Semangat Anti Bullying

1753_10201672804210170_1237928492_n
Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Di kelas, aku orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pandai, tidak juga terlalu bodoh. Teman sekelasku yang bernama Mimin duduk di sebelah kiri bangkuku. Dia duduk sendirian, sementara yang lain punya teman sebangku. Kesanku hanya dengan sekilas melihatnya saja dia orang yang pendiam, pendiam karena apa… sepertinya karena tidak ada yang mau jadi temannya. Secara fisik, Mimin memang tidak se-oke yang lain, tidak cantik, tidak juga putih. Kulitnya yang ‘maaf’ seperti bekas habis terbakar membuat penampilannya di mata yang lain tidak sepadan. Untuk masalah ini aku sendiri juga sebenarnya belum pernah menanyakan langsung padanya. Ditambah lagi pakaiannya yang sedikit kumal, sepatu dan tas yang tidak bermerek. Rambutnya yang tergerai sebahu tampak tidak disisir.

Hari itu, aku mendapati bagaimana perilaku teman sekelasku yang lain padanya yang tampak jelas mengintimidasi. Nourma, murid paling pintar di kelas, selain diunggulkan di setiap mata pelajaran, dia juga diunggulkan soal penampilan. Cantik dan berkulit bersih, hidungnya mancung seperti orang indo.

Saat itu guru Matematikaku, Pak Sumarno memberikan soal Matematika yang sulit sebagai latihan untuk UAN nanti. Pak Sumarno yang melihat Mimin seperti tidak mengerti, menyuruh Nourma yang duduk di depan Mimin untuk membantu mengajarkannya soal yang sulit.
Saat jam istirahat, aku ada di kelas bersama ketiga sahabatku. Aku melihat Nourma sedang mengajarkan soal pada Mimin. Awalnya aku sangat salut bagaimana murid teladan di kelas seperti Nourma punya sikap yang baik membantu Mimin. Tapi, begitu aku melihat caranya mengajarkan, aku cukup terkejut.
“Duh, Miiiiin… masa kayak gini aja gak bisa sih? Begini nih!” Nourma menarik bukunya kasar.
Bisa kupastikan, Mimin tidak akan mengerti jika Nourma mengajarkannya seperti itu. Yang ada mungkin hanya rasa tertekan bahwa dia tidak bisa.
Dalam benak, aku berpikir, bagaimana cara dia bisa bertahan tiga tahun di sekolah tanpa teman ya, dan saat ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Karena di kelas, nilainya yang paling rendah.

Aku seperti bisa menyelami apa yang dirasakan Mimin.
Saat SD, aku pernah dibully oleh teman sekelas. Diantaranya ada yang suka mengolok-olokku dengan sebutan patung, ada juga yang menyebutku ekor, karena hanya bisa mengikuti satu temanku tanpa bisa bergaul dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, aku pernah sampai dipalak. Uang jajanku diambil semua. Aku hanya bisa menangis waktu itu.
Di kelas 3 SMP ini, seperti dejavu. Bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dengan pembully lagi. Dan kira-kira sebelum pembullyan yang dialami oleh Mimin terjadi, aku pernah mengalaminya juga. Tapi, bukan oleh Nourma atau murid-murid perempuan yang lain. Secara sosial hubunganku dengan teman-teman perempuan sangat baik. Namun, berbeda dengan murid laki-laki, aku harus berurusan dengan Heru dan Yopi, murid laki-laki yang paling punya kuasa di kelas.
Ketika aku sedang menulis di papan tulis karena aku ditunjuk sebagai sekretaris kelas, Yopi mengolok-olokku dari bangkunya.
“Nulis apaan sih, gak jelas.”
“Gambar apaan tuh? Setrikaan? Hahaha.”
Dan begitu seterusnya setiap kali aku menulis di papan tulis. Hingga entah sejak kapan aku memendam rasa kesal ini, aku seperti air soda dalam botol yang ditutup rapat sangat kencang dan tertekan. Sering dikocok hingga saatnya reaksi udara dalam botol itu tak bisa lagi ditampung. Duaaaarrrrr. Tutup botol terbuka dan memental sangat jauh. Seperti yang terjadi padaku saat itu, aku memegang kapur tulis sangat kencang dan… Pletak! Aku melemparkannya tepat sasaran, mengarah ke bangku Yopi dan Heru tempati. Tawa mereka seketika lenyap begitu saja.

Yah, bagiku sekarang mudah untuk membalas aksi pembullyan karena pengalaman 6 tahun di SD, hingga cukup tegar dan kuat menghadapi pembully.
Aku merasa ingin mentransfer seluruh energiku pada Mimin agar dia juga bisa berani sepertiku sekarang.
Yopi kali ini tidak berani membullyku lagi. Entah sejak kapan, dia malah membaik-baikkan aku, seperti, “Boleh minta tolong, namain LKS ku. Tulisan kamu rapih banget!”
“Huh!” Seperti baru sadar saja kalau memang tulisanku bagus. Buat apa aku dipilih jadi sekretaris coba?
Yah, secara tidak langsung pembullyan itu sangat menekan psikologis orang yang dibully. Bagi pembully mungkin hal-hal semacam itu sangat menyenangkannya, tidak ada rasa menyesal apalagi bersalah. Seakan si pembully itu orang yang paling merasa benar dan menginginkan kebenarannya itu dilihat semua orang, diperhatikan semua orang, disanjung semua orang. Tanpa memikirkan perasaan orang yang dibully itu tertekan.
Korban bully jadi merasa tidak percaya diri, dia membentuk bangunan rasa bahwa dia orang yang tidak diinginkan, hingga perasaan takut, malu, dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Bagaimana dia takut untuk menghadapi banyak orang, dunia sosial, disaat semua orang seperti itu terhadapnya, seperti mengutukinya dan memperhatikannya, dan salah-salah ketahuan, ya…diolok. Orang pendiam memang banyak jadi objek sasaran empuk bagi para pembully. Rasa seperti itu sangat menyakitkan. Bahkan di negeri ginseng saja, korban bully bisa mati bunuh diri saking tertekannya.

STOP BULLYING! Entah itu secara fisik maupun psikis. Kalau tidak mau keluarga, saudara, sahabat, atau orang yang anda cintai mengalami hal demikian, tolong mulai dari diri sendiri untuk menghargai orang lain. Jangan memandang secara fisik maupun sosial. Semua orang punya hak untuk hidup di dunia ini kan. Bagaimana Hak Asasi Manusia itu ada. Semua ini dasar bagaimana kita menciptakan kehidupan yang selaras membangun negeri dan melindungi dunia.

Terima Kasih banyak yang sudah membaca cerita singkatku mengenai Gerakan Anti Bullying. Buat temanku, maaf ya namanya dipakai, aku tahu kalian pasti sudah berubah. Masa-masa sekolah memang tidak lepas dari pencarian jati diri yang terkadang menimbulkan sifat kekanak-kanakan. Semoga cerita dari pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran, bahwa bullying itu sangat merugikan. Sekali lagi, semangat anti bullying!!! ^O^/

Advertisements

One thought on “Semangat Anti Bullying

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s