Hear Me


Di pagi hari yang cerah tanpa suara kicauan burung atau suara-suara alam lainnya. Aku tiba di depan sekolah baruku. SMA Bakti yang terkenal dengan muridnya yang jago dalam bidang olahraga. Kebanyakan altet-atlet terkenal di Indonesia adalah alumni dari sekolah ini.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orangtuaku saat memindahkanku sekolah ini. Di sekolah lama aku tidak memiliki masalah yang serius, aku juga tidak mengeluh ingin pindah. Jarak sekolah baru dari rumahku saja lebih jauh dibandingan sekolahku yang dulu, jika alasannya transportasi sepertinya salah. Biaya, sepertinya juga bukan, meski keluargaku terbilang pas-pasan. Apa mungkin ini masalahnya? Ah, lagi-lagi aku sakit kepala jika harus memikirkannya. Akhirnya aku ikut saja maunya orangtuaku, aku tidak terlalu ambil pusing karena aku masih kelas sepuluh semester pertama, belum banyak teman yang harus aku tangisi dengan kepergianku.

Aku melangkah dengan mantap menjejakkan kaki di balik gerbang depan sekolah. Aku sudah memasuki kawasan halaman depan sekolah. Setelah berbasa-basi menemui kepala sekolah, guru, dan staf. Aku digiring masuk ke kelas yang tidak jauh dari ruang guru tadi.

Bisa ku dengar suara gaduh dengan dentuman-dentuman samar meja dan kursi yang terbayang olehku sedang beradu, serta decit-decit sepatu yang menghentakan lantai. Guru di sampingku terlihat tenang, sepertinya sudah biasa mendengar kekacauan ini.

Ketika kakiku sudah sampai bibir pintu, suara itu lenyap tersumbat headphone yang menempel di telinga. Aku menyapu sekitar, kelas dengan murid yang banyak ini tampak duduk rapih tanpa ada yang ganjil setitikpun.

Guru di sebelahku berdeham lalu memperkenalkanku pada semua murid dengan informasi seadanya, jika ingin lebih lanjut mengenalku lebih baik bertanya langsung padaku di luar jam pelajaran. Semua anak heboh dan bersiul-siul, saat aku juga sudah menyapa mereka. Lalu aku berjalan menuju bangku kosong di tengah-tengah barisan. Duduk sendirian.

Di jam istirahat dua orang murid perempuan mendekatiku, mereka memperkenalkan diri dengan nama Gina dan Anggun. Gina orangnya sangat lembut, terdengar dari suaranya yang mendayu-dayu. Sementaa Anggun dengan perawakannya yang atletis bersuara lebih lantang seperti murid laki-laki, dari penampilannya dia memang tomboy.
Aku menyunggingkan senyum penuh ramah menerima mereka untuk jadi temanku. Namun, tidak jauh di belakangku, seseorang tengah meluhatku terus-terusan tanpa berkedip. Bukan tatapan bersahabat yang ditampakkannya, melainkan tatapan tajam penuh kebencian, seperti ingin menerkamku. Leherku bergidik, tatapannya seperti bisa menghembuskan angin dan menggelitik bulu kudukku.

Satu minggu terlewati dengan mudah, aku dikenal baik oleh semua murid di kelas, bahkan satu sekolah karena kepopuleran anak baru di kalangan kakak kelas menyebar seperti wangi parfum blabla yang ditumpahkan untuk mengepel koridor.

Gina dan Anggun mengajakku ke kantin, kami bertiga semakin akrab dan tak bisa dipisahkan. Entah karena kepopuleranku mereka terus menempel padaku atau karena aku orangnya menyenangkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting aku ada teman sepanjang hari di sekolah tanpa takut dibully ataupun diasingkan. Seperti setelah ini, saat bel masuk berbunyi, Anggun malah pergi ke ruang olahraga, Gina ngacir ke toilet. Aku harus memilih ikut mana. Tentu tidak, aku masuk ke kelas saja. Siapa mereka yang harus terus menerus menempel padaku, bukankah lebih baik aku berjalan sendiri kalau-kalau ada kakak kelas yang menghampiriku mereka tidak sungkan karena aku sedang sendiri.

Namun, bayanganku didekati kakak kelas tidak pernah terjadi sampai saat ini. Bahkan ketika aku sendiri, aku mendengus dalam hati sambil menghentakkan kaki ke bibir pintu dan masuk ke dalam kelas yang duhnya minta ampun. Tapi, begitu aku masuk tidak banyak murid di dalam, suara gaduh yang kudengar barusan tidak mungkin asalnya dari segelintir mereka yang hanya berlima.

Aku berjalan masuk untuk duduk di bangkuku. Salah satu dari mereka yang duduk di paling belakang maju ke depan masih dengan tatapan tajam yang sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dia menghampiri mejaku lalu mendorong kursinya hingga terjungkal.
“Jangan duduk disini!” ucapnya sarkatis, begitu dingin hingga menyambar tengkuk leherku.
Aku yang tak tahan ditembaki tatapan tajamnya, membalas melotot. Apa salahku sih sampai dia yang belum mengenalku berani-beraninya menatapku sinis seperti itu? Kalau dia bisa semudah itu melakukan hal yang kasar terhadapku mengapa tidak, aku juga bisa membalasnya.

Kemudian dia tertawa. Tertawa meledekku.
Aku tidak mengerti, lebih tidak mengerti karena kelas ini tetap kosong. Kemana murid yang lain, Gina, Anggun, serta guru yang seharusnya masuk.
Kini yang terdengar suara tawa teman-temannya ikut menimpali, aku menutup telinga tidak tahan mendengarnya. Sampai akhirnya aku mendorong dia hingga tersungkur menabrak meja lain. Dia bangkit, menggeram lalu menubrukku. Hingga setelah itu semuanya gelap.
**

Perlahan-lahan aku membuka mataku, ada sinar menyilaukan seperti ada yang melaser mataku. Aku sedang terbaring di sebuah kasur yang tidak empuk dan baunya yang tidak sedap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan 4 x 6 meter ini. Yang ada hanya beberapa barang tak terurus seperti lemari di sebelah ranjangku yang reot. Meja dan kursi yang sudah terkelupas lapisan kayunya. Di dindingnya ada kotak bertuliskan P3K tergantung dengan warna putih yang mulai menguning.

Kini aku tidak mendengar suara apapun, hanya keheningan yang menjalar ke seluruh panca inderaku. Tak lama tiba-tiba ada sebuah suara terkikik memekakan telinga, begitu cepat merambat dan menumpahkan semuanya tepat di lubang telingaku. Mengenai gendang telingaku, rasanya begitu sakit. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan, mencoba agar tidak mendengar suara itu lagi. Sampai akhirnya kedua temanku masuk bermaksud menjengukku.
“Kamu udah baikan del?” tanya Gina lembut.
Aku mengangguk. Terharu mereka ada disini.
Anggun duduk sembarang di meja, lalu bertanya sesuatu yang membuatku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih del kok bisa pingsan di tengah-tengah jam pelajaran?”
“Semua orang jadi takut sama kamu,” sambung Gina.
Apa-apan ini mereka bilang aku pingsan di tengah jam pelajaran, padahal aku masuk kelas tidak ada siapa-siapa selain kelima anak bengal itu. Ya, mereka, salah seorang dari mereka yang membuatku bisa pingsan. Aku harus menceritakan pada Anggun dan Gina, tentang laki-laki yang duduk di belakang mereka, dari awal bertemu denganku hingga sekarang selalu melototiku tanpa sebab. Setelah menjelaskan yang sebenarnya mereka tiba-tiba tertawa. Anggun yang paling keras tertawa, Gina hanya berdeham kecil menyumpal tawanya.
“Mengapa kalian tertawa? Aku serius!”
Tawa mereka tidak pernah berhenti, justru semakin kencang, aku melotot kesal, gendang telingaku kembali berdenyut. Tawa mereka membuatku merasa sakit lagi. Kesal mereka mengabaikanku aku turun dari ranjang mendorong mereka, hingga Gina terjungkal dari kursinya, Anggun terjembab jatuh dari meja.
Dan semuanya menjadi gelap.
**

Di pagi hari yang cerah, tanpa kicauan burung dan suara-suara alam lainnya. Aku berdiri tegak di depan gerbang sekolah baru sambil menyeringai ke sudut koridor yang terlihat dari gerbang. Seorang laki-laki tengah menatapku tajam.
**
(pic: flickr)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s