FF: Secret Admirer

BLaz6RfCIAEd_xK
Main Cast:
– Kotoko Aihara
– Naoki Irie
The Family:
– Yuuki Irie (Naoki’s younger brother)
– Machiko Irie (Naoki’s mother)
– Shigeki Irie (Naoki’s father)
– Shigeo Aihara (Kotoko’s father)
Others Cast:
– Kinnosuke Ikezawa
– Jinko Komori
– Satomi Ishikawa
– Reiko Matsumoto/ Yuko
– Ayako Matsumoto (the little sister of Yuko)
– Sasukio
– Christine “Chris” Robbins
– Sudou
– Takendo Nakagawa
– Ryo Takamiya
– Others cast menyusul jika memang diperlukan.

Di awal musim panas, tahun ajaran baru kedua di Universitas Tonan. Kotoko sedang makan siang di cafetaria kampus bersama Jinko dan Satomi. Mereka sedang asyik membicarakan hari libur musim panas pertama yang jatuh pada hari esok. Satomi sangat excited, dia menceritakan bahwa besok akan pergi kencan dengan Ryo Takamiya ke Tokyo Disneyland. Jinko yang mendengarnya terkejut, ia juga akan pergi kencan kesana bersama pacarnya.
Kotoko yang tampak seksama memperhatikan mereka, mengerucutkan bibirnya dengan mata sedikit membulat. “mereka sangat bahagia bisa kencan di libur musim panas. Aku mungkin hanya akan di rumah. Andai saja aku bisa pergi bersama Irie-kun,” batinnya menerawang.
“Kotoko, apa kau mau ikut bersama kami? Kita bisa triple date,” seru Satomi antusias.
“Irie-kun tidak mungkin mau pergi denganku,” desah Kotoko.
“Siapa yang menyuruhmu mengajak Irie-kun? Kau dan dia kan memang belum ada hubungan,” timpal Satomi.
“Bagaimana dengan Kin-Chan? Dia juga pasti memiliki waktu luang besok. Kau dan Kin-chan adalah sepasang sahabat. Bagaimana?” usul Jinko yang langsung diberi anggukan persetujuan oleh Satomi.
Sementara orang yang diajak pergi malah melamun. Kotoko memikirkan apa yang akan dilakukan Naoki besok. ‘Apa dia akan tetap bekerja di café, atau pergi bermain tenis? Jika itu benar, maka sama saja dia pergi berkencan dengan Matsumoto?’ Kotoko menggeleng-gelengkan kepala, mengenyahkan pikiran anehnya dan ia mencoba kembali berbaur ke dunia sahabatnya yang sedang menyusun rencana untuk pergi ke Tokyo Disneyland besok.
Tanpa siapapun sadari, di bilik meja dekat jendela seseorang tengah duduk sambil menyesap café late nya, arah pandangnya memperhatikan ketiga gadis yang sedang asyik bercengkrama, matanya tak bisa lepas memandangi Kotoko.
“Mosi-mosi.”
“Ee, besok pagi jam sembilan. Baiklah, sampai bertemu nanti Kin-chan.”
Suara itu terdengar oleh nyonya Irie dibalik pintu kamar Kotoko, saat ia hendak memanggil Kotoko untuk makan malam. Mendengar percakapan Kotoko di telepon dengan seorang laki-laki yang ia ketahui adalah Kin-chan, nyonya Irie mulai berpikir untuk melakukan sesuatu.
Keesokan harinya…
“Have fun, Kotoko!” nonya Irie melambai di depan pintu. Sementara Yuuki yang sedang membaca buku melirik malas.
“Yuuki-chan,” tahan nyonya Irie saat melihat anak bungsunya itu akan naik ke atas.
“kau tidak ingin pergi jalan-jalan? Ini hari minggu. Bagaimana kalau kau pergi bersama Oniisan, kau pasti sangat merindukannya kan?”
Yuuki yang tadinya terlihat tidak mood tampak sedang memikirkannya. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya Yuuki pun setuju dengan usul ibu. Nyonya Irie begitu senang, ia pun segera menelepon Naoki untuk datang ke rumah menjemput Yuuki yang ingin pergi jalan-jalan dengannya. Naoki memang tidak punya rencana apa-apa di minggu pagi ini, meski sore hari ia harus segera kembali untuk bekerja.
“Have fun, oniisan!” ibu tersenyum lebar.
Naoki dan Yuuki pergi menuju Tokyo Disneyland.
“Hai, Kotoko-chan?” sapa pacar Satomi dan Jinko bersamaan.
“Hai!” balas Kotoko memamerkan senyum terbaiknya.
“Dimana Kin-chan? Apa dia tidak ikut datang bersamamu?” tanya Jinko.
“Iie, Kin-chan harus ke restoran dulu. Aku yang menyuruhnya untuk datang langsung kemari.”
Satomi dan Jinko mengangguk paham. Namun, tak lama setelah itu ada yang menyita perhatian Jinko. Ia memekik terkejut, “Irie-kun!!!” tunjuknya ke arah yang jauh di belakang Kotoko.
Mata Kotoko membulat setelah ia berbalik dan mendapati Naoki sedang berjalan ke arahnya bersama Yuuki.
“Huh, kenapa harus bertemu dia disini,” desah yuuki melewati Kotoko dan teman-temannya. Sementara Naoki dengan wajah coolnya tidak tertarik menoleh. Pandangan Kotoko dan teman-temannya mengikuti arah perginya Naoki dan Yuuki dengan ekspresi baka.
“Kotoko! Ini bukan kebetulan kan?” tanya Satomi serius.
“He-he,” Kotoko hanya nyengir tidak jelas, mengingat nyonya Ire yang menyemangatinya untuk pergi ke Tokyo Disneyland, padahal ia ragu untuk pergi.
Tak lama setelah itu, suara ponsel Kotoko berbunyi, ia mendapat panggilan telepon dari Kin-chan.
“Mosi-mosi.”
“A, tidak apa-apa! Kau jangan merasa tidak enak.” Kotoko mengangguk-angguk, lalu beberapa detik kemudian langsung menutup teleponnya sambil mendesah kecewa.
“Ada apa?” tanya Jinko penasaran.
“Kin-chan tidak bisa datang. Restoran sangat ramai, ia tidak bisa ijin keluar.”
Satomi dan Jinko saling memandang dan menghela nafas, lalu merangkul bahu Kotoko. “Tidak apa-apa. kau tetap bisa ikut, benarkan Ryo?” Satomi mengedipkan matanya pada pacarnya itu. “A, tentu saja!” jawabnya cepat.
“Okay, hurry up!” seru Jinko.
Kotoko tersenyum, meski perasaanya masih tidak enak karena begitu percaya diri bergabung dengan kencan mereka. Apa ia harus pulang saja? pikirnya.
**
Kotoko merasa wajahnya pucat pasi. Kepalanya berputar-putar. Jantungnya berdetak cepat. Perutnya mual dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia mencoba untuk duduk di bangku kayu panjang dekat wahana yang masih dimainkan Jinko dan Satomi. Mencoba Space Mountain disaat perasaannya seperti ini membuatnya ingin muntah. Ketika Kotoko ingin mencoba berdiri, tahu-tahu keseimbangan tubuhnya tidak normal. Ia terjatuh. Namun, tidak sampai terjadi karena seseorang datang menahan tubuhnya yang hampir roboh.
Selama beberapa detik Kotoko ada dalam rangkulan cowok bertubuh jangkung itu, selama itu pula Naoki ternyata memperhatikan mereka. Naoki yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Kotoko, hanya bisa memandanginya dengan tatapan yang dingin. Namun, rasa tidak suka melihat laki-laki yang menopang tubuh Kotoko itu membuat air mukanya tidak nyaman, ia tampak gelisah.
“Oniisan! Aku ingin es krim,” pinta Yuuki yang mendekatinya setelah puas bermain.
Naoki tersadar dari aksi memandangi Kotoko dan laki-laki asing itu. Ia pun akhirnya mengangguk dan menyuruh Yuuki untuk menunggu sebentar di tempat ini.
Entah sengaja atau memang tepat penjual es krim itu berada di jalan yang tak jauh dari Kotoko, Naoki melewatinya sambil melirik sekilas. Kotoko yang melihat Naoki meliriknya, buru-buru melepaskan diri dari laki-laki asing tersebut. “Irie~” Kotoko memekik teratahan.
Naoki sudah berjalan lurus melewatinya.
“Kau mau ku antar ke rumah sakit?” tanya laki-laki itu, yang sontak membuat Kotoko tersadar dari pandangannya yang tidak lepas melihat Naoki.
“A, tidak usah! Aku tidak apa-apa.”
“Kalau begtiu ku antar pulang, sepertinya kondisimu tidak memungkinkan untuk pulang sendirian,” rajuknya.
“Ano…” Kotoko ingin mengatakan kalau ia datang bersama teman-temannya, tapi mengingat Satomi dan Jinko sedang bersama dengan pasangan mereka, Kotoko tidak enak hati harus mengganggu kencan mereka.
“Dia datang bersamaku.”
Suara itu terdengar dekat, tahu-tahu sosok Naoki sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Kotoko bersama laki-laki yang usianya tampak seumuran dengannya itu menengadah, terlihat terkejut.
“Ayo pulang!” ajak Naoki yang terdengar seperti perintah.
“Kau tidak bisa lihat Kotoko sedang lemah?”
Kotoko lagi-lagi terkejut karena laki-laki yang menolongnya itu ternyata mengetahui namanya. “Bagaimana kau tahu namaku?”
Naoki yang juga terlihat terkejut tidak menampakan ekspresi keterkejutannya, ia malah bersikap dingin tanpa tertarik pada siapa laki-laki itu.
“Ano, aku Takedo Nakagawa. Penggemar rahasiamu dan kita satu kampus.”
“Penggemar rahasia?” Kotoko ternganga.
“Naiklah!” potong Naoki yang tiba-tiba berjongkok membelakangi Kotoko.
Masih terpana dengan pengakuan Takendo, perasaan Kotoko meletup-letup tidak karuan. Butuh beberapa detik sampai akhirnya ia naik ke punggung Naoki.
“Sampai jumpa Takendo. Arigatou!” Kotoko tersenyum.
“Oniisan!” Yuuki berlari menghampiri. Dia pikir kakaknya itu sudah membelikan es krim, malah ia melihat kakaknya menggndong Kotoko. Dengan coolnya Naoki terus berjalan, disusul Yuuki dari belakang.
Kotoko yang ada dalam gendongan Naoki tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia merasa tubuhnya tidak lagi lemas, seakan ada kekuatan yang ditransferkan Naoki padanya. ‘Ini seperti kencan sungguhan,’ batinnya dengan malu-malu terus tersenyum sambil merekatkan rangkulan tangannya.

Mohon dimaklumi ini hanya sekedar FF. Inspirasi dan kreatifitas adalah hak penulis. Ho-ho! Arigatou for reading ^^
itakiss-tokyo2_zpsb6193ada

Advertisements