.
Aku terdiam sepanjang jalan menuju ruang BK. Mungkin ada yang salah dengan penglihatanku waktu itu, atau pendengaranku. Jelas-jelas pak Dodo yang menyebutkan nama Rama.
Ku lihat Pak Dodo keluar membawa beberapa map yang sedang di periksanya tadi, dan pintu BK itu dikunci.
“Loh, Pak. Sudah tutup?”
“Iya. Ada apa? Ada yang ingin kamu konsultasikan?” Pak Dodo melihatku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Bukan, Pak! Saya cuma ingin memberi tahu kalau nama Rama sudah tidak di kelas IPS 1 lagi. Mungkin dia pindah kelas. Bapak bisa beritahu saya nama lengkapnya dan kelas barunya?” kataku yang terdengar begitu terburu-buru namun sangat yakin. Pak Dodo mengernyit bingung, reaksi yang ditimbulkan sama seperti cewek yang ditemuinya tadi.
“Apa yang kamu bicarakan? Bapak gak nyuruh kamu cari orang. Siapa tadi? Rama?”
Deg. Jantungku seperti diledakan jarum, lemas tak bertenaga. Tubuhku gemetar. Wajahku pasti sekarang pucat, meski aku tidak bisa melihatnya sendiri. Aku merasakan tanganku dingin dan buluk kudukku berdiri. Seperti tiba-tiba ada angin yang datang pelan-pelan dari arah koridor dekat ruang kelas duabelas dan menghembuskannya sekaligus di depan ruang BK.
“Mar, kamu baik-baik saja?” aku bisa mendengar Pak Dodo bertanya padaku tampak khawatir.

Rama memang sekolah di SMAJAK, singkatan nama SMA ku. Hanya satu tahun setengah dia belajar disini. Dia murid pindahan saat kelas sebelas semester pertama. Menginjak kelas duabelas semester kedua, dia sudah tidak bisa melanjutkan sekolah lagi. Bukan karena terbentur masalah biaya, karena keluarga Rama cukup berada. Akan tetapi, karena Rama sakit. Dia terkena tifus sangat lama, setelah itu tidak ada yang tahu lagi kemana dia, karena sulit dikunjungi. Kabar terakhir dari tetangga rumahnya, Rama pergi keluar negeri untuk mendapatkan pengobatan, pengobatan apa.. sepertinya sakitnya bukan lagi tifus. Rama sempat koma, dan sekarang entah seperti apa kondisinya.

Begitulah cerita Pak Dodo padaku setelah insiden aku hampir ambruk di depan ruang BK. Padahal selama ini aku selalu melihat Rama ada di sekolah ini. Melihatnya setiap kali aku mendapat hukuman.

photo: imgfave