Tamu Kehormatan 12/08/2013

Di hari libur yang setelah lebaran berkumpul dengan keluarga adalah momen yang membahagiakan. Bapak, Ibu, abang, teteh, dan ponakanku yang unyu masih berusia tiga belas bulan—memberikan keceriaan tersendiri bagi dalam keluargaku.
Benar kata lagu keluarga cemara, istana yang paling indah adalah keluarga. Dengan stay di rumah saja rasanya sperti surga. Namun, tentu saja aku berharap kami sekeluarga bisa menikmati liburan di luar rumah, pasti akan lebih menyenangkan dengan suasana baru.

Menjelang senja, suara shalawat, kemudian disusul adzan maghrib berkumandang. Aku beserta keluarga dikejutkan oleh kedatangan saudara dari Balaraja. Namanya Engkus. Dia sepupuku. Usianya lebih tua dari abangku, meskipun terpaut sangat jauh tapi mereka berdua cukup akrab.

Saat itu aku sedang mengambil air wudhu, abangku juga tidak ada di rumah−sedang keluar. Terdengar olehku yang menyambut di depan rumah adalah kedua orangtuaku dan teteh.

Setelah selesai shalat maghrib, aku terkejut karena sepupuku itu tidak sendirian, tetapi dia datang bersama teman-temannya sebanyak sebelas orang. Wow

Tak ada kabar apa-apa seblelumnya kalau sepukuku itu mau datang. Rumah pun seperti dihantam meteor saja. Rumah mendadak jadi ramai, apalagi dengan vespa yang terparkir di depan rumah. Sepupuku bersama teman-temannya berkonvoi memakai itu. wah…wah

Yang paling sibuk adalah ibuku, beliau jadi koki dadakan, memasak nasi dan lauknya dalam porsi besar hanya dalam waktu singkat, dibantu olehku sedikit-sedikit. hee

Syukurlah abangku sudah pulang, jadi kang Engkus dan kawan-kawan pun punya teman untuk mengobrol, masalah anak muda xoxo

Tepat pukul delapan sepupuku pamit untuk pulang. Loh… ku kira mereka akan menginap sampai besok baru melanjutkan perjalanan, ternyata tidak. Mendengar ceritanya memang target sudah ditentukan, mulai dari lokasi hingga waktu. Start dari Balaraja lalu berputar lewat Bandung, kemudian ke Tasikmalaya untuk ziarah di Pamijahan, baru ke Kuningan (rumahku di Caracas), setelah itu ke Cirebon untuk ziarah di sunan gunung jati. Mereka menargetkan ingin sampai Tanggerang pukul tiga dini hari.
Wah wah… apa mereka tidak capek ya? mungkin sudah terbiasa, berkonvoi untuk keliling kota ya..
Bayangkan saja lama perjalanan menggunakan vespa itu hingga kemari terhitung hampir tiga hari. Mungkin karena kondisi macet juga karena arus mudik.

Sungguh luar biasa ya… travelling yang unik dan merkayat sekali. Tidak perlu bermewah-mewah dengan mobil bagus atau naik pesawat terbang. Bermodalkan vespa saja bisa sampai tujuan, yang penting dengan selamat dan tujuannya baik. Alhamdulillah…

Sebelum pulang kita berfoto-foto dulu *sayangnya ada di kamera SLR abang, belum sempat dipindahkan ke pc*