Ganti Blog

hallo, everyone!
langsung saja, saya ingin memberitahu kalau blog saya telah di export ke blogspot. jadi, blog ini mungkin tidak akan dipakai lagi. tapi, postingannya tidak hilang–saya salin ke blog baru.
silahkan follow saya disini, arigatou! 😀

@irnari

Advertisements

Menyambut Festival Pembaca Indonesia 2013


Bagi para pecinta buku nama sosial media Goodreads tidak akan asing lagi di telinga. Goodreads merupakan jejaring sosial yang populer untuk membuat pengguna akun tersebut dapat berbagi rekomendasi buku dengan sesama pengguna lainnya, mencari informasi lebih tentang buku dan penulis, serta terhubung dengan berbagai orang yang memiliki ketertarikan yang sama pada buku.

Seperti dikutip dari wikipedia, mengenai kepopuleran Goodreads sebagai jejaring sosial terbesar−dengan mempunyai lebih dari 3,6 juta anggota dan menambah koleksi buku sebanyak lebih dari 110 juta buku pada tahun 2009.

Salah satu cikal adanya Goodreads dari Amerika ini melahirkan komunitas Goodreads Indonesia yang para anggotanya merupakan orang-orang Indonesia. Komunitas ini tergolong aktif dalam meramaikan dunia literasi. Bagaimana tidak, selain penerbit dan penulis, pembaca juga memiliki hak suara untuk memajukan peradaban literasi. Meskipun para pecinta buku di Indonesia masih jarang, karena dilihat dari presentasi minat baca yang sangat minim, terhitung hanya 0,01 persen, jauh dari Jepang (45 persen) dan Singapura (55 persen).

Dengan adanya komunitas Goodreads Indonesia yang dibentuk tahun 2007 oleh Femmy Syahrani, minat baca buku di Indonesia mengalami kemajuan−−dengan adanya komunitas-komunitas baru yang mengusung tema penggemar buku sekaligus resensator di dunia maya. Salah satunya adalah Blog Buku Indonesia yang dibentuk tahun 2011 oleh Hernadi Tanzil. Blog ini adalah wadah tempat para pengemar buku mereview buku yang telah dibacanya kemudian diposting di blog buku masing-masing−−yang tentunya sudah terdaftar di agregator BBI. Komunitas ini merupakan salah satu contoh komunitas yang juga aktif setelah GRI, di luar sana masih banyak lagi para pecinta buku yang tumbuh untuk membangun minat baca di Indonesia, seperti Klub Buku Cirebon dengan komunitas orang-orang Cirebon.

Jadi, dengan terbentuknya komunitas pembaca, diharapkan tidak hanya sekedar menjadi pembaca anonim atau pasif. GRI beserta komunitas baca lainnya ingin memberikan image pembaca aktif, tidak seserius yang orang pikirkan, melainkan komunitas ini sangat menyenangkan−jauh dari kesan serius, karena komunitas ini bauran dari berbagai macam orang dengan pengetahuan yang lebih banyak dan beragam jenis dari buku-buku yang sudah dibacanya. Oleh karena itu, Goodreads Indonesia yang sejak 2010 telah menggelar sebuah acara besar bernama Festival Pembaca Indonesia, kini di tahun ke-4 direncanakan akan diadakan di tanggal 8 Desember 2013, di Plaza Festival, Kuningan Jakarta. Berhubung dengan banyaknya yang mengharapkan acara tahun ini dibuat tampil beda, perubahan waktu dan tempat pun akhirnya diputuskan, Festival Pembaca akan diadakan dua hari di tanggal 7-8 Desember 2013, bertempat di Museum Bank Mandiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Festival Pembaca Indonesia (Indonesian Readers Festival/IRF) adalah sebuah acara tahunan para pembaca buku untuk masyarakat Indonesia yang dikemas menjadi sebuah kegiatan rekreasi baca. Kegiatannya seru dan mendidik. Konsep play-educate ini yang membedakan acara IRF dengan kegiatan perbukuan besar lainnya. Komunitas GRI yang menyelenggarakan acara tahunan ini ingin menjadikan komunitas pembaca yang aktif dengan kegiatan-kegiatan, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, dalam dunia nyata bisa terlihat dari acara IRF ini.

“Selama ini acara-acara festival/event atau pameran di dunia literasi biasanya terpusat pada pameran buku yang melibatkan penerbit. Tapi melalui IRF, GRI ingin membuat dan menyajikan sesuatu yang berbeda untuk mengapresiasi pembaca di Indonesia. Karena Goodreads Indonesia sendiri merupakan komunitas pembaca yang cukup besar di Indonesia (bahkan ada beberapa anggotanya yang berdomisili di luar Indonesia), maka diadakan lah IRF ini. Disini pembaca dapat memamerkan koleksinya buku-bukunya, dan komunitas-komunitas pembaca seperti penggemar karya-karya dan kisah-kisah tertentu juga dapat berpartisipasi di sini,” jawab Farah Lestari, selaku perwakilan dari panitia IRF—saat ditanya ide yang mendasari diadakannya IRF ini.

Tahun 2012 lalu, acara ini sukses diadakan dengan mengusung tema “Luaskan Dunia Membacamu”. Tahun ini GRI kembali menyelenggarakan dengan tema yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu “Harmoni Dunia Membaca”.

“IRF 2013 ingin menjalin keseruan dan keberagaman para pembaca di Indonesia melalui jalinan yang indah. Kami memahami bahwa setiap pembaca memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri. Tapi kami juga percaya, kegiatan membaca yang berawal dari hobi dan kesukaan ini telah menyatukan itu semua. Karenanya kami mengangkat tema Harmoni Dunia Membaca. Kami ingin menjalin keterikatan dalam perbedaan-perbedaan ini, hingga kelak akan ada satu identitas bersama, yaitu pembaca Indonesia,” tuturnya.

Seperti tahun sebelumnya, IRF membuat banyak acara yang seru dan menarik, diantaranya: talkshow, workshop, Pojok Anak, Bioskop Baca, Book Swap, Book War, GRI Amazing Race, dan Anugerah Pembaca Indonesia.

Untuk keberlangsungan IRF kedepannya, IRF berharap tidak hanya diadakan di Jakarta saja, tapi juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia. “Dan karena festival ini dikhususkan untuk pembaca, kami berharap jumlah pembaca dan minat baca di Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Dan tentu saja, dukungan dari berbagai pihak, komunitas dan sponsor demi keberlangsungan acara ini.”

Seperti harapan IRF, banyak juga harapan masyarakat diseluruh pelosok tanah air yang menginginkan sekali untuk hadir dalam acara Festival Pembaca Indonesia ini. Diantaranya, Ain, warga Arjawinangun Cirebon yang berprofesi sebagai seorang Guru menginginkan untuk bisa mengikuti acara besar perbukuan tahunan ini. Akantetapi, dengan lokasi festival yang jauh di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk bisa mengikuti acara tersebut. Berbeda dengan saudari Nur’aini−asal Cilimus Kuningan, sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara IRF nanti di Jakarta. “Aku akan menabung untuk bisa ke Jakarta, hanya untuk acara IRF,” ucapnya−−saat diwawancarai di Cilimus.

Perwakilan dari BBI, Helvry Sinaga juga sangat antusias menyambut acara IRF 2013, beserta para anggota BBI lainnya. Komunitas ini sudah membentuk panitia sendiri untuk bisa ikut berpartisipasi dalam acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia. Dengan mengikuti acara ini, Helvry Sinaga mengatakan bahwa diharapkan BBI bisa dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan diketahui pembaca lainnya. Maklum BBI baru dua tahun terbentuk, dan ingin menempatkan dirinya diantara komunitas para pembaca lainnya. BBI juga ingin mengenalkan pada pembaca lain bahwa mereka bukan sekedar membaca, tetapi juga menulis. “Inilah salah satu kekhasan blogger pembaca yang ingin kita bagikan,” tuturnya dalam grup Facebook Blog Buku Indonesia.

“Acara Festival Pembaca Indonesia merupakan pestanya pembaca Indonesia dalam mengapresiasi buku dan penulis. Berbagai pembaca baik dalam komunitas maupun individu turut meramaikan acara ini. Dari situ kita tahu ternyata ada banyak komunitas pembaca yang bersama-sama menyenangi dan menjadikan membaca sebagai gaya hidup,” pungkas Helvry Sinaga.

Dengan banyaknya respon positif dari acara yang akan diadakan bulan Desember nanti, panitia IRF berpesan agar tidak usah ragu untuk datang ke acara IRF 2013. “Karena kami menyajikan sesuatu yang berbeda. Acara ini dari pembaca untuk pembaca. Dan mata acaranya pun kami yakin akan sangat seru dan menarik. Silakan baca http://www.festivalpembacaindonesia.com dan linimasa http://www.twitter.com@bacaituseru untuk informasi lebih lanjut mengenai #IRF2013.”

(Narasumber: Farah Lestari, Helvry Sinaga, Ain, Nur’aini).
Source: festivalpembacaindonesia.com/Goodreads Indonesia
pic: bookingmama.net

ps: ditulis untuk kebutuhan artikel

Hear Me


Di pagi hari yang cerah tanpa suara kicauan burung atau suara-suara alam lainnya. Aku tiba di depan sekolah baruku. SMA Bakti yang terkenal dengan muridnya yang jago dalam bidang olahraga. Kebanyakan altet-atlet terkenal di Indonesia adalah alumni dari sekolah ini.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orangtuaku saat memindahkanku sekolah ini. Di sekolah lama aku tidak memiliki masalah yang serius, aku juga tidak mengeluh ingin pindah. Jarak sekolah baru dari rumahku saja lebih jauh dibandingan sekolahku yang dulu, jika alasannya transportasi sepertinya salah. Biaya, sepertinya juga bukan, meski keluargaku terbilang pas-pasan. Apa mungkin ini masalahnya? Ah, lagi-lagi aku sakit kepala jika harus memikirkannya. Akhirnya aku ikut saja maunya orangtuaku, aku tidak terlalu ambil pusing karena aku masih kelas sepuluh semester pertama, belum banyak teman yang harus aku tangisi dengan kepergianku.

Aku melangkah dengan mantap menjejakkan kaki di balik gerbang depan sekolah. Aku sudah memasuki kawasan halaman depan sekolah. Setelah berbasa-basi menemui kepala sekolah, guru, dan staf. Aku digiring masuk ke kelas yang tidak jauh dari ruang guru tadi.

Bisa ku dengar suara gaduh dengan dentuman-dentuman samar meja dan kursi yang terbayang olehku sedang beradu, serta decit-decit sepatu yang menghentakan lantai. Guru di sampingku terlihat tenang, sepertinya sudah biasa mendengar kekacauan ini.

Ketika kakiku sudah sampai bibir pintu, suara itu lenyap tersumbat headphone yang menempel di telinga. Aku menyapu sekitar, kelas dengan murid yang banyak ini tampak duduk rapih tanpa ada yang ganjil setitikpun.

Guru di sebelahku berdeham lalu memperkenalkanku pada semua murid dengan informasi seadanya, jika ingin lebih lanjut mengenalku lebih baik bertanya langsung padaku di luar jam pelajaran. Semua anak heboh dan bersiul-siul, saat aku juga sudah menyapa mereka. Lalu aku berjalan menuju bangku kosong di tengah-tengah barisan. Duduk sendirian.

Di jam istirahat dua orang murid perempuan mendekatiku, mereka memperkenalkan diri dengan nama Gina dan Anggun. Gina orangnya sangat lembut, terdengar dari suaranya yang mendayu-dayu. Sementaa Anggun dengan perawakannya yang atletis bersuara lebih lantang seperti murid laki-laki, dari penampilannya dia memang tomboy.
Aku menyunggingkan senyum penuh ramah menerima mereka untuk jadi temanku. Namun, tidak jauh di belakangku, seseorang tengah meluhatku terus-terusan tanpa berkedip. Bukan tatapan bersahabat yang ditampakkannya, melainkan tatapan tajam penuh kebencian, seperti ingin menerkamku. Leherku bergidik, tatapannya seperti bisa menghembuskan angin dan menggelitik bulu kudukku.

Satu minggu terlewati dengan mudah, aku dikenal baik oleh semua murid di kelas, bahkan satu sekolah karena kepopuleran anak baru di kalangan kakak kelas menyebar seperti wangi parfum blabla yang ditumpahkan untuk mengepel koridor.

Gina dan Anggun mengajakku ke kantin, kami bertiga semakin akrab dan tak bisa dipisahkan. Entah karena kepopuleranku mereka terus menempel padaku atau karena aku orangnya menyenangkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting aku ada teman sepanjang hari di sekolah tanpa takut dibully ataupun diasingkan. Seperti setelah ini, saat bel masuk berbunyi, Anggun malah pergi ke ruang olahraga, Gina ngacir ke toilet. Aku harus memilih ikut mana. Tentu tidak, aku masuk ke kelas saja. Siapa mereka yang harus terus menerus menempel padaku, bukankah lebih baik aku berjalan sendiri kalau-kalau ada kakak kelas yang menghampiriku mereka tidak sungkan karena aku sedang sendiri.

Namun, bayanganku didekati kakak kelas tidak pernah terjadi sampai saat ini. Bahkan ketika aku sendiri, aku mendengus dalam hati sambil menghentakkan kaki ke bibir pintu dan masuk ke dalam kelas yang duhnya minta ampun. Tapi, begitu aku masuk tidak banyak murid di dalam, suara gaduh yang kudengar barusan tidak mungkin asalnya dari segelintir mereka yang hanya berlima.

Aku berjalan masuk untuk duduk di bangkuku. Salah satu dari mereka yang duduk di paling belakang maju ke depan masih dengan tatapan tajam yang sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dia menghampiri mejaku lalu mendorong kursinya hingga terjungkal.
“Jangan duduk disini!” ucapnya sarkatis, begitu dingin hingga menyambar tengkuk leherku.
Aku yang tak tahan ditembaki tatapan tajamnya, membalas melotot. Apa salahku sih sampai dia yang belum mengenalku berani-beraninya menatapku sinis seperti itu? Kalau dia bisa semudah itu melakukan hal yang kasar terhadapku mengapa tidak, aku juga bisa membalasnya.

Kemudian dia tertawa. Tertawa meledekku.
Aku tidak mengerti, lebih tidak mengerti karena kelas ini tetap kosong. Kemana murid yang lain, Gina, Anggun, serta guru yang seharusnya masuk.
Kini yang terdengar suara tawa teman-temannya ikut menimpali, aku menutup telinga tidak tahan mendengarnya. Sampai akhirnya aku mendorong dia hingga tersungkur menabrak meja lain. Dia bangkit, menggeram lalu menubrukku. Hingga setelah itu semuanya gelap.
**

Perlahan-lahan aku membuka mataku, ada sinar menyilaukan seperti ada yang melaser mataku. Aku sedang terbaring di sebuah kasur yang tidak empuk dan baunya yang tidak sedap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan 4 x 6 meter ini. Yang ada hanya beberapa barang tak terurus seperti lemari di sebelah ranjangku yang reot. Meja dan kursi yang sudah terkelupas lapisan kayunya. Di dindingnya ada kotak bertuliskan P3K tergantung dengan warna putih yang mulai menguning.

Kini aku tidak mendengar suara apapun, hanya keheningan yang menjalar ke seluruh panca inderaku. Tak lama tiba-tiba ada sebuah suara terkikik memekakan telinga, begitu cepat merambat dan menumpahkan semuanya tepat di lubang telingaku. Mengenai gendang telingaku, rasanya begitu sakit. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan, mencoba agar tidak mendengar suara itu lagi. Sampai akhirnya kedua temanku masuk bermaksud menjengukku.
“Kamu udah baikan del?” tanya Gina lembut.
Aku mengangguk. Terharu mereka ada disini.
Anggun duduk sembarang di meja, lalu bertanya sesuatu yang membuatku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih del kok bisa pingsan di tengah-tengah jam pelajaran?”
“Semua orang jadi takut sama kamu,” sambung Gina.
Apa-apan ini mereka bilang aku pingsan di tengah jam pelajaran, padahal aku masuk kelas tidak ada siapa-siapa selain kelima anak bengal itu. Ya, mereka, salah seorang dari mereka yang membuatku bisa pingsan. Aku harus menceritakan pada Anggun dan Gina, tentang laki-laki yang duduk di belakang mereka, dari awal bertemu denganku hingga sekarang selalu melototiku tanpa sebab. Setelah menjelaskan yang sebenarnya mereka tiba-tiba tertawa. Anggun yang paling keras tertawa, Gina hanya berdeham kecil menyumpal tawanya.
“Mengapa kalian tertawa? Aku serius!”
Tawa mereka tidak pernah berhenti, justru semakin kencang, aku melotot kesal, gendang telingaku kembali berdenyut. Tawa mereka membuatku merasa sakit lagi. Kesal mereka mengabaikanku aku turun dari ranjang mendorong mereka, hingga Gina terjungkal dari kursinya, Anggun terjembab jatuh dari meja.
Dan semuanya menjadi gelap.
**

Di pagi hari yang cerah, tanpa kicauan burung dan suara-suara alam lainnya. Aku berdiri tegak di depan gerbang sekolah baru sambil menyeringai ke sudut koridor yang terlihat dari gerbang. Seorang laki-laki tengah menatapku tajam.
**
(pic: flickr)

Makna Membaca menurut Darwis Tere Liye


(1) Tak akan merugi orang-orang yang menghabiskan waktu dengan membaca buku.

(2) Membaca adalah hobi orang-orang yang taat agama. Karena perintah pertama agama adalah membaca. Dan Tuhan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan perantara kalam (pena/tulisan)

(3) Membaca itu jika tidak bermanfaat sekarang, esok lusa akan berguna. Maka banyak-banyak membaca sekarang, esok lusa akan berguna banyak. Tidak akan menyesal orang-orang yang suka membaca.

(4) Banyak sekali salah paham, buruk sangka, tuduhan, hinaan, bahkan perang antar umat manusia tidak akan terjadi jika semua memilih membaca dulu dengan baik daripada bicara dulu. Betapa menariknya kebiasaan membaca.

(5) Orang-orang sok tahu, pada umumnya sedikit sekali membaca buku. Termasuk sok tahu di jejaring sosial, minim sekali membaca buku. Tapi dengan senang hati, maksimal sekali menunjukkan hal tersebut lewat komen-komennya.

(6) Maka membacalah. Kita bisa menggapai tepi-tepi pengetahuan hari ini dengan membaca. Bisa menyentuh pinggir-pinggir kebijaksanaan orang tua dengan membaca. Dan yang lebih menakjubkan lagi, kalian bisa membuka tepi itu, pinggir itu lebih jauh lagi.

(7) Jaringan perpustakaan nasional Singapura, mengacu data tahun 2007, dikunjungi oleh 37 juta
pengunjung, alias 100.000 lebih pengunjung per hari. Masih mau bertanya kenapa Singapura masuk dalam daftar negara-negara maju, bersih, jujur, dan hal-hal menakjubkan lainnya? Itu artinya, dalam setahun, rata-rata penduduk Singapura berkunjung ke perpustakaan nasional mereka 7,4x (diluar toko buku, kafe buku, dan sebagainya). Nah, kalau kota Jakarta mau menyamai Singapura, kita harus memiliki 74 juta pengunjung di jaringan perpustakaan daerah Jakarta. Atau kalau seluruh Indonesia 1,7 milyar pengunjung di jaringan perpustakaan nasional seluruh Indonesia. Mari didik anak-anak kita agar suka membaca. Jangan biarkan, justru orang lain yang lebih paham betapa pentingnya budaya membaca. Indonesia ini mayoritas muslim, di mana perintah pertama agamanya adalah: bacalah.

(8) Segera tanamkan kebiasaan membaca ke anak2 kita, secepat mungkin. Biasakan mereka dengan buku-buku, batasi televisi, dan sejenisnya. Jangan biarkan anak-anak meniru generasi kita, orang tuanya yang jarang membaca. Beda antara sebuah bangsa yang mendidik anak-anaknya untuk suka membaca dengan tidak bisa sebesar: yang satu tumbuh maju mengirim astronot ke luar angkasa; yang satunya lagi, duduk di balai-balai bambu di malam dingin, sambil ngopi, berbual cerita hanya menatap luar angkasa.

(9) Terakhir, omong kosong bila membaca itu butuh uang, apalagi mendaftar argumen: harga buku-buku mahal.
Lihatlah sekitar kita:
– menghabiskan ratusan ribu untuk pulsa setiap bulan no problem
– sekali makan di kedai fast food puluhan ribu nggak masalah
– beli gagdet jutaan, beli kosmetik, pakaian, dsbgnya tidak jadi perdebatan
– dan lebih menakjubkan lagi, sehari merokok 1-2 bungkus, hingga 10rb/hari, lumrah saja di negeri ini.

Membaca hanya butuh niat. Tidak memiliki niat-nya, maka jangan salahkan hal lain. Salahkan diri sendiri. Bisa pinjam, menambah teman dan silaturahmi. Bisa ke perpustakaan, bisa apapun,
kalau memang niat membaca.

*saya suka sekali, page ini banyak sekali anggota remajanya, usia SD, SMP dan SMA. Adik2 sekalian, banyak-banyaklah membaca, maka kalian akan tumbuh dengan banyak pengetahuan. Membaca novel hanya urutan ke-10 dari buku yang harus dibaca. Jadi tidak perlu habiskan waktu untuk hal tersebut. Rajin2lah ke perpustakaan, saling pinjam, sama sekali tdk perlu punya uang untuk membaca. Dengarkan nasehat om Tere, karena kalian adalah generasi yg lebih baik. Tidak apa dibilang kuper, kutu buku. Kita tahu diri kita sendiri. Dan tahu mana yang bermanfaat atau tidak.

(source: fb: Darwis Tere Liye)
(pic: dreamstime.com)

Won Menjagamu

1) Irnalasari, twitter: @irnari

Beruang yang hidup di kutub saja bisa tahan dengan cuacanya yang dingin. Unta pun sanggup berjalan di gersangnya gurun pasir.
Gadis berambut panjang yang sedang berdiri di depan pintu kelas, mau bertahan lebih lama dari yang kukira. Sudah tiga puluh menit dia berdiri tegak tanpa penopang apapun. Wajahnya yang kelam tertutup rambutnya yang menjuntai ke depan. Kepalanya selalu menunduk seakan takut tersentuh cahaya raja siang.
Di antara murid yang lain, dia terlihat kontras. Semuanya sibuk bermain dengan teman-teman satu geng. Pergi ke kantin. Bercengkrama di halaman. Sementara gadis itu seakan sedang menyelami ubin di teras kelas dan semut bak ikan yang berenang di atasnya.
Lonceng berbunyi, gadis itu menengadahkan kepalanya. Rambutnya yang sejak tadi menutupi wajahnya, kini tersibak ke belakang. Ada seuntai harapan yang kudengar dari bunyi bel masuk. Aku bisa melihat wajahnya yang polos.
Menyadari suara bel itu, gadis itu bergerak, berbalik ke arah pintu. Belum sempat melangkahkan kaki ke pintu, murid lain berbondong-bondong masuk lebih dulu, menyeret gadis itu hingga tertinggal di belakang. Tubuhnya yang ringkih, sempat goyah terkena dorongan anarkis murid-murid yang tidak sabar ingin masuk kelas duluan.
Andai saja aku bisa masuk ke kelas yang sama denganmu. Aku ingin bisa menjagamu, menemanimu bermain di kala jam istirahat, mengajakmu belajar bersama.
Tapi, apalah aku ini… aku hanya bisa melihatmu tanpa bisa menghampiri. Aku hanya mampu memahami bahwa kau sehebat dan setegar beruang yang tinggal di kutub. Hidup seperti itu adalah hidup yang sesuai. Seperti aku yang selama ini berdiri tidak jauh darimu, karena tempatku memang di sini. Dalam sebuah tempat yang terbatas, tanah yang lembab, dan sinar matahari yang terik. Aku hanya daun bahagia yang hidup dalam pot.

Comments:
Aku suka cerita ini, karena aku enggak bisa nebak di awal cerita, tentang sudut pandang dari sisi mana yang dipakai oleh penulis. Aku kira mungkin seorang secret admirer yang adalah teman sekolah gadis itu. Tapi ternyata… Irna menyajikan ‘sudut pandang lain’ yang benar-benar meneduhkan. Great job! 😀

Cermin alias cerita mini yang aku ikut sertakan dalam lomba membuat cerita singkat dengan karakter 200-300 kata. Yang dalam cerita itu harus ada kata Menjagamu, Harapan, dan Kelam. Jurinya langsung penulisnya sendiri. Meskipun hadiahnya hanya novel, tapi aku sangat senang bukan main, karena aku mengikuti lomba ini ingin novel Menjagamu 😀
Terima kasih mbak Pia.
Berikut review Menjagamu yang aku buat setelah membaca bukunya 🙂

Membaca itu merdeka

Menyambut HUT RI yang ke 68. Saya ingin sharing mengenai kehidupan bangsa kita. Sudah sejauh mana saya atau anda mengenal Indonesia? Pertanyaan yang lucu ya? Tidak juga kok. Saya dan anda tinggal di Indonesia apa tahu bagaimana kondisi Indonesia saat ini?

Ada yang menjawab biasa-biasa saja tuh, atau ada yang berkata tidak sejahtera−rakyatnya masih banyak yang miskin, korupsi merajalela. Mungkin ada juga yang menyebut tidak aman karena teroris.
Lalu apa yang sudah anda atau saya lakukan demi bangsa ini?
Jawabannya?
Itu kan tugas pemerintah. Kami hanya rakyat biasa.
Duh, pikiran yang boneka sekali. Maunya hanya digerakkan, dituntun untuk hidup enak dan sejahtera.
Ingat kawan, kita manusia.. dibekali otak. Ada karya, cipta, dan karsa. Jangan jadi manusia malas. Mau disamkan dengan binatang? Nauzubillah.

Sebanyak apa yang saya ketahui dengan memperhatikan orang-orang yang sering mengeluh dan marah terhadap kondisi bangsa ini adalah orang-orang yang hanya pintar bicara dan sukanya bertindak anarkis.sementara, isi hati dan otaknya kosong. Bertindak tanpa tahu dsarnya, bertindak tanpa tahu ilmunya, bukanlah pemuda-pemudi sejati.

Coba berkaca, apa aksi seperti itu bisa merubah kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih baik? Mengancam dan mendemo orang-orang di pemerintahan. Hei, mereka penguasa, mereka punya andil di negera ini. Hanya buang-buang waktu saja jika kita berdebat dengan mereka, sementara kita kosong tak punya apa-apa.

Lalu, bagaimana? Apa kita harus diam saja? Tentu tidak, sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang cerdas, marilah melawan dengan cara sehat. Usia kita jauh lebih muda dari para pemimpin-pemimpin kita di pemerintahaan. cara sehat yang dilakuakn adalah belajar. Coba bayangkan jika kita hanya mampu berdemo dan mencaci di belakang, sementara masa jabatan pemerintah yang sudah tua-tua ini pada akhirnya akan tergeser dan digantikan generasi muda yang baru. Kalau bukan angkatan kita, siapa lagi? mau..yang meneruskannya anak-anak dan cucu-cucu mereka? Yang sudah jelas punya basic pendidikan lebih tinggi dan ilmu yang lebih banyak. Dibandingkan kita yang masih saja skak di tempat. Bagaimana? Sudah sadar apa masih belum?

Saya yakin, seburuk-buruknya orang jahat sekalipun, bodoh sekalipun, pasti ada saatnya berpikir sedikit benar. Maksudnya adalah setiaqp manusia punya hat nurani. Meskipun hanya setitik embun. Jika ada pada masanya seperti itu, berpikirlah, jangan ditinggalkan, ingat-ingat terus. Apa sih sekiranya yang bisa kita lakukan? Pasti ada kok hasrat atau passion jadi orang yang benar/sukses. Dari situlah, pupuk, tidak perlu mahal untuk bisa mewujudkannya, cukup dengan meluangkan waktu untuk membaca. Bacalah buku. Buku yang bermanfaat, bukan buku yang menimbulkan mudharat.
“Malas ah baca buku.”
“Gak suka.”
“Mata sepet.”
“Cepat bikin nagntuk.”
“Gak ngerti dengan isi tulisannya.”
“Buku-buku sekarang mahal.”
Oke Stop!
Saya juga pernah merasakannya dan mengalami hal semacam itu. Apa saya tetap bersikeras untuk membaca? Ya, tentu. Saya masih membaca sampai sekarang, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak baca satu hari saja rasanya aneh, seperti sudah kecanduan baca.
Efeknya membaca itu memang tidak langsung. Tapi, sangat bermanfaat untuk kemudian hari, kemudian hari itu bukan berarti harus bertahun-tahun, tidak kemudian itu bisa beberapa jam setelahnya atau keesokan harinya, pokoknya sangat bermanfaat.
“Oh, ini begini!”
“Saya pernah membaca buku mengenai…”
Ilmu membaca memang akan bermanfaat kelak, seperti saya yang sekarang sudah setahun lebih merasakan perubahannya dan sangat bermanfaat.

Lalu, bagaimana dengan harga buku yang mahal? Jangan jadikan itu alasan. Kalau saya atau anda niat ingin membaca, baca saja, tidak harus bersumber dari buku. Membaca bisa lewat internet dan koran. Bisa juga meminjam buku di perpustakaan atau pinjam ke saudara, tetangga, atau teman. (ingat jangan beli buku bajakan!)

Well, balik lagi ke topik awal bagaiman saya dulu juga tidak gemar membaca, tapi sekarang kacanduan membaca.

Ini berawal dari sebuah ketertarikan dan niat. Tidak usah buru-buru membaca buku-buku fiksi yang kandungan isinya berat. Mulai dengan bacaan sederhana saja. Buku cerita atau novel misalnya…

Biasanya orang-orang kita mudah terpengaruh atau lebih cepat menyerap ilmu kalau dari sebuah dongeng. Novel bisa menjadi alternatif bagus untuk memulai.

Waktu SD, saya sering membaca majalah BOBO. Menginjak SMP, saya baca noel, novelnya pun novel ringan, seperti Lupus kecil dan novel terjemahan anak-anak. Namun, setelah lulus SMp intensitas membaca saya semakin mengendur, di SMA, saya terbilang tidak membaca buku-buku seperti itu sama sekali. Minat membaca saya tumbuh baru setelah lulus SMA.

Saat itu, novel pertama yang saya baca lagi adalah novel bergenre K-iyagi alias Korea, karena saat itu memang sedang booming dan saya termasuk salah satu Kpopers. Dari sering membacanya, saya jadi banyak tahu istilah-istilah Korea, tahu bagaimana penggambaran tokoh, karakter, setting, dan lain sebagainya. Setiap habis dibaca, selalu terbayang-bayang dalam pikiran tentang jalan cerita novel tersebut, otak saya bermain, berimajinasi.
“Asyik ya, jadi si A dalam novel ini. penulis pintar sekali membuat tokoh A hidup. Latar Korea nya juga nyata, saya jadi pengin deh bisa kesana.”
Dari hal sederhana itu saya tergerak untuk berubah. Bangkit… bangkit.. sedikit… sedikit…

Dalam novel selanjutnya yang membuat saya terinspirasi adalah novel-novel ppuler yang inspiratif, diselipi genre romance membuat novel yang saya baca semakin menarik. Dari situlah saya tergugah, ternyata untuk mencapai cita-cita si tokoh mengalami jatuh bangun, kisah cintanya pun tidak mudah. Saya ingin menjadi seperti dia yang tegar dan ulet, kemudian bisa menggapai cita-citanya, passionnya. Dan akhirnya, dari banyaknya buku yang saya baca, gaya tulisan/bahasanya jadi mudah untuk dicerna. Saya jadi punya banyak kosakata baru.

Waktu itu saya pernah nekat membeli novel terjemahan langsung sepuluh buku (saat itu sedang diskon gede). Padahal novel lokal bacaan saya masih sedikit sekali dan terbilang tidak berbobot. Sampai akhirnya saya baca novel terjemahan untuk pertama kalinya, sudah keren dibawa-bawa, eh… baru halaman pertama saja saya tidak mengerti dengan tulisannya. LOL

Tulisannya terlalu berat (menurut saya waktu itu). hampir satu tahun saya tidak memgang novel itu karena saya membaca novel-novel lain alhamdulillah novel-novel yang saya punya seperti air disungai, mengalir terus menerus. Meski ada saatnya juga sih surut. XD

Setekah saya sudah cukup banyak membaca buku, kembalilah saya pada buku tersebut. Subhanallah, otak saya bisa menerima buku tersebut. Saya bisa mengerti dengan jelas isi kandungan novel tersebut. Percayakan bahwa bisa itu karena terbiasa…

Dari membaca pula saya jadi ahu passion saya. Tahu kan passion? Passion itu hasrat atau keinginan yang ada dalam diri kita yang ingin kita wujudkan dengan segenap hati tanpa takut untuk mencoba, dan dengan sepenuh hati menjalankannya.

Dari banyak membaca saya ingin bisa menulis buku sendiri. menulis apa yang selama ini belum saya temukan atau saya belum puas dengan buku-buku yang sudah saya baca. Saya ingin menelurkan ide, sharing dengan semua orang.

Dan…
Semakin dalam, semakin saya banyak membaca buku dan tahu akan dunia global dan bangsa kita tentunya.
Saya menjadi tertarik untuk mempelajari ekonomi globalisasi. Ekonomi yang pada dasarnya adalah ilmu yang selalu terpakai dan terus-menerus ada dalam kehidupan kita. Jadi, saya ingin sekali lebih jauh menegnal ekonomi globalisasi, meskipun sudah pernah dipelajari di bangku kuliah. Tapi, terus terang saya lebih berminat untuk mepelajarinya sendiri. mempelajarinya dari buku. Buku yang murni tentang ilmu ekonomi, bukan buku education yang menjual soal dan materi yang singkat dan kurang jelas.

Alhamdulillah saya bersyukur memilki hasrat seperti ini. dari buku yang saya baca saat SMA, perilaku kita dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Dari teori ini saya hanya bisa mengambil kesimpulan sesuai dengan fakta saya, lingkungan yang saya tempati, di rumah terutama di kampus, tidak ada yang hobi membaca. Saya juga sangat bersyukur karena tidak mudah terpengaruh dengan teman-teman di kampus atau di luar itu. saya punya line sendiri.

Lalu, faktor apa yang bisa membawa saya pada buku? Mindset saya sendiri, pola pikir saya dalam memandang atau melihat sesuatu. Apa yang saya tonton di tv, apa yang saya lihat di internet. Itu yang paling dominan yang membuat saya ke dalam perubahan positif. Pertama, dari tv yang saya tonton misalnya, berita, karena ayah saya yang suka menonton siaran berita. Kedua, internet (awalnya hanya ingin tahu mengenai artis korea) lalu menjalar ke hal-hal lain, seperti artikel-artikel yang memilki sisi positif.

Sekali lagi, perlu kebiasaan. Kebiasaan yanhg membuat saya bisa sadar dan mau berubah. Dan akhirnya bisa membawa saya menjadi cinta membaca.

Blog Buku Indonesia salah satunya yang membuat saya semakin cinta membaca dan mengenal dan melihat banyak orang yang sama-sama suka gemar membaca buku dengan genre yang beraneka ragam.

Mengenai ekonomi globalisasi sendiri, saya masih belum mendalami ilmunya, saya harus banyak membaca agar bisa sharing juga dengan anda semua dan tentunya bermanfaat untuk bangsa ini. Ikut membangun negeri bersama generasi muda lainnya.

Apa anda tertarik untuk duduk bersama generasi muda ini. ayo mulai dari sekarang Gerakan Indonesia Membaca!

Semoga semangat Kemerdekaan RI bisa melekat dalam diri untuk membangun negeri ini bersama-sama. Kalau nukan kita, siapa lagi?

HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA!

Tamu Kehormatan 12/08/2013

Di hari libur yang setelah lebaran berkumpul dengan keluarga adalah momen yang membahagiakan. Bapak, Ibu, abang, teteh, dan ponakanku yang unyu masih berusia tiga belas bulan—memberikan keceriaan tersendiri bagi dalam keluargaku.
Benar kata lagu keluarga cemara, istana yang paling indah adalah keluarga. Dengan stay di rumah saja rasanya sperti surga. Namun, tentu saja aku berharap kami sekeluarga bisa menikmati liburan di luar rumah, pasti akan lebih menyenangkan dengan suasana baru.

Menjelang senja, suara shalawat, kemudian disusul adzan maghrib berkumandang. Aku beserta keluarga dikejutkan oleh kedatangan saudara dari Balaraja. Namanya Engkus. Dia sepupuku. Usianya lebih tua dari abangku, meskipun terpaut sangat jauh tapi mereka berdua cukup akrab.

Saat itu aku sedang mengambil air wudhu, abangku juga tidak ada di rumah−sedang keluar. Terdengar olehku yang menyambut di depan rumah adalah kedua orangtuaku dan teteh.

Setelah selesai shalat maghrib, aku terkejut karena sepupuku itu tidak sendirian, tetapi dia datang bersama teman-temannya sebanyak sebelas orang. Wow

Tak ada kabar apa-apa seblelumnya kalau sepukuku itu mau datang. Rumah pun seperti dihantam meteor saja. Rumah mendadak jadi ramai, apalagi dengan vespa yang terparkir di depan rumah. Sepupuku bersama teman-temannya berkonvoi memakai itu. wah…wah

Yang paling sibuk adalah ibuku, beliau jadi koki dadakan, memasak nasi dan lauknya dalam porsi besar hanya dalam waktu singkat, dibantu olehku sedikit-sedikit. hee

Syukurlah abangku sudah pulang, jadi kang Engkus dan kawan-kawan pun punya teman untuk mengobrol, masalah anak muda xoxo

Tepat pukul delapan sepupuku pamit untuk pulang. Loh… ku kira mereka akan menginap sampai besok baru melanjutkan perjalanan, ternyata tidak. Mendengar ceritanya memang target sudah ditentukan, mulai dari lokasi hingga waktu. Start dari Balaraja lalu berputar lewat Bandung, kemudian ke Tasikmalaya untuk ziarah di Pamijahan, baru ke Kuningan (rumahku di Caracas), setelah itu ke Cirebon untuk ziarah di sunan gunung jati. Mereka menargetkan ingin sampai Tanggerang pukul tiga dini hari.
Wah wah… apa mereka tidak capek ya? mungkin sudah terbiasa, berkonvoi untuk keliling kota ya..
Bayangkan saja lama perjalanan menggunakan vespa itu hingga kemari terhitung hampir tiga hari. Mungkin karena kondisi macet juga karena arus mudik.

Sungguh luar biasa ya… travelling yang unik dan merkayat sekali. Tidak perlu bermewah-mewah dengan mobil bagus atau naik pesawat terbang. Bermodalkan vespa saja bisa sampai tujuan, yang penting dengan selamat dan tujuannya baik. Alhamdulillah…

Sebelum pulang kita berfoto-foto dulu *sayangnya ada di kamera SLR abang, belum sempat dipindahkan ke pc*