Hear Me


Di pagi hari yang cerah tanpa suara kicauan burung atau suara-suara alam lainnya. Aku tiba di depan sekolah baruku. SMA Bakti yang terkenal dengan muridnya yang jago dalam bidang olahraga. Kebanyakan altet-atlet terkenal di Indonesia adalah alumni dari sekolah ini.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orangtuaku saat memindahkanku sekolah ini. Di sekolah lama aku tidak memiliki masalah yang serius, aku juga tidak mengeluh ingin pindah. Jarak sekolah baru dari rumahku saja lebih jauh dibandingan sekolahku yang dulu, jika alasannya transportasi sepertinya salah. Biaya, sepertinya juga bukan, meski keluargaku terbilang pas-pasan. Apa mungkin ini masalahnya? Ah, lagi-lagi aku sakit kepala jika harus memikirkannya. Akhirnya aku ikut saja maunya orangtuaku, aku tidak terlalu ambil pusing karena aku masih kelas sepuluh semester pertama, belum banyak teman yang harus aku tangisi dengan kepergianku.

Aku melangkah dengan mantap menjejakkan kaki di balik gerbang depan sekolah. Aku sudah memasuki kawasan halaman depan sekolah. Setelah berbasa-basi menemui kepala sekolah, guru, dan staf. Aku digiring masuk ke kelas yang tidak jauh dari ruang guru tadi.

Bisa ku dengar suara gaduh dengan dentuman-dentuman samar meja dan kursi yang terbayang olehku sedang beradu, serta decit-decit sepatu yang menghentakan lantai. Guru di sampingku terlihat tenang, sepertinya sudah biasa mendengar kekacauan ini.

Ketika kakiku sudah sampai bibir pintu, suara itu lenyap tersumbat headphone yang menempel di telinga. Aku menyapu sekitar, kelas dengan murid yang banyak ini tampak duduk rapih tanpa ada yang ganjil setitikpun.

Guru di sebelahku berdeham lalu memperkenalkanku pada semua murid dengan informasi seadanya, jika ingin lebih lanjut mengenalku lebih baik bertanya langsung padaku di luar jam pelajaran. Semua anak heboh dan bersiul-siul, saat aku juga sudah menyapa mereka. Lalu aku berjalan menuju bangku kosong di tengah-tengah barisan. Duduk sendirian.

Di jam istirahat dua orang murid perempuan mendekatiku, mereka memperkenalkan diri dengan nama Gina dan Anggun. Gina orangnya sangat lembut, terdengar dari suaranya yang mendayu-dayu. Sementaa Anggun dengan perawakannya yang atletis bersuara lebih lantang seperti murid laki-laki, dari penampilannya dia memang tomboy.
Aku menyunggingkan senyum penuh ramah menerima mereka untuk jadi temanku. Namun, tidak jauh di belakangku, seseorang tengah meluhatku terus-terusan tanpa berkedip. Bukan tatapan bersahabat yang ditampakkannya, melainkan tatapan tajam penuh kebencian, seperti ingin menerkamku. Leherku bergidik, tatapannya seperti bisa menghembuskan angin dan menggelitik bulu kudukku.

Satu minggu terlewati dengan mudah, aku dikenal baik oleh semua murid di kelas, bahkan satu sekolah karena kepopuleran anak baru di kalangan kakak kelas menyebar seperti wangi parfum blabla yang ditumpahkan untuk mengepel koridor.

Gina dan Anggun mengajakku ke kantin, kami bertiga semakin akrab dan tak bisa dipisahkan. Entah karena kepopuleranku mereka terus menempel padaku atau karena aku orangnya menyenangkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting aku ada teman sepanjang hari di sekolah tanpa takut dibully ataupun diasingkan. Seperti setelah ini, saat bel masuk berbunyi, Anggun malah pergi ke ruang olahraga, Gina ngacir ke toilet. Aku harus memilih ikut mana. Tentu tidak, aku masuk ke kelas saja. Siapa mereka yang harus terus menerus menempel padaku, bukankah lebih baik aku berjalan sendiri kalau-kalau ada kakak kelas yang menghampiriku mereka tidak sungkan karena aku sedang sendiri.

Namun, bayanganku didekati kakak kelas tidak pernah terjadi sampai saat ini. Bahkan ketika aku sendiri, aku mendengus dalam hati sambil menghentakkan kaki ke bibir pintu dan masuk ke dalam kelas yang duhnya minta ampun. Tapi, begitu aku masuk tidak banyak murid di dalam, suara gaduh yang kudengar barusan tidak mungkin asalnya dari segelintir mereka yang hanya berlima.

Aku berjalan masuk untuk duduk di bangkuku. Salah satu dari mereka yang duduk di paling belakang maju ke depan masih dengan tatapan tajam yang sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dia menghampiri mejaku lalu mendorong kursinya hingga terjungkal.
“Jangan duduk disini!” ucapnya sarkatis, begitu dingin hingga menyambar tengkuk leherku.
Aku yang tak tahan ditembaki tatapan tajamnya, membalas melotot. Apa salahku sih sampai dia yang belum mengenalku berani-beraninya menatapku sinis seperti itu? Kalau dia bisa semudah itu melakukan hal yang kasar terhadapku mengapa tidak, aku juga bisa membalasnya.

Kemudian dia tertawa. Tertawa meledekku.
Aku tidak mengerti, lebih tidak mengerti karena kelas ini tetap kosong. Kemana murid yang lain, Gina, Anggun, serta guru yang seharusnya masuk.
Kini yang terdengar suara tawa teman-temannya ikut menimpali, aku menutup telinga tidak tahan mendengarnya. Sampai akhirnya aku mendorong dia hingga tersungkur menabrak meja lain. Dia bangkit, menggeram lalu menubrukku. Hingga setelah itu semuanya gelap.
**

Perlahan-lahan aku membuka mataku, ada sinar menyilaukan seperti ada yang melaser mataku. Aku sedang terbaring di sebuah kasur yang tidak empuk dan baunya yang tidak sedap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan 4 x 6 meter ini. Yang ada hanya beberapa barang tak terurus seperti lemari di sebelah ranjangku yang reot. Meja dan kursi yang sudah terkelupas lapisan kayunya. Di dindingnya ada kotak bertuliskan P3K tergantung dengan warna putih yang mulai menguning.

Kini aku tidak mendengar suara apapun, hanya keheningan yang menjalar ke seluruh panca inderaku. Tak lama tiba-tiba ada sebuah suara terkikik memekakan telinga, begitu cepat merambat dan menumpahkan semuanya tepat di lubang telingaku. Mengenai gendang telingaku, rasanya begitu sakit. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan, mencoba agar tidak mendengar suara itu lagi. Sampai akhirnya kedua temanku masuk bermaksud menjengukku.
“Kamu udah baikan del?” tanya Gina lembut.
Aku mengangguk. Terharu mereka ada disini.
Anggun duduk sembarang di meja, lalu bertanya sesuatu yang membuatku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih del kok bisa pingsan di tengah-tengah jam pelajaran?”
“Semua orang jadi takut sama kamu,” sambung Gina.
Apa-apan ini mereka bilang aku pingsan di tengah jam pelajaran, padahal aku masuk kelas tidak ada siapa-siapa selain kelima anak bengal itu. Ya, mereka, salah seorang dari mereka yang membuatku bisa pingsan. Aku harus menceritakan pada Anggun dan Gina, tentang laki-laki yang duduk di belakang mereka, dari awal bertemu denganku hingga sekarang selalu melototiku tanpa sebab. Setelah menjelaskan yang sebenarnya mereka tiba-tiba tertawa. Anggun yang paling keras tertawa, Gina hanya berdeham kecil menyumpal tawanya.
“Mengapa kalian tertawa? Aku serius!”
Tawa mereka tidak pernah berhenti, justru semakin kencang, aku melotot kesal, gendang telingaku kembali berdenyut. Tawa mereka membuatku merasa sakit lagi. Kesal mereka mengabaikanku aku turun dari ranjang mendorong mereka, hingga Gina terjungkal dari kursinya, Anggun terjembab jatuh dari meja.
Dan semuanya menjadi gelap.
**

Di pagi hari yang cerah, tanpa kicauan burung dan suara-suara alam lainnya. Aku berdiri tegak di depan gerbang sekolah baru sambil menyeringai ke sudut koridor yang terlihat dari gerbang. Seorang laki-laki tengah menatapku tajam.
**
(pic: flickr)

Advertisements

Won Menjagamu

1) Irnalasari, twitter: @irnari

Beruang yang hidup di kutub saja bisa tahan dengan cuacanya yang dingin. Unta pun sanggup berjalan di gersangnya gurun pasir.
Gadis berambut panjang yang sedang berdiri di depan pintu kelas, mau bertahan lebih lama dari yang kukira. Sudah tiga puluh menit dia berdiri tegak tanpa penopang apapun. Wajahnya yang kelam tertutup rambutnya yang menjuntai ke depan. Kepalanya selalu menunduk seakan takut tersentuh cahaya raja siang.
Di antara murid yang lain, dia terlihat kontras. Semuanya sibuk bermain dengan teman-teman satu geng. Pergi ke kantin. Bercengkrama di halaman. Sementara gadis itu seakan sedang menyelami ubin di teras kelas dan semut bak ikan yang berenang di atasnya.
Lonceng berbunyi, gadis itu menengadahkan kepalanya. Rambutnya yang sejak tadi menutupi wajahnya, kini tersibak ke belakang. Ada seuntai harapan yang kudengar dari bunyi bel masuk. Aku bisa melihat wajahnya yang polos.
Menyadari suara bel itu, gadis itu bergerak, berbalik ke arah pintu. Belum sempat melangkahkan kaki ke pintu, murid lain berbondong-bondong masuk lebih dulu, menyeret gadis itu hingga tertinggal di belakang. Tubuhnya yang ringkih, sempat goyah terkena dorongan anarkis murid-murid yang tidak sabar ingin masuk kelas duluan.
Andai saja aku bisa masuk ke kelas yang sama denganmu. Aku ingin bisa menjagamu, menemanimu bermain di kala jam istirahat, mengajakmu belajar bersama.
Tapi, apalah aku ini… aku hanya bisa melihatmu tanpa bisa menghampiri. Aku hanya mampu memahami bahwa kau sehebat dan setegar beruang yang tinggal di kutub. Hidup seperti itu adalah hidup yang sesuai. Seperti aku yang selama ini berdiri tidak jauh darimu, karena tempatku memang di sini. Dalam sebuah tempat yang terbatas, tanah yang lembab, dan sinar matahari yang terik. Aku hanya daun bahagia yang hidup dalam pot.

Comments:
Aku suka cerita ini, karena aku enggak bisa nebak di awal cerita, tentang sudut pandang dari sisi mana yang dipakai oleh penulis. Aku kira mungkin seorang secret admirer yang adalah teman sekolah gadis itu. Tapi ternyata… Irna menyajikan ‘sudut pandang lain’ yang benar-benar meneduhkan. Great job! 😀

Cermin alias cerita mini yang aku ikut sertakan dalam lomba membuat cerita singkat dengan karakter 200-300 kata. Yang dalam cerita itu harus ada kata Menjagamu, Harapan, dan Kelam. Jurinya langsung penulisnya sendiri. Meskipun hadiahnya hanya novel, tapi aku sangat senang bukan main, karena aku mengikuti lomba ini ingin novel Menjagamu 😀
Terima kasih mbak Pia.
Berikut review Menjagamu yang aku buat setelah membaca bukunya 🙂

Semangat Anti Bullying

1753_10201672804210170_1237928492_n
Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Di kelas, aku orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pandai, tidak juga terlalu bodoh. Teman sekelasku yang bernama Mimin duduk di sebelah kiri bangkuku. Dia duduk sendirian, sementara yang lain punya teman sebangku. Kesanku hanya dengan sekilas melihatnya saja dia orang yang pendiam, pendiam karena apa… sepertinya karena tidak ada yang mau jadi temannya. Secara fisik, Mimin memang tidak se-oke yang lain, tidak cantik, tidak juga putih. Kulitnya yang ‘maaf’ seperti bekas habis terbakar membuat penampilannya di mata yang lain tidak sepadan. Untuk masalah ini aku sendiri juga sebenarnya belum pernah menanyakan langsung padanya. Ditambah lagi pakaiannya yang sedikit kumal, sepatu dan tas yang tidak bermerek. Rambutnya yang tergerai sebahu tampak tidak disisir.

Hari itu, aku mendapati bagaimana perilaku teman sekelasku yang lain padanya yang tampak jelas mengintimidasi. Nourma, murid paling pintar di kelas, selain diunggulkan di setiap mata pelajaran, dia juga diunggulkan soal penampilan. Cantik dan berkulit bersih, hidungnya mancung seperti orang indo.

Saat itu guru Matematikaku, Pak Sumarno memberikan soal Matematika yang sulit sebagai latihan untuk UAN nanti. Pak Sumarno yang melihat Mimin seperti tidak mengerti, menyuruh Nourma yang duduk di depan Mimin untuk membantu mengajarkannya soal yang sulit.
Saat jam istirahat, aku ada di kelas bersama ketiga sahabatku. Aku melihat Nourma sedang mengajarkan soal pada Mimin. Awalnya aku sangat salut bagaimana murid teladan di kelas seperti Nourma punya sikap yang baik membantu Mimin. Tapi, begitu aku melihat caranya mengajarkan, aku cukup terkejut.
“Duh, Miiiiin… masa kayak gini aja gak bisa sih? Begini nih!” Nourma menarik bukunya kasar.
Bisa kupastikan, Mimin tidak akan mengerti jika Nourma mengajarkannya seperti itu. Yang ada mungkin hanya rasa tertekan bahwa dia tidak bisa.
Dalam benak, aku berpikir, bagaimana cara dia bisa bertahan tiga tahun di sekolah tanpa teman ya, dan saat ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Karena di kelas, nilainya yang paling rendah.

Aku seperti bisa menyelami apa yang dirasakan Mimin.
Saat SD, aku pernah dibully oleh teman sekelas. Diantaranya ada yang suka mengolok-olokku dengan sebutan patung, ada juga yang menyebutku ekor, karena hanya bisa mengikuti satu temanku tanpa bisa bergaul dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, aku pernah sampai dipalak. Uang jajanku diambil semua. Aku hanya bisa menangis waktu itu.
Di kelas 3 SMP ini, seperti dejavu. Bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dengan pembully lagi. Dan kira-kira sebelum pembullyan yang dialami oleh Mimin terjadi, aku pernah mengalaminya juga. Tapi, bukan oleh Nourma atau murid-murid perempuan yang lain. Secara sosial hubunganku dengan teman-teman perempuan sangat baik. Namun, berbeda dengan murid laki-laki, aku harus berurusan dengan Heru dan Yopi, murid laki-laki yang paling punya kuasa di kelas.
Ketika aku sedang menulis di papan tulis karena aku ditunjuk sebagai sekretaris kelas, Yopi mengolok-olokku dari bangkunya.
“Nulis apaan sih, gak jelas.”
“Gambar apaan tuh? Setrikaan? Hahaha.”
Dan begitu seterusnya setiap kali aku menulis di papan tulis. Hingga entah sejak kapan aku memendam rasa kesal ini, aku seperti air soda dalam botol yang ditutup rapat sangat kencang dan tertekan. Sering dikocok hingga saatnya reaksi udara dalam botol itu tak bisa lagi ditampung. Duaaaarrrrr. Tutup botol terbuka dan memental sangat jauh. Seperti yang terjadi padaku saat itu, aku memegang kapur tulis sangat kencang dan… Pletak! Aku melemparkannya tepat sasaran, mengarah ke bangku Yopi dan Heru tempati. Tawa mereka seketika lenyap begitu saja.

Yah, bagiku sekarang mudah untuk membalas aksi pembullyan karena pengalaman 6 tahun di SD, hingga cukup tegar dan kuat menghadapi pembully.
Aku merasa ingin mentransfer seluruh energiku pada Mimin agar dia juga bisa berani sepertiku sekarang.
Yopi kali ini tidak berani membullyku lagi. Entah sejak kapan, dia malah membaik-baikkan aku, seperti, “Boleh minta tolong, namain LKS ku. Tulisan kamu rapih banget!”
“Huh!” Seperti baru sadar saja kalau memang tulisanku bagus. Buat apa aku dipilih jadi sekretaris coba?
Yah, secara tidak langsung pembullyan itu sangat menekan psikologis orang yang dibully. Bagi pembully mungkin hal-hal semacam itu sangat menyenangkannya, tidak ada rasa menyesal apalagi bersalah. Seakan si pembully itu orang yang paling merasa benar dan menginginkan kebenarannya itu dilihat semua orang, diperhatikan semua orang, disanjung semua orang. Tanpa memikirkan perasaan orang yang dibully itu tertekan.
Korban bully jadi merasa tidak percaya diri, dia membentuk bangunan rasa bahwa dia orang yang tidak diinginkan, hingga perasaan takut, malu, dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Bagaimana dia takut untuk menghadapi banyak orang, dunia sosial, disaat semua orang seperti itu terhadapnya, seperti mengutukinya dan memperhatikannya, dan salah-salah ketahuan, ya…diolok. Orang pendiam memang banyak jadi objek sasaran empuk bagi para pembully. Rasa seperti itu sangat menyakitkan. Bahkan di negeri ginseng saja, korban bully bisa mati bunuh diri saking tertekannya.

STOP BULLYING! Entah itu secara fisik maupun psikis. Kalau tidak mau keluarga, saudara, sahabat, atau orang yang anda cintai mengalami hal demikian, tolong mulai dari diri sendiri untuk menghargai orang lain. Jangan memandang secara fisik maupun sosial. Semua orang punya hak untuk hidup di dunia ini kan. Bagaimana Hak Asasi Manusia itu ada. Semua ini dasar bagaimana kita menciptakan kehidupan yang selaras membangun negeri dan melindungi dunia.

Terima Kasih banyak yang sudah membaca cerita singkatku mengenai Gerakan Anti Bullying. Buat temanku, maaf ya namanya dipakai, aku tahu kalian pasti sudah berubah. Masa-masa sekolah memang tidak lepas dari pencarian jati diri yang terkadang menimbulkan sifat kekanak-kanakan. Semoga cerita dari pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran, bahwa bullying itu sangat merugikan. Sekali lagi, semangat anti bullying!!! ^O^/

Love is Punishment

tumblr_mp17izCKlO1rv8i8ko1_400
Jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Aku masih berdiri di depan halte menunggu bis datang. Tampak jalanan sangat lengang, hanya ada dua atu tiga mobil pribadi lewat dan lebih banyak kendaraan roda dua yang berseliweran. Jalanan di dekat rumahku terbilang tidak terlalu ramai. Jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk berjodoh dengan bis.
Sepertinya alamat telat akan menempel pada nasibku hari ini. Mana sekarang hari senin, harus upacara dan ada ulangan Kewarganegaraan dipelajaran pertama. Kakiku sudah mulai keram berdiri terlalu lama, bangku halte tidak pernah kosong, selalu saja ada yang mendahului untuk duduk. Lima menit lagi. Ya ampun… bagaimana ini? Aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa kesal yang berkecamuk di hati. Ingin rasanya mengomel pada mobil-mobil yang lewat, tidakkah ada yang mau rela berbagi tumpangan pada murid kelas sepuluh ini?

Akhirnya bis yang ditunggu datang juga, belum hilang ras kesalku, aku masih mengumpat-ngumpat dalam hati karena bis berjalan sangat lambat. Bisa dilhat kalau memang bis ini tidak terlalu penuh penumpang, makanya bis merayap seperti siput yang sedang mencari tempat lembab.
“Ongkosnya neng!”
Aku memberi uang Rp 2,000 yang diambil dari saku seragam.
“Kurang neng.”
Aku mendelik melihat knek itu. “Biasanya juga segitu,” kataku ketus.
“Yah, neng. Sekarang kan BBM udah naik, emang neng gak liat beritanya di tipi?” terdengar penekanan ‘p’ yang sangat tinggi.
Aku mendengus, lalu mengambil lagi uang seribu di saku. “Nih!”
“Nah gitu dong neng!” sang knek terlihat senang.

Sial… sial… kataku dalam hati. Pak Tono udah ada aja di depan gerbang dengan memasang wajah angkuh, wajahnya itu memang terbilang tidak pantas menorehkan senyum, air mukanya selalu terlihat sinis dan galak. Diam saja sudah seperti itu, apalagi kalau beneran marah. Makanya, Pak Tono ini guru yang paling ditakuti di sekolah.
“Baris yang rapih!” teriak Pak Tono. “Hey, kamu juga yang baru datang, cepat!!” tunjuknya padaku. Aku tersentak buru-buru masuk , dengan dibukakannya gerbang oleh satpam. “Cepat, ikut berbaris sana!”
Aku mengangguk menurut, baris dibagian belakang saja. Aku cukup terkejut dengan jumlah murid yang kesiangan hari ini, kebanyakan sih laki-laki, perempuan termasuk aku hanya ada lima orang. Sementara laki-laki berjumlah sepuluh orang. Sangat fantastis sekali murid sekolah ini. Sebenarnya apa alasan mereka terlambat, perasaan ingin tahu menggelitik hatiku. Entah apa yang sudah diceramahi Pak Tono pada kami, aku tidak mendengarkan dengan seksama, mataku masih saja tertarik melihat siapa-siapa yang senasib denganku. Siapa tahu ada teman sekelas. Sialnya tidak ada.

Sudah satu jam lebih duapuluh menit kami dihukum berdiri di halaman depan dekat gerbang. Aku melihat lapangan yang terhalang oleh kantor guru itu tampak lengang, artinya upacara sudah selesai.
“Bersihkan kantor guru sebelum kalian masuk kelas!” perintah Pak Tono. Kami pun membubarkan diri, entah baru sadar atau memang sebuah keajaiban, murid laki-laki yang ternyata berada di barisan paling depan itu adalah Rama. Kakak kelas paling populer karena ketampanannya, bagiku dan kalangan kelas sepuluh dan sebelas. Aku tidak bisa menahan diri untuk memekik girang, tapi syukurlah aku masih bisa menahannya. Kenapa aku baru sadar dia ada, jika tahu sejak tadi dia ada disini, aku memutuskan untuk sebaris dengannya atau menerobos baris di dekatnya. Hembusan nafasku mendadak panas membayangkannya hal itu. Tak sengaja pandangan kami pun bertemu, ketika kami sudah selesai membersihkan ruang guru. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat dia berjalan melewati kelasku untuk sampai ke kelasnya. Sungguh hal yang jarang terjadi, bisa dilihat dari histerisnya teman sekelasku yang melihatnya berjalan lewat kelas X.5. Hari ini tidak terlalu buruk, meski sudah bersumpah serapah kesal sejak tadi pagi, akhirnya ada perasaan bahwa pagi tadi itu tidak pernah terjadi, seperti sudah terbayar dengan nasib mendapat hukuman paling menyenangkan ini.

“Ulangan KWN lisan!” seru salah seorang murid yang berlari dari arah kantor sambil membawa beberapa tumpuk buku tugas kemarin yang dikumpulkan. Dan saat itu pula guru Kewarganegaraan yang berkepala plontos itu muncul di belakangnya sambil membawa setongkat kayu yang panjangnya hampir semeter. Memang sudah jadi ciri khas Pak Endang.
Hari yang masih buruk. Aku meneguk ludah.
**

Sudah tiga hari setelah terlambat masuk sekolah saat itu. Hari ini aku terlambat lagi. Kali ini bukan karena bis nya yang datang terlambat melainkan aku yang bangun kesiangan. Semalam habis nonton drama Korea sampai larut. Yak, mengejar 4 episode terakhir yang dilahapku sekaligus.
“Buka sebelah sepatunya!”
Aku terbengong, tidak ada hukuman dijemur dulu atau membersihkan ruang guru. Memang kalau untuk hari biasa, sekolah menetapkan peraturan bagi siswa yang terlambat harus melepas sepatunya sebelah. Sebelah kanan yang disita di ruang guru sampai pulang sekolah. Selain itu menuliskan nama di absen buku pelanggaran. Aku mendecak kesal setelah melepaskan sepatu sebelah kananku. Sekarang aku berjalan terpincang dengan memakai sepatu sebelah.
Malu sekali, aku berjalan melewati koridor-koridor kelas, semua orang kini tampak melihatku cekikikan. Meskipun dengan maklum, tapi tetap saja aku malu. Apalagi tiba-tiba saja ada suara tawa terbahak-bahak saat aku melewati kelas XII. Aku menunduk, menutupi wajah yang sudah seperti udang rebus.
“Hey, bro! Sepatu model barru ya!” kata seseorang dari kelas XII IPS 1 itu. Aku meneguk ludah melihatnya, sepertinya aku cukup mengenal orang ini, meski aku tahu dia tak mungkin mengenalku. Ya, dia teman sekelas Rama. Ah, sekarang tahu-tahu wajahku tambah memerah saja, hanya karena menyebut namanya dalam hati.
“Rese lo,” terdengar suara di belakangku. Oh, mereka bukan mentertawaikanku, tapi mentertawakan Rama. Rama, Rama yang memakai sepatu sebelah sepertiku.
Wajahku kini sudah seperti tomat yang sudah siap petik, saat Romi sudah berjalan mendekat dan tahu-tahu sudah meleos saja melewatiku, menghambur pada teman-temannya. Mendadak saja aku berpikir hukuman terlambat masuk seolah adalah hal termanis. Tidak buruk berjalan kaki nyeker sebelah seperti ini.

“Mar, dipanggil Pak Dodo tuh!” kata Liana, teman sebangkuku, saat aku baru saja menginjakkan kaki di koridor kelas sepuluh tiga, masih ada dua kelas menuju kelasku.
‘Oh’ responku tanpa bersuara. Aku bangkit dari kursi menuju ruang BK karena Pak Dodo memang selalu berada di ruangan itu. Beliau memang guru BP/BK.
“Assalamu’alaikum,” aku mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam. Masuk saja!” sahut Pak Dodo dari dalam. Kemudian aku masuk dan mendapati Pak Dodo sedang kehadiran murid lain.
“Ram, sebentar ya!” kata Pak Dodo pada murid yang sedang duduk dihadapannya itu, namun sedang membelakangiku.
‘Ram? Rama?’ pikirku.
“Kemari!”
Aku masih mematung dengan pikiran menerawang sendiri tentang nama yang disebutkan Pak Dodo. ‘Ram’
“Hey, Marisa!”
“Oh,” aku tersadar, lalu menghampiri Pak Dodo. “Siap, Pak! Ada apa?”
“Kau belum mengerjakan tugas pelajaran Bapak ya?”
“Eh, tugas yang mana Pak?” kataku sambil menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.
“Mar, mar, minggu lalu itu pasti karena gak masuk. Memang apa susahnya sih nanya ke temanmu ada tugas atau tidak.”
“Maaf, pak. Saya beneran lupa,” kataku tertunduk. Aku bisa melihat laki-laki yang masih duduk di sampingku itu sejak tadi menatap lurus ke depan, dan kini menengokkan kepalanya sedikit ke arahku. Aku bisa merasakan hawa panas pada wajahku dan debaran keras jantungku yang jauh lebih hebat dari tiga hari lalu. ‘Rama!’ jeritku dalam hati.
“Kau masih mau mendapat nilai atau tidak?” tanya Pak Dodo berusaha sabar menghadapiku.
Aku mengangguk. “Mau, Pak.” Rama terlihat tersenyum saat aku mengatakan kata mau.
“Mau apa?” tanya Pak Dodo mengagetkanku.
“Mau dapat nilai, Pak,” spontanku.
Pak Dodo terkekeh tapi manggut-manggut lalu memberikan selembar kertas soal yang sepertinya adalah tugas minggu lalu. “Kerjakan di kertas folio bergaris. Dua hari setelah ini kumpulkan.”
“Loh, Pak. Bentar banget ngasih tenggat waktu ngerjainnya?” portesku.
“Masih mau nilai gak? Kalau lebih dari itu nilaimu di kurangi sepuluh,” ancam Pak Dodo.
“Iya, mau..mau,” kataku cepat. Bisa ku lihat dari samping Rama tersenyum lagi. “Ya, Tuhan. Apa barusan saja aku sudah membuatnya tersenyum!”
“Rama, ini brosurnya. Kamu pikiran saja dulu baik-baik. Bicarakan dengan orangtuamu. Besok atau lusa kamu bisa kembali lagi kesini untuk keputusan finalnya.”
Mataku membelalak ketika melihat Pak Dodo memberikan brosur selebaran itu. Aku bisa melihat tulisan asing pada brosur tersebut dan satu kata yang bisa ku baca, Tokyo. ‘Universitas Tokyo?’
Aku keluar dengan mata limbung. Tokyo. Rama akan kuliah disana? Membayangkannya saja sudah sedih, aku akan kehilangan dia di sekolah, sebentar lagi ujian nasional. Mengetahui Rama akan melanjutkan kuliahnya keluar negeri membuatku kehilangan harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Bukankah harusnya aku bangga? Harusnya kan seperti itu…

Dua hari kemudian…
“Taruh saja di meja! Bapak sedang sibuk,” kata Pak Dodo sambil membaca-baca beberapa tumpukkan dokumen di mejanya. Aku berdeham, serasa tenggorokanku gatal. Sambil menaruh tugasku di mejanya. Aku melihat-lihat ruangan BP/BK yang tampak sempit dan sepi, selama ini aku tidak pernah memperhatikan ada data jumlah murid yang masuk dan keluar. Maksudnya data terbaru. Tapi hal ini sama sekali tidak enarik perhatianku, hanya saja… sebenarnya aku mencari Rama, bukankah harusnya dia juga kemari.
“Masih ada yang mau ditanyakan?” tanya Pak Dodo tanpa melihat ke arah ku.
“Enggak, Pak! Kalau begitu saya permisi.”
“Oh, tunggu sebentar!” tahan Pak Dodo, saat aku baru saja mau membuka pintu.
“Bapak minta tolong, panggilkan Rama anak kelas duabelas IPS satu kemari. Tolong ya, masih jam istirahat kan?”
‘Oh’ kataku tanpa bersuara. “Iya, Pak,” jawabku akhirnya yang terdengar sepertibtenggelam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan pikiran melayang-layang. Apa yang harus ku katakan pertama kali pada Rama nanti.
‘Hai, Kak dipanggil Pak Dodo tuh di ruang BK.’
Enggak… enggak gitu. Mataku memicing. Lalu mengulang lagi, ‘Permisi, Kak Rama ada gak? Kak Rama dipanggil Pak Dodo ke ruangannya’
Argggh mendadak jadi nervous gini, umpatku. Tanpa terasa kaki sudah berjalan jauh melangkah. Aku sudah berdiri di depan kelas duabelas IPS. Dengan kikuk aku menghampiri kelas IPS 1, sangat sepi. Tumben.
“Permisi.”
“Ya, cari siapa?” tanya seorang cewek berambut panjang pirang yang cukup cantik menurutku.
“Cari Kak Rama.”
Cewek itu mengernyit seakan jawabanku terdengar aneh.
“Rama,” cewek itu terdiam beberapa saat, tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab. “Rama udah gak sekolah disini lagi.”
Sontak aku terkejut, apa cewek itu salah mengira Rama yang mana. Ku lirik bagian atas pintu dimana nama kelas XII IPS 1 terpampang disana. Tidak salah lagi, ini kelasnya. Tapi mengapa dia mengatakan Rama sudah tidak sekolah lagi. Mungkin ada nama lain Rama. Tapi aku tidak tahu nama lengkapnya. Otakku berputar-putar mengingat-ingat lagi, seperti kilatan potret foto yang terpampang jelas. Ramaditya.
“Ramaditya!” seruku lantang.
Cewek yang masih berdiri di depan pintu itu tetap menggeleng. “Sudah setengah tahun yang lalu dia pindah karena sakit. Kita disini gak tahu lagi kabarnya gimana. Dia sembuh atau enggak,” kata cewek bertubuh kurus itu prihatin.
Aku tercengang dengan penjelasannya, masih curiga dan belum menerima aku berkata, “dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Kami ada di ruang BK bersama Pak Dodo.”
“Kalau kamu gak percaya, bisa tanya ke seluruh anak kelas duabelas yang lain. Dan juga Pak Dodo sendiri. Jelas dia tahu kemana Rama pergi.” Cewek itu terlihat marah membuatku mengurungkan niat untuk berdebat lebih jauh lagi.
Aku terdiam sepanjang jalan menuju ruang BK. Mungkin ada yang salah dengan penglihatanku waktu itu, atau pendengaranku. Jelas-jelas pak Dodo yang menyebutkan nama Rama.
Ku lihat Pak Dodo keluar membawa beberapa map yang sedang di periksanya tadi, dan pintu BK itu dikunci.
“Loh, Pak. Sudah tutup?”
“Iya. Ada apa? Ada yang ingin kamu konsultasikan?” Pak Dodo melihatku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Bukan, Pak! Saya cuma ingin memberi tahu kalau nama Rama sudah tidak di kelas IPS 1 lagi. Mungkin dia pindah kelas. Bapak bisa beritahu saya nama lengkapnya dan kelas barunya?” kataku yang terdengar begitu terburu-buru namun sangat yakin. Pak Dodo mengernyit bingung, reaksi yang ditimbulkan sama seperti cewek yang ditemuinya tadi.
“Apa yang kamu bicarakan? Bapak gak nyuruh kamu cari orang. Siapa tadi? Rama?”
Deg. Jantungku seperti diledakan jarum, lemas tak bertenaga. Tubuhku gemetar. Wajahku pasti sekarang pucat, meski aku tidak bisa melihatnya sendiri. Aku merasakan tanganku dingin dan buluk kudukku berdiri. Seperti tiba-tiba ada angin yang datang pelan-pelan dari arah koridor dekat ruang kelas duabelas dan menghembuskannya sekaligus di depan ruang BK.
“Mar, kamu baik-baik saja?” aku bisa mendengar Pak Dodo bertanya padaku tampak khawatir.

Rama memang sekolah di SMAJAK, singkatan nama SMA ku. Hanya satu tahun setengah dia belajar disini. Dia murid pindahan saat kelas sebelas semester pertama. Menginjak kelas duabelas semester kedua, dia sudah tidak bisa melanjutkan sekolah lagi. Bukan karena terbentur masalah biaya, karena keluarga Rama cukup berada. Akan tetapi, karena Rama sakit. Dia terkena tifus sangat lama, setelah itu tidak ada yang tahu lagi kemana dia, karena sulit dikunjungi. Kabar terakhir dari tetangga rumahnya, Rama pergi keluar negeri untuk mendapatkan pengobatan, pengobatan apa.. sepertinya sakitnya bukan lagi tifus. Rama sempat koma, dan sekarang entah seperti apa kondisinya.

Begitulah cerita Pak Dodo padaku setelah insiden aku hampir ambruk di depan ruang BK. Padahal selama ini aku selalu melihat Rama ada di sekolah ini. Melihatnya setiap kali aku mendapat hukuman.

photo: imgfave

Benteng pertahanan diri

tumblr_mp1cf4IJIn1s945zmo1_500
Aku menunggu seorang diri pukul 8 pagi tepat, seperti yang sudah dijanjikan seseorang untuk mengukuhkan jabatan resmi organisasi HIMA FE. Aku tak berani masuk, bukan karena aku pemalu seperti biasanya, tapi karena aku tak yakin, apakah aku ada dalam bagian jabatan itu seperti yang selalu laki-laki itu celotehkan. Keyakinanku tiba-tiba saja mengendur semenjak perjanjian itu melenceng dari keputusan yang sering dia ucapkan untuk meyakinkan kami hadir. Namun, satu pesan masuk yang diterima dari temanku yang mengatakan aku hanya anggota biasa. Pantas saja laki-laki itu tidak mengabariku kalau hari ini pelantikan dan semuanya harus resmi memakai batik. Meskipun aku tidak diberitahu akan hal itu darinya langsung, tapi aku ingin memastikan untuk datang, datang tanpa memberitahu siapapun, karena memang ternyata aku tidak diundangkan? Aku hanya ingin memastikan.
Waktu yang sudah dijanjikan tiba. Sudah pukul 8 lewat rupanya, tapi tak ada yang mengirimiku sms, menanyakan keberadaanku dimana? mengapa aku belum datang? atau rapat akan segera dimulai. Hingga akhirnya aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Menunggu di tempat yang teduh, aman, dan dilindungi oleh Allah.
Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, seorang temanku mengirimiku pesan singkat. “Kamu hanya jadi anggota biasa.”
Aku merenungkan isi pesan itu. Bagaimana bisa hanya menyuruh seseorang mengirimkan pesan itu, setelah aku menunggu tiga jam seorang diri. Menunggu kepastian yang akhirnya seperti ini. Tanpa sengaja air mataku sudah menetes, aku tidak bisa membendung air mataku, aku merasa tidak memiliki teman saat itu, teman yang selama ini selalu bersama-sama di kelas. Aku berusaha menenangkan diri, menguatkan hati, mungkin akan ada penjelasan dari mereka untukku. Sambil menunggu.. aku membasuh wajah untuk berwudhu, shalat dhuha tampaknya akan membuat hatiku lebih tenang. Setelah melaksanakan shalat sunnah, aku segera mengecek handphone, tak ada pesan lagi yang masuk. Aku bingung harus kemana, aku tidak mungkin muncul di depan mereka yang jelas-jelas sedang merayakan resminya jadi anggota HIMA. Masuk kelas pukul 12, sementara sekarang sudah hampir pukul sebelas. Waktu dzuhur masih lama, aku tidak punya pilihan lain selain menanyakan kabar teman dekatku diluar kampus. Kebetulan dia fakultas komputer, aku menghubunginya, apa dia ada di kampus, syukurlah dia ada. Dan aku membuat janji bertemu dengannya, dia menungguku di depan perpus dekat kelas fakultasnya.
Aku menyeka air mataku, aku mencoba tersenyum tegar, seakan hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Aku melangkah mencoba seriang mungkin menghampiri temanku. Kami banyak bercerita, hingga tak terasa waktu sudah memasuki waktu dzuhur dan temanku pun harus segera masuk kelas. Akhirnya aku memutuskan kembali ke mesjid untuk melangsungkan shalat dzuhur berjamaah karena di siang hari mahasiswa sudah mulai berdatangan.
Setelah ini aku harus mempersiapkan diri menghadapi teman-teman. Tetapi, saat berlangsung hingga berakhirnya mata kuliah tak ada satu pun yang menyinggung tentang pelantikan tadi, begitu pun aku sendiri, karena aku ingin mereka yang terbuka menyampaikan penjelasan bahwa statusku tidak menjadi apa-apa. Dan si ketua HIMA FE baru itu bahkan tidak meminta maaf atau menjelaskan bahwa aku memang tidak menjadi bagian dari HIMA, ya… setelah sebelumnya menggembor-gemborkan padaku untuk ikut rapat sebelum pelantikan. Mulai detik itu juga aku sangat ilfil dengan orang tersebut, dia orang yang sangat tidak bertanggung jawab. Aku mulai meragukan bagaimana jadinya HIMA yang diketuai oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk hal sekecil ini (bagiku ini bukan kecil tidaknya, tapi aku merasa masalah ini cukup besar dalam arti aku sangat sakit hati karena tidak dihargai).
Beberapa minggu kemudian, seorang twman sekelas ku yang kebetulan bukan merupakan bagian dari HIMA, mengajakku ikut organisasi BEM. Awalnya aku ragu, namun setelah dipikir-pikir tidak salahnya aku mencoba, aku tidak mau tertinggal, jika aku menolak, aku bisa diinjak-injak oleh si ketua HIMA yang baru dilantik itu. Akhirnya aku pun mengiyakan akan masuk menjadi anggota BEM, senangnyaaa.. jabatan BEM lebih tinggi dari HIMA 😀 Aku bisa membuktikan pada si ketua HIMA dan teman-temanku yang lain bahwa aku bisa, bahwa aku mempunyai kemampuan. Ini seperti sebuah bayaran dari rasa sakit hatiku. Di BEM aku bertemu orang baru, kakak-kakak senior sehingga aku jadi punya teman baru, tidak seperti di HIMA yang temannya hanya itu-itu saja (teman sekelas), tentunya akan sangat membosankan. Selain itu banyak sekali kegiatan yang aku lakukan di BEM, pokoknya banyak sekali manfaatnya. Tidak seperti HIMA, selentingan yang ku dengar, HIMA tidak memiliki program yang banyak, hanya satu program wajib yang dilaksanakannya yaitu Temu Warga. Aku jadi tertawa sendiri, karena dulu pernah berharap bisa ikut organisasi HIMA bersama teman dekat di kelas. Alhamdulillah ternyata ada hikmahnya aku tidak ikut bagian dengan mereka. Selentingan kabar bahwa di HIMA sistem kerjanya tidak produktif, apalagi dengan ketua HIMA berwatak seperti dia. Benar sajakan feelingku, pasti HIMA tahun angkatannya tidak akan memuaskan. Yah bersyukurlah aku tidak termasuk bagian dari mereka.
Ini hanya cerita, kalau terjadi kesamaan tokoh, watak, latar itu adalah hal yang disengaja bagi penulis. LOL
Akhir kata… gomen nasai. Thanks for reading my short story.

(photo: imgfave.com)