Reuni


Rasanya baru kemarin seragam putih abu melekat di badan.
Rasanya baru krin duduk di kursi dan menopang kedua tangan di meja dari pagi hingga siang.
Rasanya baru kemarin berkutat dengan buku tulis dan LKS.
Rasanya baru kemarin dididik seorang guru.
Rasanya baru krin berkawan dengan teman sekelas dan seluruh murid sekolah.
Ya, Sekolah Menengah Atas.
Banyak sekali kenangan yang indah dibandingkan perasaan gundah.

Aku meninggalkan bangku SMA di tahun 2009. Seperti baru kemarin saja, nyatanya sudah empat tahun yang lalu. Perasaan rind iu sangatlah meletup-letup bagai bongkahan arang dalam api yang menyala-nyala. Dapat mereda jika bertemu air.
Seperti hari minggu kemarin, tanggal 11/08/2013. Rencana yng sudah disepakati sebelumnya lewat whatsapp x-5 community. Kami berencana untuk mengadakan reuni, meski ganya bersifat main (tidak seformal reuni yang kompak dan hadir semua) karena hanya beberapa yang bisa ikut.
Berenam termasuk aku. Meski hanya berenam tapi suasana menyenangkan tetap terasa. Dimulai pukul sebelas siang kami bertemu di rumah Yati di Nanggerang.

Obrolan ringan, candaan dan tawa saat mengenang masa-masa kelas sepuluh SMA. Mengabsen siapa saja yang diingat, “sekarang dia dimana ya?” “dia sekarang begini ya” “dulu dia begini” “siapa yang sudah menikah lebih dulu” “kulaih atau kerja dimana sekarang”.

Kami menceritakan pengalaman masing-masing selama empat tahun terakhir tidak bertemu, “banyak hal-hal yang terduga atau bahkan tidak terduga. Tak ada yang banyak berubah atau sebenarnya banyak yang berubah. Tapi setidaknya kami berenam bisa berkumpul disini, menguatkan bukti kami tidak sepenuhnya berubah (ada ingatan bahwa kita semua berkawan). Rasanya tak ada yang lebih indah selain berkumpul seperti ini dengan teman-teman SMA. Rasanya igin seperti ini terus, berkumpul dengan mereka, bermain dan belajar bersama mereka seperti saat SMA dulu.

Namun, masa lalu tidak mungkin terulang, yang ada hanya melanjutkan dan atau memperbaharui.
Mendengar cerita Yati, Putri, dan Umi yang sudah bekerja. Atau Euis yang sudah selesai sidang dan bulan ini segera wisuda. Lalu Gea yang masih kuliah sama.sepertiku–membuat aku sendiri menggebu-gebu ingin cepat-cepat meraih cita-cita dan kesuksesan. Meskipun aku masih duduk di bangku kuliah karena mengambil angkatan 2010 lantaran keluar daei kampus lama. Tapi, itu semua tidak menyurutkanku untuk berhenti berharap. Masih kuliah bukan berarti tidak bisa bekerja atau menggapai cita-cita.Tak perlu harus menunggu lulus, jika aku mau dan yakin bisa, aku pasti bisa mencapai impianku.

Semoga reuni ini menjadi cikal ada reuni selanjutnya, entah tahun depan atau mugkin dalam dekat ini lagi…
Yang terpenting jangan sampai hilang komunikasi… Ingat hal-hal baik saat bersama-sama mereka, bahwasannya hidup tidak akaan pernah lepas dari ketergantungan, termasuk ketergantungan teman (silaturahmi). Karena tanpa itu kita bukan siapa-siapa di bumi ini.
Silaturahmi memang menyehatkan, memperpanjang umur dan rejeki 🙂
Semoga tali silaturahmi kita tidak pernah terputus meski dibentangkan jarak yang jauh. Aamiin 🙂

Cara saya mengisi waktu liburan

tumblr_mp0p2iRbLI1rjzbk4o1_500

Haii, minna-san!
Kali ini saya kembali ingin share about cara saya..
Berhubung sedang liburan, jadi saya posting mengenai kegiatan apa saja sih yang dilakuin selama liburan. Apalagi libur akhir semester sampai lebaran.

Tahun lalu liburan saya agak terganggu karena jadi panitia OSPEK. Tapi, saat itu saya masih bisa baca beberapa novel sih. Kalau untuk belajar bahasa inggris dan korea masih belum bisa dirampungin. Apalagi nulis -_-

Sebaliknya, tahun ini saya lebih banyak free time. Jadi, waktu untuk baca, nulis, nonton, belajar bahasa inggris dan korea (hangul) bisa dilaksanakan semua. Malahan, kali ini bertambah satu bahasa yang saya pelajari, yaitu jepang (dengan huruf katakana, hiragana, dan kanji) fuuuuh

Selain itu, liburan kali ini saya juga bisa puas bloging, entah itu posting di blog buku ataupun blog freedom ini. Bahkan, bacaanku juga sekarang nambah banyak. Tahun ini saja reading challenge 2013 saya targetnya 50 buku, ditambah event reading challenge yang digelar beberapa blogger BBI yang saya ikuti. Contohnya seperti master post yang ada diblog buku saya ini dan ini.

Sekarang pun, waktu sketching saya lebih banyak. Karena biasanya kalau saya jenuh dan malas untuk menulis, membaca, blogging, belajar multilingual language, saya akan menggambar. Kalau sudah menggambar itu rasanya perasaan lega banget, unek-unek lepas, kepenatan otak tersalurkan 😀

Yak, inilah buku sketsa saya, yang selama ini selalu menemani^^

Boring banget dong di rumah terus?
Enggak kok. Saya juga suka pergi main keluar. Entah itu cuma ke rumah teman dekat, tetangga rumah, atau hunting buku dan shopping ke mall. Kalau ada budget gede bisa liburan keluar kota (travelling) /tsah.

Gimana cara bagi waktunya tuh? Padat banget, jadwalnya melebihi artis.
Hi-hi. Kata siapa padet. Nyantai kok. Nah, lagi-lagi saya tekankan nih.. yang namanya pekerjaan didasarkan hobby jatuhnya jadi asyik, serius!! Makanya, coba deh cari passion mu. Biar hidup juga gak disia-siain untuk hal yang sebenarnya gak kita suka. Be yourself!!

Nah, segitu sih cara saya berlibur. Produktifkan? Dan karena hobby, ngejalaninnya juga enjoy 😀

Jangan segan buat komen ya 😉

(cr photo: imgfave)

Cara saya mendapat buku gratis

large_11

1. Follow banyak penerbit dan penulis/fansclub penulisnya
Biasanya kalau sudah musim novel-novel yang baru terbit, penerbit dan penulis sangat gencar melakukan promosi. Agar lebih menarik biasanya diadakan kuis. Kuisnya fleksible jadi tidak melulu sama. Hanya faktor keberuntungan yang menurutku bisa mendapatkan buku gratis, karena hampir 80% nya buku secara gratis yang dibagikan dipilih pemenangnya secara acak oleh komputer. Jadi banyak-banyaklah berdoa dan berbuat baik.

2. Membuat Resensi

Yang suka buat resensi sering-sering kirim resensinya ke sebuah website yang memang sedang mengadakan kuis tersebut, sebut saja yes24 misalnya, tiap minggu selalu ngasih buku gratis dengan nominal harga maksimal Rp 100.000, bisa pilih buku apa aja kalau menang. Yang penting harga maksimalnya segitu. Kalau resensinya bagus ya akan menang. Jadi, banyak-banyak berlatih meresensi.

3. Jadi member klub buku

Kalau aku sih member BBI, maksudnya sama aja dengan klub buku. Kita adalah perkumpulan yang cinta buku dan rajin untuk meresensinya (bisa dibilang kita adalah resensator), jadi setiap buku yang sudah dibaca.. ya diresensi. Gimana caranya dapat buku gratis? Mudah aja, member BBI sering ngadain kuis. Tapi, ada yang lebih menarik dari itu. Kepercayaan dari Penerbit. Yak, penerbit akan dengan suka rela memberikan buku-bukunya yang terbaru maupun terlama pada member BBI. Mengapa bisa seperti itu? Karena status kami yang jelas. Blog Buku Indonesia yang makanan sehari-harinya meresensi, jadi bisa dibilang penerbit mempercayakan pada BBI bahwa resensinya memberikan pengaruh yang besar bagi pembaca yang akan membeli novel tersebut atau tidak.

4. Pinjam ke teman
Kalau poin yang ini sih gak mungkin bisa jadi milik pribadi karena hanya bersifat pinjaman. Tapi untungnya besar karena dapat pinjaman buku dan biasanya gak cuma satu buku yang dipinjamin tapi kurang lebih sepuluh. Bayangkan sepuluh buku. Wow bangetkan? hehe Bagaimana seseorang bisa percaya ngasih pinjam sebanyak itu coba? Itu karena kita sama-sama member BBI, sudah tahu kalau kita sama-sama bookish (pecinta buku), dan selalu meresensi buku yang sudah dibaca. Dari situlah kita gak segan-segan memberikan pinjaman buku sebanyak itu.

5. Harus berbagi satu sama lain

Ada istilah, lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah. Jadi, intinya sih saat kamu baca judulnya, jangan mikir “ngemis banget sih”, sama sekali enggak gitu. Berbagi satu sama lain, begitu pun sebaliknya, gak ada yang salah. Sangat bagus bisa saling membantu.

Sekian cara saya, semoga bermanfaat : )

Jangan segan buat kasih komentar ^^

(cr photo: weheartit)

Semangat Anti Bullying

1753_10201672804210170_1237928492_n
Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Di kelas, aku orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pandai, tidak juga terlalu bodoh. Teman sekelasku yang bernama Mimin duduk di sebelah kiri bangkuku. Dia duduk sendirian, sementara yang lain punya teman sebangku. Kesanku hanya dengan sekilas melihatnya saja dia orang yang pendiam, pendiam karena apa… sepertinya karena tidak ada yang mau jadi temannya. Secara fisik, Mimin memang tidak se-oke yang lain, tidak cantik, tidak juga putih. Kulitnya yang ‘maaf’ seperti bekas habis terbakar membuat penampilannya di mata yang lain tidak sepadan. Untuk masalah ini aku sendiri juga sebenarnya belum pernah menanyakan langsung padanya. Ditambah lagi pakaiannya yang sedikit kumal, sepatu dan tas yang tidak bermerek. Rambutnya yang tergerai sebahu tampak tidak disisir.

Hari itu, aku mendapati bagaimana perilaku teman sekelasku yang lain padanya yang tampak jelas mengintimidasi. Nourma, murid paling pintar di kelas, selain diunggulkan di setiap mata pelajaran, dia juga diunggulkan soal penampilan. Cantik dan berkulit bersih, hidungnya mancung seperti orang indo.

Saat itu guru Matematikaku, Pak Sumarno memberikan soal Matematika yang sulit sebagai latihan untuk UAN nanti. Pak Sumarno yang melihat Mimin seperti tidak mengerti, menyuruh Nourma yang duduk di depan Mimin untuk membantu mengajarkannya soal yang sulit.
Saat jam istirahat, aku ada di kelas bersama ketiga sahabatku. Aku melihat Nourma sedang mengajarkan soal pada Mimin. Awalnya aku sangat salut bagaimana murid teladan di kelas seperti Nourma punya sikap yang baik membantu Mimin. Tapi, begitu aku melihat caranya mengajarkan, aku cukup terkejut.
“Duh, Miiiiin… masa kayak gini aja gak bisa sih? Begini nih!” Nourma menarik bukunya kasar.
Bisa kupastikan, Mimin tidak akan mengerti jika Nourma mengajarkannya seperti itu. Yang ada mungkin hanya rasa tertekan bahwa dia tidak bisa.
Dalam benak, aku berpikir, bagaimana cara dia bisa bertahan tiga tahun di sekolah tanpa teman ya, dan saat ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Karena di kelas, nilainya yang paling rendah.

Aku seperti bisa menyelami apa yang dirasakan Mimin.
Saat SD, aku pernah dibully oleh teman sekelas. Diantaranya ada yang suka mengolok-olokku dengan sebutan patung, ada juga yang menyebutku ekor, karena hanya bisa mengikuti satu temanku tanpa bisa bergaul dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, aku pernah sampai dipalak. Uang jajanku diambil semua. Aku hanya bisa menangis waktu itu.
Di kelas 3 SMP ini, seperti dejavu. Bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dengan pembully lagi. Dan kira-kira sebelum pembullyan yang dialami oleh Mimin terjadi, aku pernah mengalaminya juga. Tapi, bukan oleh Nourma atau murid-murid perempuan yang lain. Secara sosial hubunganku dengan teman-teman perempuan sangat baik. Namun, berbeda dengan murid laki-laki, aku harus berurusan dengan Heru dan Yopi, murid laki-laki yang paling punya kuasa di kelas.
Ketika aku sedang menulis di papan tulis karena aku ditunjuk sebagai sekretaris kelas, Yopi mengolok-olokku dari bangkunya.
“Nulis apaan sih, gak jelas.”
“Gambar apaan tuh? Setrikaan? Hahaha.”
Dan begitu seterusnya setiap kali aku menulis di papan tulis. Hingga entah sejak kapan aku memendam rasa kesal ini, aku seperti air soda dalam botol yang ditutup rapat sangat kencang dan tertekan. Sering dikocok hingga saatnya reaksi udara dalam botol itu tak bisa lagi ditampung. Duaaaarrrrr. Tutup botol terbuka dan memental sangat jauh. Seperti yang terjadi padaku saat itu, aku memegang kapur tulis sangat kencang dan… Pletak! Aku melemparkannya tepat sasaran, mengarah ke bangku Yopi dan Heru tempati. Tawa mereka seketika lenyap begitu saja.

Yah, bagiku sekarang mudah untuk membalas aksi pembullyan karena pengalaman 6 tahun di SD, hingga cukup tegar dan kuat menghadapi pembully.
Aku merasa ingin mentransfer seluruh energiku pada Mimin agar dia juga bisa berani sepertiku sekarang.
Yopi kali ini tidak berani membullyku lagi. Entah sejak kapan, dia malah membaik-baikkan aku, seperti, “Boleh minta tolong, namain LKS ku. Tulisan kamu rapih banget!”
“Huh!” Seperti baru sadar saja kalau memang tulisanku bagus. Buat apa aku dipilih jadi sekretaris coba?
Yah, secara tidak langsung pembullyan itu sangat menekan psikologis orang yang dibully. Bagi pembully mungkin hal-hal semacam itu sangat menyenangkannya, tidak ada rasa menyesal apalagi bersalah. Seakan si pembully itu orang yang paling merasa benar dan menginginkan kebenarannya itu dilihat semua orang, diperhatikan semua orang, disanjung semua orang. Tanpa memikirkan perasaan orang yang dibully itu tertekan.
Korban bully jadi merasa tidak percaya diri, dia membentuk bangunan rasa bahwa dia orang yang tidak diinginkan, hingga perasaan takut, malu, dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Bagaimana dia takut untuk menghadapi banyak orang, dunia sosial, disaat semua orang seperti itu terhadapnya, seperti mengutukinya dan memperhatikannya, dan salah-salah ketahuan, ya…diolok. Orang pendiam memang banyak jadi objek sasaran empuk bagi para pembully. Rasa seperti itu sangat menyakitkan. Bahkan di negeri ginseng saja, korban bully bisa mati bunuh diri saking tertekannya.

STOP BULLYING! Entah itu secara fisik maupun psikis. Kalau tidak mau keluarga, saudara, sahabat, atau orang yang anda cintai mengalami hal demikian, tolong mulai dari diri sendiri untuk menghargai orang lain. Jangan memandang secara fisik maupun sosial. Semua orang punya hak untuk hidup di dunia ini kan. Bagaimana Hak Asasi Manusia itu ada. Semua ini dasar bagaimana kita menciptakan kehidupan yang selaras membangun negeri dan melindungi dunia.

Terima Kasih banyak yang sudah membaca cerita singkatku mengenai Gerakan Anti Bullying. Buat temanku, maaf ya namanya dipakai, aku tahu kalian pasti sudah berubah. Masa-masa sekolah memang tidak lepas dari pencarian jati diri yang terkadang menimbulkan sifat kekanak-kanakan. Semoga cerita dari pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran, bahwa bullying itu sangat merugikan. Sekali lagi, semangat anti bullying!!! ^O^/

FF: Feelings Evaporate

tumblr_llc4hb30Sd1qjck12o1_500
Main Cast:
– Kotoko Aihara
– Naoki Irie
Other Cast:
– Yuuki Irie (Naoki’s younger brother)
– Machiko Irie (Naoki’s mother)
– Kinnosuke Ikezawa
– Reiko Matsumoto/ Yuko
– Takendo Nakagawa

“Ohayou! Kotoko,” sapa seseorang menghampiri meja Kotoko.
“Ohayou!” balas Kotoko ceria setelah menaruh lemon tea hangat di meja. Pagi-pagi sekali tanpa sempat sarapan di rumah, Kotoko langsung melesat pergi ke cafeteria kampus, tempat yang sekarang sedang di dudukinya sendirian.
“Boleh aku duduk?”
Kotoko mengangguk mantap sambil menyunggingkan senyum terbaiknya. “Kau sudah sarapan belum?”
“Belum,” geleng Takendo lalu nyengir.
Masih dengan mempertahankan senyumnya, Kotoko melambai ke arah Kin-chan. Dengan sigap Kin-chan menghampiri. Bukan karena ia senang, lebih karena ia tidak suka melihat Kotoko dengan pria lain di pagi buta seperti ini.
“Kotoko, dia siapa?” tanya Kin-chan tanpa basa-basi.
“A, dia temanku. Kenalkan Takendo Nakagawa. Takendo, ini sahabatku Kin-chan,” jawabnya sambil nyengir.
“Senang berkenalan,” kata Takendo ramah. Kin-chan tampak tak berminat membalas, ia memalingkan wajahnya dan beralih memandang Kotoko. Selama beberapa detik mereka saling terdiam. Seperti sudah membaca pikiran Kin-chan, Kotoko mencoba menyairkan suasana, namun langsung terpotong oleh Kin-chan.
“Kau sudah menyerah pada Irie-kun? Lalu berpaling pada laki-laki seperti ini!” keluhnya. “Apa kau tidak melihat−?”
“Kin-chan!” potong Kotoko cepat. Hening sejenak, lalu bolak-balik menukar pandangan diantara kedua laki-laki yang ada dihadapannya itu. Belum cukup dengan kegundahannya tersebut, tahu-tahu datang seorang lagi yang menurutnya justru pemenang diantara kedua laki-laki yang ada di dekatnya sekarang.
“Irie-kun!” gumam Kotoko, matanya tak berkedip saat Naoki sedang berjalan masuk ke cafetaria, lalu duduk tidak jauh dari tempatnya. Kin-chan dan Takendo saling memandang, lalu beberangen memalingkan muka.
“Kotoko,” seru suara Takendo yang begitu menggema. Bagai berhadapan dengan api unggun, tangan dingin Kotoko terasa hangat, bola matanya berputar ke atas meja, mendapati tangannya yang disentuh lembut oleh Takendo. Mata Kotoko membulat seketika sambil memainkan mulutnya yang tak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya. Tak hanya Kotoko, Kin-chan pun tak bisa menutupi keterkejutannya. Dengan emosi yang memuncak, ditariknya tangan Takendo agar melepaskan tangan Kotoko. Bukannya lepas, justru tangan besar itu semakin membungkus tangan mungil Kotoko.
“Nakagawa! Berani-beraninya kau!” geram Kin-chan hampir memukul wajah Takendo, tapi tidak jadi dilakukan karena seseorang memanggilnya tiba-tiba.
“Kinnosuke! Aku pesan makanan,” seru Naoki dari meja tempat Kin-chan seharusnya berada. Dia memandang dingin tanpa ekspresi menaruh minat pada ketiga orang yang sedang bertengkar jauh di depannya itu. Ketiganya sontak menoleh. Kin-chan salah tingkah lalu menurunkan tangannya yang sedang mengepal di udara. Selama ini Kin-chan tidak pernah bersikap kasar pada laki-laki yang selalu dekat dengan Kotoko, karena ia tahu, laki-laki itu Naoki, dan tak ada alasan untuknya menghabisi Naoki, karena hal itu akan membuat Kotoko terluka.
“Tumben sekali pagi-pagi sudah kemari!” ketus Kin-chan kembali ke tempatnya. Naoki tidak menjawab malah berbicara pada temannya, ingin memesan apa.
“Huh, Kotoko sudah tidak menyukaimu lagi. Kemungkinan besar untuk mendapatkannya akan mudah bagiku. Nakagawa adalah laki-laki yang mudah sekali ditebak, dia seorang playboy. Dia mudah sekali tergoda dengan perempuan lain,” kata Kin-chan sinsis, pandangannya tak lepas mengawasi gerak-gerik Takendo yang matanya melirik-lirik keluar café padahal Kotoko sedang mengajaknya bicara. Sementara itu, Naoki masih diam, namun tak bisa mengelak untuk tidak tertarik menoleh ke arah Kotoko yang sedang tertawa bersama Takendo. “Aku tidak akan membiarkan Kotoko dipermainkan olehnya, seperti kau yang mempermainkan perasaan Kotoko!” Naoki mau tak mau memandang Kin-chan tajam, tidak terima dengan tuduhan itu. Namun, ekspresinya itu seolah tak terbaca oleh Kin-chan.

Kotoko mencondongkan tubuhnya ke depan, siap mendengarkan Nakagawa bicara. Laki-laki itu pandai sekali mengambil hatinya, memang tidak jauh dengan Kin-chan yang sama-sama selalu membuatnya senang, tapi Kin-chan berbuat seperti itu karena mereka bersahabat, tidak seperti dengan Nakagawa yang mampu membuat hatinya bergetar. ‘A, tidak, tidak!’ Kotoko menepuk-nepuk pipinya sendiri, menepis anggapan hati yang bergetar itu. Hati bergetar yang ia rasakan hanya untuk Naoki. Menyebut Naoki, mengingatkan Kotoko untuk melirik meja yang berjarak dua meja disebelahnya. Kotoko menghela nafas pendek, Naoki sangat serius makan dan sekali-sekali menengadah hanya untuk berbicara dengan temannya.
“Kotoko… Kotoko! Kau tidak mendengarkanku?” seru Takendo.
“A,” Kotoko tersadar dari lamunannya.
“Hari minggu ada acara tidak? Aku ingin mengajakmu nonton!”
Kotoko ternganga beberapa saat, “apa maksudmu kita kencan?” tanyanya sedikit keras. Takendo mengangguk sambil tersenyum. Senyuman yang membuat siapa saja tidak bisa menolak.
Naoki memicingkan mata, Kin-chan tidak kalah terkejut, matanya membulat lebih besar saat mendengar kata ‘oke’ dari mulut Kotoko.

Dua hari kemudian…
“Kirei ne!” puji nyonya Irie memegang pipi Kotoko. “Kau mau pergi kemana?”
“Aku mau pergi nonton,” jawab Kotoko hati-hati.
“Eh? Dengan siapa? Naoki?” tanya nyonya Irie cepat tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Kotoko menggeleng kecewa. “Bukan. Aku pergi dengan Takendo. Dia teman baruku di kampus. Orangnya sangat baik, aku tidak bisa menolak ajakannya.”
Nyonya Irie mendesah kecewa. Bola matanya berputar untuk berpikir, ide apalagi yang harus ia keluarkan agar kencan Kotoko tidak berjalan dengan baik bersama laki-laki lain.
**

“Takendo-kun! Sudah lama menunggu?”
Takendo tersenyum lalu berkata, “Selama apapun sudah seperti semenit jika sedang menunggumu!” kata-kata yang membuat Kotoko jatuh hati lagi, namun ia hanya bisa nyengir basa-basi, menganggap laki-laki yang ada dihadapannya ini sedang bercanda.
“Ayo masuk, filmnya akan dimulai!”
Seseorang dari belakang sedang bersembunyi dibalik tembok, perutnya terasa mual saat mendengar gombalan Takendo. Kin-chan ternyata mengikuti mereka dari belakang dan ikut masuk saat Kotoko dan Takendo sudah di dalam.
Tidak hanya cukup sudah menonton, Kin-chan masih terus mengikuti Kotoko. Kali ini mereka berjalan-jalan di sekitar taman dekat rumah Naoki, setelah mengikuti mereka minum di sebuah cafe. Apa yang sedang dibicarakan mereka hingga Kotoko bisa tertawa, Kin-chan tak bisa menahan diri untuk menyergap mereka dan membawa lari Kotoko. Seperti yang sudah ia bayangkan, sekarang Takendo berani merangkul bahu Kotoko. Hampir saja Kin-chan mati di tempat karena merasa udara disekitarnya berubah menjadi racun untuk dihirupnya.

Tiba-tiba langit menjadi gelap, seperti akan turun hujan. Namun, tak ada rintikan air hingga beberapa saat menunggu. Malah muncul sesosok bayangan berkelebat hitam yang mengintai Kotoko, seakan ingin membawanya pergi dari Takendo. Kin-chan hanya bisa ternganga sementara tangan sosok itu tak sanggup menggapai Kotoko, seperti ada batas ruang yang tidak bisa ditembus oleh bayangan hitam itu. Tapi, dengan seluruh kekuatan akhirnya dia bisa menarik Kotoko, hingga membuat Takendo dan Kin-chan berteriak bersamaan memanggil Kotoko.
“Kotoko-chan!” suara itu terdengar sangat jelas ditelinga Naoki. Matanya terpejam dengan pakaian yang ia kenakan terasa serba hitam, membuatnya menghilang seketika.
“Kotoko-chan!” terdengar lagi, namun kali ini dibarengi suara ketukan pintu. Mata Naoki yang masih terpejam akhirnya terbuka dengan susah payah.
“Hanya mimpi,” gumam Naoki masih berbaring di tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, ia bangun dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Lalu langsung pergi menuju pintu karena merasa penyebabnya bisa bermimpi buruk tadi adalah suara berisik yang berkali-kali memanggil nama Kotoko.
“A, Naoki! Kau sudah bangun,” sapa nyonya Irie dengan senyum lebar, pura-pura tidak bersalah karena membuat kegaduhan.
“Kotoko sejak tadi tidak menjawab. Apa dia masih tidur ya? Padahal semalam dia minta dibangunkan pagi-pagi karena harus ke kampus pagi sekali,” jelas ibu.
Wajah Naoki mendadak terasa panas. Ke kampus pagi-pagi sekali mengingatkannya pada mimpi semalam. “Biarkan saja!” katanya ketus.
“Eh?” nyonya Irie merasa aneh. Tak lama setelah itu Kotoko membuka pintu, dia terlihat sudah memakai pakaian yang rapih dengan wangi parfum yang harum semerbak. “Kotoko, kyou mo kirei desu ne! Kau sudah siap berangkat rupanya.”
“Haii!” jawab Kotoko malu-malu.
“Ayo sarapan dulu! Naoki kau cepat mandi sana!” kata ibunya sambil terkekeh pelan, lalu turun tangga.
“Kotoko!” tahan Naoki sebelum Kotoko turun ke lantai bawah menyusul ibunya. “Kita… berangkat bersama!”
“Eh?” Kotoko terbelalak dan mulutnya menganga.
“Tidak usah berlebihan seperti itu! Bukankah biasanya juga kita berangkat bersama,” kata Naoki dingin, lalu masuk ke kamarnya.
Kotoko merasa aneh, ada sesuatu yang berbeda dari Naoki akhir-akhir ini. Apa itu hanya perasaannya saja. Sebelum turun, Kotoko memandangi pintu kamar Naoki beberapa detik lalu akhirnya pergi.
Sementara itu di dalam kamar Naoki sendiri, dia sedang mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakannya. Mengapa ia bisa terbawa perasaan pada mimpinya. Seakan takut mimpi itu menjadi nyata.
**

Tidak seperti dalam mimpi, Naoki dan Kotoko bisa menyempatkan sarapan di rumah. Di balik koran yang sedang Naoki baca, matanya melihat Kotoko disela-sela kertas korannya yang robek. Terlihat Kotoko sangat semangat sekali melahap roti bakarnya.
“Gochisou sama (Terimakasih makanannya).” Kotoko menyatukan kedua tangannya lalu bangkit dari kursi, membuat Naoki refleks menutup korannya lalu berdiri.
“Gochisou sama!” katanya datar. Kotoko terlihat tersenyum mengangguk, lalu mereka pergi bersama. Naoki berjalan lebih dulu, Kotoko sengaja berdiri dua meter di belakangnya, teringat saat SMA jika Naoki tidak menginginkan Kotoko dekat-dekat dengannya. Namun, tiba-tiba Naoki menoleh, lalu menyuruh Kotoko untuk berjalan disampingnya. Kotoko yang tidak percaya itu menolak sambil nyengir. Naoki yang tak mungkin memberikan tawaran dua kali mengiyakan saja, membuat Kotoko menyesal sudah menolak.
“Ohayou, Kotoko!” seru seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinga Naoki.
“Takendo-kun!” Kotoko terkejut. Naoki menghentikan langkahnya, namun berusaha untuk tidak menoleh dan tetap melanjutkan jalannya.
“Irie-kun!” sapa Matsumoto ceria, tak jauh dari jarak Kotoko yang sedang berjalan dengan Takendo. Naoki yang melihatnya tampak sangat senang, seperti tidak terpikir sebelumnya bahwa dia punya banyak perempuan yang ada disekelilingnya. “Ohayou, Yuko!”
Kotoko yang ada di belakang mereka menekuk wajah cemburu. Ada senyum kemenangan di wajah Naoki sebelum ia menghilang masuk ke gedung fakultasnya.
**

“Okaeri nasai (Selamat datang/pulang)!” sambut nyonya Irie. “kau tidak pulang bersama Kotoko?” tanyanya sambil melihat-lihat ke arah pintu.
“Tadaima (Aku pulang),” jawab Naoki singkat sambil menggeleng.
Nyonya Irie mendesah kecewa, “katanya dia akan pulang cepat, ingin membuat kue bersama.” Naoki tampak berpikir, tapi berusaha tidak menaruh simpati.
Langit senja berganti gelap. Lampu-lampu besar yang menggantung di pinggir-pinggir jalan telah menyala. Nyonya Irie duduk di ruang tamu dengan cemas menunggu Kotoko yang sampai saat ini belum juga pulang.
“Obasama, ada apa?”
“Yuuki, Kotoko belum pulang.”
“A, mungkin sedang pergi bersama teman-temannya atau pergi ke restoran ayahnya,” Yuuki mencoba meredakan kecemasan ibunya. Namun, itu semua tidak membuat nyonya Irie merasa lebih baik.
“Apa oniisan ada di kamar?”
“Hem,” Yuuki mengangguk. Nyonya Irie menundukkan wajahnya, berbisik di telinga Yuuki. “Kau mau membantu ibu?” Yuuki mengangguk-angguk mengerti, setuju dengan rencana ibunya. Dia memang sudah setuju Kotoko dekat dengan kakaknya. Jadi, ide ibunya kali ini akan dibantunya.
“Oniisan! Oniisan harus mencari Kotoko!” Yuuki terburu-buru menutup pintu, lalu membanting diri di tempat tidur kakaknya. Naoki yang sedang membaca buku merasa terganggu.
“Ada apa?” tanyanya malas.
“Kotoko belum pulang. Dia sudah berjanji akan membelikanku bola, tapi dia belum juga pulang.”
“Kotoko membelikanmu bola? Mengapa kau tidak meminta pada kakak, kakak bisa membelikanmu.”
“Aku ingin Kotoko yang membelikannya, sebagai ganti dia sudah membuatku batal makan es krim dulu.”
Naoki menutup bukunya, mengacak-acak rambut Yuuki pelan, lalu bangkit mengambil jaket dan segera keluar mencari Kotoko. Yuuki senyum-senyum sendiri, ia bangga sudah pandai berakting.
“Bagus, Yuuki! Kakakmu itu memang harus diperlakukan seperti itu. Dia terlalu jaim untuk mengakui bahwa dia juga khawatir,” kata nyonya Irie tersenyum menang.
“Kotoko, arigatou untuk hari ini! Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kalau tidak ada kau,” kata Takendo tulus. Seharian setelah pulang kuliah, Kotoko menemani Takendo mencari hadiah untuk ibunya yang akan datang dari luar negeri besok.
“Jangan berbicara seperti itu, aku sangat senang bisa memilihkan hadiah untuk ibumu. Aku tidak punya ibu jadi aku sangat senang kau percaya padaku.”
Takendo mengangguk tersenyum. Ada keheningan beberapa saat sebelum akhirnya Takendo berkata, “Kalau begitu biar ku antar kau pulang.”
“Tidak usah repot-repot, rumah ku tidak jauh disini!” tolak Kotoko halus.
“Tidak apa-apa, aku ingin sekali bisa tahu rumahmu!” kata Takendo yang terdengar lebih mengarah kepaksaan.
“Kotoko-chan!” suara itu terdengar lantang dari arah belakang. Kotoko dan Takendo bersamaan menoleh. “Irie-kun!”
“Kau ditunggu Yuuki!” serunya datar, tak tertarik untuk melihat tampang Takendo.
Takendo yang merasa gerak-gerik Naoki sangat menganggunya, akhirnya berkata, “Hei! Sebenarnya kau siapanya Kotoko? Mengapa kau selalu saja muncul tiba-tiba?” teriaknya.
Naoki diam tak menggubrisnya, malah terus berbicara pada Kotoko. “Mana bola Yuuki?”
“Bola? Maksudmu?” Kotoko terlihat bingung dengan pertanyaan Naoki yang terdengar seperti menagih janji. Naoki menghela nafas pendek, lalu menarik tangan Kotoko pergi.
“Hei!” teriak Takendo lagi.
“Irie-kun! Irie-kun, lepaskan tanganku!” teriak Kotoko yang sudah berjalan jauh dari Takendo. Kotoko memegang tangannya yang tampak kesakitan.
“Kau tidak membuat janji dengan Yuuki?” Naoki mengernyit.
“Janji? Aku merasa tidak membuat janji. Memang kenapa?” tanya Kotoko bingung. Naoki mendesah kesal karena merasa sudah dipermainkan.
“A, iya… aku ada janji,” seru Kotoko teringat janjinya dengan nyonya Irie untuk membuat kue bersama. Naoki yang mengira itu janji pada Yuuki tak jadi marah.
“Kau tidak bisa pulang dengan tangan kosong!” tahan Naoki. “Kita ke toko dulu!” Naoki menarik tangan Kotoko. Kotoko menurut, berjalan di belakang Naoki. Namun, Naoki langsung menarik bahunya agar bisa sejajar berjalan dengannya. Kotoko terkejut, mulutnya sudah menganga lebar, namun cepat-cepat dia menutupnya tidak ingin membuat Naoki melemparnya tiba-tiba. Tanpa suara mereka berjalan dalam diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Aku hanya takut tidak bisa bersama denganmu lagi. Itu adalah kekhawatiran terbesarku,” batin Naoki.
Itazura-Na-Kiss-Love-In-Tokyo-japanese-dramas-34346088-500-280
Jangan segan buat komen ya 😀 Arigatou

cr photo: imgfave

Love is Punishment

tumblr_mp17izCKlO1rv8i8ko1_400
Jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Aku masih berdiri di depan halte menunggu bis datang. Tampak jalanan sangat lengang, hanya ada dua atu tiga mobil pribadi lewat dan lebih banyak kendaraan roda dua yang berseliweran. Jalanan di dekat rumahku terbilang tidak terlalu ramai. Jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk berjodoh dengan bis.
Sepertinya alamat telat akan menempel pada nasibku hari ini. Mana sekarang hari senin, harus upacara dan ada ulangan Kewarganegaraan dipelajaran pertama. Kakiku sudah mulai keram berdiri terlalu lama, bangku halte tidak pernah kosong, selalu saja ada yang mendahului untuk duduk. Lima menit lagi. Ya ampun… bagaimana ini? Aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa kesal yang berkecamuk di hati. Ingin rasanya mengomel pada mobil-mobil yang lewat, tidakkah ada yang mau rela berbagi tumpangan pada murid kelas sepuluh ini?

Akhirnya bis yang ditunggu datang juga, belum hilang ras kesalku, aku masih mengumpat-ngumpat dalam hati karena bis berjalan sangat lambat. Bisa dilhat kalau memang bis ini tidak terlalu penuh penumpang, makanya bis merayap seperti siput yang sedang mencari tempat lembab.
“Ongkosnya neng!”
Aku memberi uang Rp 2,000 yang diambil dari saku seragam.
“Kurang neng.”
Aku mendelik melihat knek itu. “Biasanya juga segitu,” kataku ketus.
“Yah, neng. Sekarang kan BBM udah naik, emang neng gak liat beritanya di tipi?” terdengar penekanan ‘p’ yang sangat tinggi.
Aku mendengus, lalu mengambil lagi uang seribu di saku. “Nih!”
“Nah gitu dong neng!” sang knek terlihat senang.

Sial… sial… kataku dalam hati. Pak Tono udah ada aja di depan gerbang dengan memasang wajah angkuh, wajahnya itu memang terbilang tidak pantas menorehkan senyum, air mukanya selalu terlihat sinis dan galak. Diam saja sudah seperti itu, apalagi kalau beneran marah. Makanya, Pak Tono ini guru yang paling ditakuti di sekolah.
“Baris yang rapih!” teriak Pak Tono. “Hey, kamu juga yang baru datang, cepat!!” tunjuknya padaku. Aku tersentak buru-buru masuk , dengan dibukakannya gerbang oleh satpam. “Cepat, ikut berbaris sana!”
Aku mengangguk menurut, baris dibagian belakang saja. Aku cukup terkejut dengan jumlah murid yang kesiangan hari ini, kebanyakan sih laki-laki, perempuan termasuk aku hanya ada lima orang. Sementara laki-laki berjumlah sepuluh orang. Sangat fantastis sekali murid sekolah ini. Sebenarnya apa alasan mereka terlambat, perasaan ingin tahu menggelitik hatiku. Entah apa yang sudah diceramahi Pak Tono pada kami, aku tidak mendengarkan dengan seksama, mataku masih saja tertarik melihat siapa-siapa yang senasib denganku. Siapa tahu ada teman sekelas. Sialnya tidak ada.

Sudah satu jam lebih duapuluh menit kami dihukum berdiri di halaman depan dekat gerbang. Aku melihat lapangan yang terhalang oleh kantor guru itu tampak lengang, artinya upacara sudah selesai.
“Bersihkan kantor guru sebelum kalian masuk kelas!” perintah Pak Tono. Kami pun membubarkan diri, entah baru sadar atau memang sebuah keajaiban, murid laki-laki yang ternyata berada di barisan paling depan itu adalah Rama. Kakak kelas paling populer karena ketampanannya, bagiku dan kalangan kelas sepuluh dan sebelas. Aku tidak bisa menahan diri untuk memekik girang, tapi syukurlah aku masih bisa menahannya. Kenapa aku baru sadar dia ada, jika tahu sejak tadi dia ada disini, aku memutuskan untuk sebaris dengannya atau menerobos baris di dekatnya. Hembusan nafasku mendadak panas membayangkannya hal itu. Tak sengaja pandangan kami pun bertemu, ketika kami sudah selesai membersihkan ruang guru. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat dia berjalan melewati kelasku untuk sampai ke kelasnya. Sungguh hal yang jarang terjadi, bisa dilihat dari histerisnya teman sekelasku yang melihatnya berjalan lewat kelas X.5. Hari ini tidak terlalu buruk, meski sudah bersumpah serapah kesal sejak tadi pagi, akhirnya ada perasaan bahwa pagi tadi itu tidak pernah terjadi, seperti sudah terbayar dengan nasib mendapat hukuman paling menyenangkan ini.

“Ulangan KWN lisan!” seru salah seorang murid yang berlari dari arah kantor sambil membawa beberapa tumpuk buku tugas kemarin yang dikumpulkan. Dan saat itu pula guru Kewarganegaraan yang berkepala plontos itu muncul di belakangnya sambil membawa setongkat kayu yang panjangnya hampir semeter. Memang sudah jadi ciri khas Pak Endang.
Hari yang masih buruk. Aku meneguk ludah.
**

Sudah tiga hari setelah terlambat masuk sekolah saat itu. Hari ini aku terlambat lagi. Kali ini bukan karena bis nya yang datang terlambat melainkan aku yang bangun kesiangan. Semalam habis nonton drama Korea sampai larut. Yak, mengejar 4 episode terakhir yang dilahapku sekaligus.
“Buka sebelah sepatunya!”
Aku terbengong, tidak ada hukuman dijemur dulu atau membersihkan ruang guru. Memang kalau untuk hari biasa, sekolah menetapkan peraturan bagi siswa yang terlambat harus melepas sepatunya sebelah. Sebelah kanan yang disita di ruang guru sampai pulang sekolah. Selain itu menuliskan nama di absen buku pelanggaran. Aku mendecak kesal setelah melepaskan sepatu sebelah kananku. Sekarang aku berjalan terpincang dengan memakai sepatu sebelah.
Malu sekali, aku berjalan melewati koridor-koridor kelas, semua orang kini tampak melihatku cekikikan. Meskipun dengan maklum, tapi tetap saja aku malu. Apalagi tiba-tiba saja ada suara tawa terbahak-bahak saat aku melewati kelas XII. Aku menunduk, menutupi wajah yang sudah seperti udang rebus.
“Hey, bro! Sepatu model barru ya!” kata seseorang dari kelas XII IPS 1 itu. Aku meneguk ludah melihatnya, sepertinya aku cukup mengenal orang ini, meski aku tahu dia tak mungkin mengenalku. Ya, dia teman sekelas Rama. Ah, sekarang tahu-tahu wajahku tambah memerah saja, hanya karena menyebut namanya dalam hati.
“Rese lo,” terdengar suara di belakangku. Oh, mereka bukan mentertawaikanku, tapi mentertawakan Rama. Rama, Rama yang memakai sepatu sebelah sepertiku.
Wajahku kini sudah seperti tomat yang sudah siap petik, saat Romi sudah berjalan mendekat dan tahu-tahu sudah meleos saja melewatiku, menghambur pada teman-temannya. Mendadak saja aku berpikir hukuman terlambat masuk seolah adalah hal termanis. Tidak buruk berjalan kaki nyeker sebelah seperti ini.

“Mar, dipanggil Pak Dodo tuh!” kata Liana, teman sebangkuku, saat aku baru saja menginjakkan kaki di koridor kelas sepuluh tiga, masih ada dua kelas menuju kelasku.
‘Oh’ responku tanpa bersuara. Aku bangkit dari kursi menuju ruang BK karena Pak Dodo memang selalu berada di ruangan itu. Beliau memang guru BP/BK.
“Assalamu’alaikum,” aku mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam. Masuk saja!” sahut Pak Dodo dari dalam. Kemudian aku masuk dan mendapati Pak Dodo sedang kehadiran murid lain.
“Ram, sebentar ya!” kata Pak Dodo pada murid yang sedang duduk dihadapannya itu, namun sedang membelakangiku.
‘Ram? Rama?’ pikirku.
“Kemari!”
Aku masih mematung dengan pikiran menerawang sendiri tentang nama yang disebutkan Pak Dodo. ‘Ram’
“Hey, Marisa!”
“Oh,” aku tersadar, lalu menghampiri Pak Dodo. “Siap, Pak! Ada apa?”
“Kau belum mengerjakan tugas pelajaran Bapak ya?”
“Eh, tugas yang mana Pak?” kataku sambil menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.
“Mar, mar, minggu lalu itu pasti karena gak masuk. Memang apa susahnya sih nanya ke temanmu ada tugas atau tidak.”
“Maaf, pak. Saya beneran lupa,” kataku tertunduk. Aku bisa melihat laki-laki yang masih duduk di sampingku itu sejak tadi menatap lurus ke depan, dan kini menengokkan kepalanya sedikit ke arahku. Aku bisa merasakan hawa panas pada wajahku dan debaran keras jantungku yang jauh lebih hebat dari tiga hari lalu. ‘Rama!’ jeritku dalam hati.
“Kau masih mau mendapat nilai atau tidak?” tanya Pak Dodo berusaha sabar menghadapiku.
Aku mengangguk. “Mau, Pak.” Rama terlihat tersenyum saat aku mengatakan kata mau.
“Mau apa?” tanya Pak Dodo mengagetkanku.
“Mau dapat nilai, Pak,” spontanku.
Pak Dodo terkekeh tapi manggut-manggut lalu memberikan selembar kertas soal yang sepertinya adalah tugas minggu lalu. “Kerjakan di kertas folio bergaris. Dua hari setelah ini kumpulkan.”
“Loh, Pak. Bentar banget ngasih tenggat waktu ngerjainnya?” portesku.
“Masih mau nilai gak? Kalau lebih dari itu nilaimu di kurangi sepuluh,” ancam Pak Dodo.
“Iya, mau..mau,” kataku cepat. Bisa ku lihat dari samping Rama tersenyum lagi. “Ya, Tuhan. Apa barusan saja aku sudah membuatnya tersenyum!”
“Rama, ini brosurnya. Kamu pikiran saja dulu baik-baik. Bicarakan dengan orangtuamu. Besok atau lusa kamu bisa kembali lagi kesini untuk keputusan finalnya.”
Mataku membelalak ketika melihat Pak Dodo memberikan brosur selebaran itu. Aku bisa melihat tulisan asing pada brosur tersebut dan satu kata yang bisa ku baca, Tokyo. ‘Universitas Tokyo?’
Aku keluar dengan mata limbung. Tokyo. Rama akan kuliah disana? Membayangkannya saja sudah sedih, aku akan kehilangan dia di sekolah, sebentar lagi ujian nasional. Mengetahui Rama akan melanjutkan kuliahnya keluar negeri membuatku kehilangan harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Bukankah harusnya aku bangga? Harusnya kan seperti itu…

Dua hari kemudian…
“Taruh saja di meja! Bapak sedang sibuk,” kata Pak Dodo sambil membaca-baca beberapa tumpukkan dokumen di mejanya. Aku berdeham, serasa tenggorokanku gatal. Sambil menaruh tugasku di mejanya. Aku melihat-lihat ruangan BP/BK yang tampak sempit dan sepi, selama ini aku tidak pernah memperhatikan ada data jumlah murid yang masuk dan keluar. Maksudnya data terbaru. Tapi hal ini sama sekali tidak enarik perhatianku, hanya saja… sebenarnya aku mencari Rama, bukankah harusnya dia juga kemari.
“Masih ada yang mau ditanyakan?” tanya Pak Dodo tanpa melihat ke arah ku.
“Enggak, Pak! Kalau begitu saya permisi.”
“Oh, tunggu sebentar!” tahan Pak Dodo, saat aku baru saja mau membuka pintu.
“Bapak minta tolong, panggilkan Rama anak kelas duabelas IPS satu kemari. Tolong ya, masih jam istirahat kan?”
‘Oh’ kataku tanpa bersuara. “Iya, Pak,” jawabku akhirnya yang terdengar sepertibtenggelam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan pikiran melayang-layang. Apa yang harus ku katakan pertama kali pada Rama nanti.
‘Hai, Kak dipanggil Pak Dodo tuh di ruang BK.’
Enggak… enggak gitu. Mataku memicing. Lalu mengulang lagi, ‘Permisi, Kak Rama ada gak? Kak Rama dipanggil Pak Dodo ke ruangannya’
Argggh mendadak jadi nervous gini, umpatku. Tanpa terasa kaki sudah berjalan jauh melangkah. Aku sudah berdiri di depan kelas duabelas IPS. Dengan kikuk aku menghampiri kelas IPS 1, sangat sepi. Tumben.
“Permisi.”
“Ya, cari siapa?” tanya seorang cewek berambut panjang pirang yang cukup cantik menurutku.
“Cari Kak Rama.”
Cewek itu mengernyit seakan jawabanku terdengar aneh.
“Rama,” cewek itu terdiam beberapa saat, tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab. “Rama udah gak sekolah disini lagi.”
Sontak aku terkejut, apa cewek itu salah mengira Rama yang mana. Ku lirik bagian atas pintu dimana nama kelas XII IPS 1 terpampang disana. Tidak salah lagi, ini kelasnya. Tapi mengapa dia mengatakan Rama sudah tidak sekolah lagi. Mungkin ada nama lain Rama. Tapi aku tidak tahu nama lengkapnya. Otakku berputar-putar mengingat-ingat lagi, seperti kilatan potret foto yang terpampang jelas. Ramaditya.
“Ramaditya!” seruku lantang.
Cewek yang masih berdiri di depan pintu itu tetap menggeleng. “Sudah setengah tahun yang lalu dia pindah karena sakit. Kita disini gak tahu lagi kabarnya gimana. Dia sembuh atau enggak,” kata cewek bertubuh kurus itu prihatin.
Aku tercengang dengan penjelasannya, masih curiga dan belum menerima aku berkata, “dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Kami ada di ruang BK bersama Pak Dodo.”
“Kalau kamu gak percaya, bisa tanya ke seluruh anak kelas duabelas yang lain. Dan juga Pak Dodo sendiri. Jelas dia tahu kemana Rama pergi.” Cewek itu terlihat marah membuatku mengurungkan niat untuk berdebat lebih jauh lagi.
Aku terdiam sepanjang jalan menuju ruang BK. Mungkin ada yang salah dengan penglihatanku waktu itu, atau pendengaranku. Jelas-jelas pak Dodo yang menyebutkan nama Rama.
Ku lihat Pak Dodo keluar membawa beberapa map yang sedang di periksanya tadi, dan pintu BK itu dikunci.
“Loh, Pak. Sudah tutup?”
“Iya. Ada apa? Ada yang ingin kamu konsultasikan?” Pak Dodo melihatku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Bukan, Pak! Saya cuma ingin memberi tahu kalau nama Rama sudah tidak di kelas IPS 1 lagi. Mungkin dia pindah kelas. Bapak bisa beritahu saya nama lengkapnya dan kelas barunya?” kataku yang terdengar begitu terburu-buru namun sangat yakin. Pak Dodo mengernyit bingung, reaksi yang ditimbulkan sama seperti cewek yang ditemuinya tadi.
“Apa yang kamu bicarakan? Bapak gak nyuruh kamu cari orang. Siapa tadi? Rama?”
Deg. Jantungku seperti diledakan jarum, lemas tak bertenaga. Tubuhku gemetar. Wajahku pasti sekarang pucat, meski aku tidak bisa melihatnya sendiri. Aku merasakan tanganku dingin dan buluk kudukku berdiri. Seperti tiba-tiba ada angin yang datang pelan-pelan dari arah koridor dekat ruang kelas duabelas dan menghembuskannya sekaligus di depan ruang BK.
“Mar, kamu baik-baik saja?” aku bisa mendengar Pak Dodo bertanya padaku tampak khawatir.

Rama memang sekolah di SMAJAK, singkatan nama SMA ku. Hanya satu tahun setengah dia belajar disini. Dia murid pindahan saat kelas sebelas semester pertama. Menginjak kelas duabelas semester kedua, dia sudah tidak bisa melanjutkan sekolah lagi. Bukan karena terbentur masalah biaya, karena keluarga Rama cukup berada. Akan tetapi, karena Rama sakit. Dia terkena tifus sangat lama, setelah itu tidak ada yang tahu lagi kemana dia, karena sulit dikunjungi. Kabar terakhir dari tetangga rumahnya, Rama pergi keluar negeri untuk mendapatkan pengobatan, pengobatan apa.. sepertinya sakitnya bukan lagi tifus. Rama sempat koma, dan sekarang entah seperti apa kondisinya.

Begitulah cerita Pak Dodo padaku setelah insiden aku hampir ambruk di depan ruang BK. Padahal selama ini aku selalu melihat Rama ada di sekolah ini. Melihatnya setiap kali aku mendapat hukuman.

photo: imgfave

Cara saya mereview buku

thumb
Kali ini postingan saya tentang buku.hehe yah… mau gimana lagi dong, saya kan hobi banget dengan hal-hal yang berhubungan dengan buku. Jadi, postingan kali ini juga gak akan jauh-jauh dengan buku 🙂
Ide memposting ini sebenarnya berasal dari saya blogwalking teman-teman BBI, mereka sharing soal bagaimana cara mereka mereview/meresensi buku. Saya jadi tertarik juga nih buat bahas. Tapi, saya bahas di blog bebas ini aja deh.. blog buku saya khusus resensi aja 🙂
Pertama dengar kata resensi pasti inget pelajaran Bahasa Indonesia. Iya kan? he-he. Waktu SMP dan SMA sering banget tuh ditugasin bikin resensi, dan bikin galaunya minta ampun.haha lebay.. lebih ke bingung sih sebenarnya… kayak gimana sih resensi itu. Dan di era itu kita bisa mengambil contoh dari resensi-resensi yang ada di koran. Zaman sekarang sih.. resensi di koran udah jarang banget. Ya, mungkin ada, cuma kebanyakan sih sekarang pembaca lebih suka baca resensi di blog-blog buku, kayak BBI gitu. hee.. Emang lebih simpel kan, apalagi kalau reviewan anak BBI ataupun yang lain, mereka lebih real aja ngasih pendapat (maksudnya lebih ke bahasa sehari-hari), lebih blak-blakan. Tapi, masih tetap beretika lah tentunya 🙂
Saya biasa menghabiskan bacaan novel rata-rata dua hari setengah. Rata-rata itu sih.. kadang kalau novelnya tipis, bisa sehari langsung tamat. Kalau agak tebal, ya..bisa dua hari. Kalau tebal banget bisa nyampe tiga hari. Kalau ceritanya seru bisa dua hari setengahlah. Eh, tapi.. kadang kalau gak seru bisa hampir seminggu loh. Baca buku yang tebalnya nyampe 600 halaman. hmm.. Kecepatan baca saya masih kurang sih. Suka banyak diselingi online atau malah lebih tergoda baca cerpen di blog. haha. maaf OOT.
Ehem.. oke. balik lagi ke topik. Jadi abis baca novel, endapin dulu beberapa jam. Misalnya, siang udah beres.. Sore atau malamnya bikin resensi. Jangan langsung abis baca dibikin resensi. Otak kan masih berputar-putar tuh tentang ending ceritanya, jangan dipaksain buat me-reka ulang apa yang sudah dibaca, nanti malah panas dan akhirnya bikin mumet. Diemin aja dulu beberapa jam. Jangan sampai berhari-hari juga, takut malah jadi tumpul aka lupa. Ya, pengalaman jugalah. Saya pernah melakukan dua hal itu. Maklum awalnya kan pemula. Gak langsung bisa begitu aja kok saya mereview. Banyak-banyak baca novel dan baca resensi teman-teman yang lain juga. Semakin melihat contoh-contoh, kita bisa membentuk karakter sendiri dari reviewan yang kita punya.
Terus kalau buat resensi usahakan jangan bikin spoiler. Penting nih.. kalau sebagai resensator ngebocorin isi cerita dengan detail, mana tertarik pembaca buat beli buku yang kita resensi, toh..udah tahu ceritanya bakal gimana. Nah, usahakan jangan sampai gitu ya.. Kalau mereview juga harus ngasih gambaran/pandangan kita tentang buku yang sudah dibaca tersebut. Apa kelebihannya, kalau ada juga dengan kekurangan. Jangan sampai monoton muji terus atau malah sebaliknya.
Alhamdulillah saya sudah mereview hampir lima puluh buku. Silahkan liat-liat disini.
Nah, cuma segitu sih…soal review mereview. Jangan segan buat komen ya 🙂

cr photo: imgfave.com