Ganti Blog

hallo, everyone!
langsung saja, saya ingin memberitahu kalau blog saya telah di export ke blogspot. jadi, blog ini mungkin tidak akan dipakai lagi. tapi, postingannya tidak hilang–saya salin ke blog baru.
silahkan follow saya disini, arigatou! 😀

@irnari

Advertisements

Menyambut Festival Pembaca Indonesia 2013


Bagi para pecinta buku nama sosial media Goodreads tidak akan asing lagi di telinga. Goodreads merupakan jejaring sosial yang populer untuk membuat pengguna akun tersebut dapat berbagi rekomendasi buku dengan sesama pengguna lainnya, mencari informasi lebih tentang buku dan penulis, serta terhubung dengan berbagai orang yang memiliki ketertarikan yang sama pada buku.

Seperti dikutip dari wikipedia, mengenai kepopuleran Goodreads sebagai jejaring sosial terbesar−dengan mempunyai lebih dari 3,6 juta anggota dan menambah koleksi buku sebanyak lebih dari 110 juta buku pada tahun 2009.

Salah satu cikal adanya Goodreads dari Amerika ini melahirkan komunitas Goodreads Indonesia yang para anggotanya merupakan orang-orang Indonesia. Komunitas ini tergolong aktif dalam meramaikan dunia literasi. Bagaimana tidak, selain penerbit dan penulis, pembaca juga memiliki hak suara untuk memajukan peradaban literasi. Meskipun para pecinta buku di Indonesia masih jarang, karena dilihat dari presentasi minat baca yang sangat minim, terhitung hanya 0,01 persen, jauh dari Jepang (45 persen) dan Singapura (55 persen).

Dengan adanya komunitas Goodreads Indonesia yang dibentuk tahun 2007 oleh Femmy Syahrani, minat baca buku di Indonesia mengalami kemajuan−−dengan adanya komunitas-komunitas baru yang mengusung tema penggemar buku sekaligus resensator di dunia maya. Salah satunya adalah Blog Buku Indonesia yang dibentuk tahun 2011 oleh Hernadi Tanzil. Blog ini adalah wadah tempat para pengemar buku mereview buku yang telah dibacanya kemudian diposting di blog buku masing-masing−−yang tentunya sudah terdaftar di agregator BBI. Komunitas ini merupakan salah satu contoh komunitas yang juga aktif setelah GRI, di luar sana masih banyak lagi para pecinta buku yang tumbuh untuk membangun minat baca di Indonesia, seperti Klub Buku Cirebon dengan komunitas orang-orang Cirebon.

Jadi, dengan terbentuknya komunitas pembaca, diharapkan tidak hanya sekedar menjadi pembaca anonim atau pasif. GRI beserta komunitas baca lainnya ingin memberikan image pembaca aktif, tidak seserius yang orang pikirkan, melainkan komunitas ini sangat menyenangkan−jauh dari kesan serius, karena komunitas ini bauran dari berbagai macam orang dengan pengetahuan yang lebih banyak dan beragam jenis dari buku-buku yang sudah dibacanya. Oleh karena itu, Goodreads Indonesia yang sejak 2010 telah menggelar sebuah acara besar bernama Festival Pembaca Indonesia, kini di tahun ke-4 direncanakan akan diadakan di tanggal 8 Desember 2013, di Plaza Festival, Kuningan Jakarta. Berhubung dengan banyaknya yang mengharapkan acara tahun ini dibuat tampil beda, perubahan waktu dan tempat pun akhirnya diputuskan, Festival Pembaca akan diadakan dua hari di tanggal 7-8 Desember 2013, bertempat di Museum Bank Mandiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Festival Pembaca Indonesia (Indonesian Readers Festival/IRF) adalah sebuah acara tahunan para pembaca buku untuk masyarakat Indonesia yang dikemas menjadi sebuah kegiatan rekreasi baca. Kegiatannya seru dan mendidik. Konsep play-educate ini yang membedakan acara IRF dengan kegiatan perbukuan besar lainnya. Komunitas GRI yang menyelenggarakan acara tahunan ini ingin menjadikan komunitas pembaca yang aktif dengan kegiatan-kegiatan, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, dalam dunia nyata bisa terlihat dari acara IRF ini.

“Selama ini acara-acara festival/event atau pameran di dunia literasi biasanya terpusat pada pameran buku yang melibatkan penerbit. Tapi melalui IRF, GRI ingin membuat dan menyajikan sesuatu yang berbeda untuk mengapresiasi pembaca di Indonesia. Karena Goodreads Indonesia sendiri merupakan komunitas pembaca yang cukup besar di Indonesia (bahkan ada beberapa anggotanya yang berdomisili di luar Indonesia), maka diadakan lah IRF ini. Disini pembaca dapat memamerkan koleksinya buku-bukunya, dan komunitas-komunitas pembaca seperti penggemar karya-karya dan kisah-kisah tertentu juga dapat berpartisipasi di sini,” jawab Farah Lestari, selaku perwakilan dari panitia IRF—saat ditanya ide yang mendasari diadakannya IRF ini.

Tahun 2012 lalu, acara ini sukses diadakan dengan mengusung tema “Luaskan Dunia Membacamu”. Tahun ini GRI kembali menyelenggarakan dengan tema yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu “Harmoni Dunia Membaca”.

“IRF 2013 ingin menjalin keseruan dan keberagaman para pembaca di Indonesia melalui jalinan yang indah. Kami memahami bahwa setiap pembaca memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri. Tapi kami juga percaya, kegiatan membaca yang berawal dari hobi dan kesukaan ini telah menyatukan itu semua. Karenanya kami mengangkat tema Harmoni Dunia Membaca. Kami ingin menjalin keterikatan dalam perbedaan-perbedaan ini, hingga kelak akan ada satu identitas bersama, yaitu pembaca Indonesia,” tuturnya.

Seperti tahun sebelumnya, IRF membuat banyak acara yang seru dan menarik, diantaranya: talkshow, workshop, Pojok Anak, Bioskop Baca, Book Swap, Book War, GRI Amazing Race, dan Anugerah Pembaca Indonesia.

Untuk keberlangsungan IRF kedepannya, IRF berharap tidak hanya diadakan di Jakarta saja, tapi juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia. “Dan karena festival ini dikhususkan untuk pembaca, kami berharap jumlah pembaca dan minat baca di Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Dan tentu saja, dukungan dari berbagai pihak, komunitas dan sponsor demi keberlangsungan acara ini.”

Seperti harapan IRF, banyak juga harapan masyarakat diseluruh pelosok tanah air yang menginginkan sekali untuk hadir dalam acara Festival Pembaca Indonesia ini. Diantaranya, Ain, warga Arjawinangun Cirebon yang berprofesi sebagai seorang Guru menginginkan untuk bisa mengikuti acara besar perbukuan tahunan ini. Akantetapi, dengan lokasi festival yang jauh di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk bisa mengikuti acara tersebut. Berbeda dengan saudari Nur’aini−asal Cilimus Kuningan, sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara IRF nanti di Jakarta. “Aku akan menabung untuk bisa ke Jakarta, hanya untuk acara IRF,” ucapnya−−saat diwawancarai di Cilimus.

Perwakilan dari BBI, Helvry Sinaga juga sangat antusias menyambut acara IRF 2013, beserta para anggota BBI lainnya. Komunitas ini sudah membentuk panitia sendiri untuk bisa ikut berpartisipasi dalam acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia. Dengan mengikuti acara ini, Helvry Sinaga mengatakan bahwa diharapkan BBI bisa dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan diketahui pembaca lainnya. Maklum BBI baru dua tahun terbentuk, dan ingin menempatkan dirinya diantara komunitas para pembaca lainnya. BBI juga ingin mengenalkan pada pembaca lain bahwa mereka bukan sekedar membaca, tetapi juga menulis. “Inilah salah satu kekhasan blogger pembaca yang ingin kita bagikan,” tuturnya dalam grup Facebook Blog Buku Indonesia.

“Acara Festival Pembaca Indonesia merupakan pestanya pembaca Indonesia dalam mengapresiasi buku dan penulis. Berbagai pembaca baik dalam komunitas maupun individu turut meramaikan acara ini. Dari situ kita tahu ternyata ada banyak komunitas pembaca yang bersama-sama menyenangi dan menjadikan membaca sebagai gaya hidup,” pungkas Helvry Sinaga.

Dengan banyaknya respon positif dari acara yang akan diadakan bulan Desember nanti, panitia IRF berpesan agar tidak usah ragu untuk datang ke acara IRF 2013. “Karena kami menyajikan sesuatu yang berbeda. Acara ini dari pembaca untuk pembaca. Dan mata acaranya pun kami yakin akan sangat seru dan menarik. Silakan baca http://www.festivalpembacaindonesia.com dan linimasa http://www.twitter.com@bacaituseru untuk informasi lebih lanjut mengenai #IRF2013.”

(Narasumber: Farah Lestari, Helvry Sinaga, Ain, Nur’aini).
Source: festivalpembacaindonesia.com/Goodreads Indonesia
pic: bookingmama.net

ps: ditulis untuk kebutuhan artikel

Makna Membaca menurut Darwis Tere Liye


(1) Tak akan merugi orang-orang yang menghabiskan waktu dengan membaca buku.

(2) Membaca adalah hobi orang-orang yang taat agama. Karena perintah pertama agama adalah membaca. Dan Tuhan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan perantara kalam (pena/tulisan)

(3) Membaca itu jika tidak bermanfaat sekarang, esok lusa akan berguna. Maka banyak-banyak membaca sekarang, esok lusa akan berguna banyak. Tidak akan menyesal orang-orang yang suka membaca.

(4) Banyak sekali salah paham, buruk sangka, tuduhan, hinaan, bahkan perang antar umat manusia tidak akan terjadi jika semua memilih membaca dulu dengan baik daripada bicara dulu. Betapa menariknya kebiasaan membaca.

(5) Orang-orang sok tahu, pada umumnya sedikit sekali membaca buku. Termasuk sok tahu di jejaring sosial, minim sekali membaca buku. Tapi dengan senang hati, maksimal sekali menunjukkan hal tersebut lewat komen-komennya.

(6) Maka membacalah. Kita bisa menggapai tepi-tepi pengetahuan hari ini dengan membaca. Bisa menyentuh pinggir-pinggir kebijaksanaan orang tua dengan membaca. Dan yang lebih menakjubkan lagi, kalian bisa membuka tepi itu, pinggir itu lebih jauh lagi.

(7) Jaringan perpustakaan nasional Singapura, mengacu data tahun 2007, dikunjungi oleh 37 juta
pengunjung, alias 100.000 lebih pengunjung per hari. Masih mau bertanya kenapa Singapura masuk dalam daftar negara-negara maju, bersih, jujur, dan hal-hal menakjubkan lainnya? Itu artinya, dalam setahun, rata-rata penduduk Singapura berkunjung ke perpustakaan nasional mereka 7,4x (diluar toko buku, kafe buku, dan sebagainya). Nah, kalau kota Jakarta mau menyamai Singapura, kita harus memiliki 74 juta pengunjung di jaringan perpustakaan daerah Jakarta. Atau kalau seluruh Indonesia 1,7 milyar pengunjung di jaringan perpustakaan nasional seluruh Indonesia. Mari didik anak-anak kita agar suka membaca. Jangan biarkan, justru orang lain yang lebih paham betapa pentingnya budaya membaca. Indonesia ini mayoritas muslim, di mana perintah pertama agamanya adalah: bacalah.

(8) Segera tanamkan kebiasaan membaca ke anak2 kita, secepat mungkin. Biasakan mereka dengan buku-buku, batasi televisi, dan sejenisnya. Jangan biarkan anak-anak meniru generasi kita, orang tuanya yang jarang membaca. Beda antara sebuah bangsa yang mendidik anak-anaknya untuk suka membaca dengan tidak bisa sebesar: yang satu tumbuh maju mengirim astronot ke luar angkasa; yang satunya lagi, duduk di balai-balai bambu di malam dingin, sambil ngopi, berbual cerita hanya menatap luar angkasa.

(9) Terakhir, omong kosong bila membaca itu butuh uang, apalagi mendaftar argumen: harga buku-buku mahal.
Lihatlah sekitar kita:
– menghabiskan ratusan ribu untuk pulsa setiap bulan no problem
– sekali makan di kedai fast food puluhan ribu nggak masalah
– beli gagdet jutaan, beli kosmetik, pakaian, dsbgnya tidak jadi perdebatan
– dan lebih menakjubkan lagi, sehari merokok 1-2 bungkus, hingga 10rb/hari, lumrah saja di negeri ini.

Membaca hanya butuh niat. Tidak memiliki niat-nya, maka jangan salahkan hal lain. Salahkan diri sendiri. Bisa pinjam, menambah teman dan silaturahmi. Bisa ke perpustakaan, bisa apapun,
kalau memang niat membaca.

*saya suka sekali, page ini banyak sekali anggota remajanya, usia SD, SMP dan SMA. Adik2 sekalian, banyak-banyaklah membaca, maka kalian akan tumbuh dengan banyak pengetahuan. Membaca novel hanya urutan ke-10 dari buku yang harus dibaca. Jadi tidak perlu habiskan waktu untuk hal tersebut. Rajin2lah ke perpustakaan, saling pinjam, sama sekali tdk perlu punya uang untuk membaca. Dengarkan nasehat om Tere, karena kalian adalah generasi yg lebih baik. Tidak apa dibilang kuper, kutu buku. Kita tahu diri kita sendiri. Dan tahu mana yang bermanfaat atau tidak.

(source: fb: Darwis Tere Liye)
(pic: dreamstime.com)

Semangat Anti Bullying

1753_10201672804210170_1237928492_n
Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Di kelas, aku orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pandai, tidak juga terlalu bodoh. Teman sekelasku yang bernama Mimin duduk di sebelah kiri bangkuku. Dia duduk sendirian, sementara yang lain punya teman sebangku. Kesanku hanya dengan sekilas melihatnya saja dia orang yang pendiam, pendiam karena apa… sepertinya karena tidak ada yang mau jadi temannya. Secara fisik, Mimin memang tidak se-oke yang lain, tidak cantik, tidak juga putih. Kulitnya yang ‘maaf’ seperti bekas habis terbakar membuat penampilannya di mata yang lain tidak sepadan. Untuk masalah ini aku sendiri juga sebenarnya belum pernah menanyakan langsung padanya. Ditambah lagi pakaiannya yang sedikit kumal, sepatu dan tas yang tidak bermerek. Rambutnya yang tergerai sebahu tampak tidak disisir.

Hari itu, aku mendapati bagaimana perilaku teman sekelasku yang lain padanya yang tampak jelas mengintimidasi. Nourma, murid paling pintar di kelas, selain diunggulkan di setiap mata pelajaran, dia juga diunggulkan soal penampilan. Cantik dan berkulit bersih, hidungnya mancung seperti orang indo.

Saat itu guru Matematikaku, Pak Sumarno memberikan soal Matematika yang sulit sebagai latihan untuk UAN nanti. Pak Sumarno yang melihat Mimin seperti tidak mengerti, menyuruh Nourma yang duduk di depan Mimin untuk membantu mengajarkannya soal yang sulit.
Saat jam istirahat, aku ada di kelas bersama ketiga sahabatku. Aku melihat Nourma sedang mengajarkan soal pada Mimin. Awalnya aku sangat salut bagaimana murid teladan di kelas seperti Nourma punya sikap yang baik membantu Mimin. Tapi, begitu aku melihat caranya mengajarkan, aku cukup terkejut.
“Duh, Miiiiin… masa kayak gini aja gak bisa sih? Begini nih!” Nourma menarik bukunya kasar.
Bisa kupastikan, Mimin tidak akan mengerti jika Nourma mengajarkannya seperti itu. Yang ada mungkin hanya rasa tertekan bahwa dia tidak bisa.
Dalam benak, aku berpikir, bagaimana cara dia bisa bertahan tiga tahun di sekolah tanpa teman ya, dan saat ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Karena di kelas, nilainya yang paling rendah.

Aku seperti bisa menyelami apa yang dirasakan Mimin.
Saat SD, aku pernah dibully oleh teman sekelas. Diantaranya ada yang suka mengolok-olokku dengan sebutan patung, ada juga yang menyebutku ekor, karena hanya bisa mengikuti satu temanku tanpa bisa bergaul dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, aku pernah sampai dipalak. Uang jajanku diambil semua. Aku hanya bisa menangis waktu itu.
Di kelas 3 SMP ini, seperti dejavu. Bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dengan pembully lagi. Dan kira-kira sebelum pembullyan yang dialami oleh Mimin terjadi, aku pernah mengalaminya juga. Tapi, bukan oleh Nourma atau murid-murid perempuan yang lain. Secara sosial hubunganku dengan teman-teman perempuan sangat baik. Namun, berbeda dengan murid laki-laki, aku harus berurusan dengan Heru dan Yopi, murid laki-laki yang paling punya kuasa di kelas.
Ketika aku sedang menulis di papan tulis karena aku ditunjuk sebagai sekretaris kelas, Yopi mengolok-olokku dari bangkunya.
“Nulis apaan sih, gak jelas.”
“Gambar apaan tuh? Setrikaan? Hahaha.”
Dan begitu seterusnya setiap kali aku menulis di papan tulis. Hingga entah sejak kapan aku memendam rasa kesal ini, aku seperti air soda dalam botol yang ditutup rapat sangat kencang dan tertekan. Sering dikocok hingga saatnya reaksi udara dalam botol itu tak bisa lagi ditampung. Duaaaarrrrr. Tutup botol terbuka dan memental sangat jauh. Seperti yang terjadi padaku saat itu, aku memegang kapur tulis sangat kencang dan… Pletak! Aku melemparkannya tepat sasaran, mengarah ke bangku Yopi dan Heru tempati. Tawa mereka seketika lenyap begitu saja.

Yah, bagiku sekarang mudah untuk membalas aksi pembullyan karena pengalaman 6 tahun di SD, hingga cukup tegar dan kuat menghadapi pembully.
Aku merasa ingin mentransfer seluruh energiku pada Mimin agar dia juga bisa berani sepertiku sekarang.
Yopi kali ini tidak berani membullyku lagi. Entah sejak kapan, dia malah membaik-baikkan aku, seperti, “Boleh minta tolong, namain LKS ku. Tulisan kamu rapih banget!”
“Huh!” Seperti baru sadar saja kalau memang tulisanku bagus. Buat apa aku dipilih jadi sekretaris coba?
Yah, secara tidak langsung pembullyan itu sangat menekan psikologis orang yang dibully. Bagi pembully mungkin hal-hal semacam itu sangat menyenangkannya, tidak ada rasa menyesal apalagi bersalah. Seakan si pembully itu orang yang paling merasa benar dan menginginkan kebenarannya itu dilihat semua orang, diperhatikan semua orang, disanjung semua orang. Tanpa memikirkan perasaan orang yang dibully itu tertekan.
Korban bully jadi merasa tidak percaya diri, dia membentuk bangunan rasa bahwa dia orang yang tidak diinginkan, hingga perasaan takut, malu, dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Bagaimana dia takut untuk menghadapi banyak orang, dunia sosial, disaat semua orang seperti itu terhadapnya, seperti mengutukinya dan memperhatikannya, dan salah-salah ketahuan, ya…diolok. Orang pendiam memang banyak jadi objek sasaran empuk bagi para pembully. Rasa seperti itu sangat menyakitkan. Bahkan di negeri ginseng saja, korban bully bisa mati bunuh diri saking tertekannya.

STOP BULLYING! Entah itu secara fisik maupun psikis. Kalau tidak mau keluarga, saudara, sahabat, atau orang yang anda cintai mengalami hal demikian, tolong mulai dari diri sendiri untuk menghargai orang lain. Jangan memandang secara fisik maupun sosial. Semua orang punya hak untuk hidup di dunia ini kan. Bagaimana Hak Asasi Manusia itu ada. Semua ini dasar bagaimana kita menciptakan kehidupan yang selaras membangun negeri dan melindungi dunia.

Terima Kasih banyak yang sudah membaca cerita singkatku mengenai Gerakan Anti Bullying. Buat temanku, maaf ya namanya dipakai, aku tahu kalian pasti sudah berubah. Masa-masa sekolah memang tidak lepas dari pencarian jati diri yang terkadang menimbulkan sifat kekanak-kanakan. Semoga cerita dari pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran, bahwa bullying itu sangat merugikan. Sekali lagi, semangat anti bullying!!! ^O^/

Mambaca Garis Tangan

LIHATLAH TELAPAK TANGANMU
Ada beberapa garis utama yang menentukan nasib
Ada garis kehidupan.
Ada garis rezeki
Ada pula garis jodoh.
Sekarang, menggenggamlah..
Dimana semua garis tadi ?
“Di dalam telapak tangan yang anda genggam.”
Nah, apa artinya itu?
Apapun takdir & keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri.
Anda lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu.
Dan, begitulah rahasia sukses..
Berjuang & berusaha dengan berbagai cara untuk menentukan nasib sendiri..
Tetapi coba lihat pula genggamanmu.
Bukankah masih ada garis yang tidak ikut
tergenggam?
Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu..
Karena di sanalah letak kekuatan Sang Maha
Pencipta yang kita tidak akan mampu lakukan & itulah bagianNya Allah.
Genggam & lakukan bagianmu dengan kerja keras & sungguh, & bawalah kepada Allah bagian yang tidak mampu engkau lakukan..!
GOD will give the BEST bagi mereka yg bekerja keras dan melakukan “bagiannya”.
Salam Ikhlas,

keren banget ya! sampe terharu :”) aku dapet ini dari Kaskus
aku cantumin namanya jg kok^^
cr: KASKUS/chiboyz/April/2009